Etika di Path

Sebagai pengguna social media, biasanya saya berusaha jadi pengguna social media yang baik. Nggak cuma di dunia nyata, di dunia maya pun pertemanan punya etika dan rambu-rambu yang harus dipatuhi. Kali ini mau bahas soal Path.

Masih inget kasus seorang perempuan yang ngeluh di Path soal kota Jogja, kemudian di-screen capture oleh temannya dan disebar di dunia maya? Kejadiannya jadi panjang sampai si perempuan dimasukin penjara, kemudian dikeluarkan lagi, dan harus minta maaf ke seluruh warga Jogja melalui Sultan, plus di-bully satu Jogja. Kasihan, ya.😦

Kalau dipikir-pikir berapa banyak kita yang pernah marah di social media, saya yakin semua orang pada masanya pernah marah atau setidaknya mengeluh di social media. Seberapa banyak dari kita yang ngeluh plus ngamuk pas Jakarta macetnya nggak kelar-kelar ditambah banjir tak berkesudahan, belum lagi cuaca yang panas berasa di gurun pasir. Buanyaaak banget (kadang-kadang eike salah satunya). Apalagi akhir-akhir ini Bekasi yang jadi korban ledekan anak sosmed. Eh, tapi belum sampe ada yang ditangkap kan, ya. Jangan sampe, deh.

Nah, balik ke soal Path. Path itu diciptakan untuk social media yang lebih private alias tadinya sih cuma dibikin untuk lingkaran pertemanan yang 150 orang (entah kenapa sekarang jadi sampe 500. HIH!). Jadi apapun yang terjadi di dalam Path ya cuma si 150 orang terpilih ini yang boleh tahu. Yang lainnya nggak boleh tahu. Beda sama twitter dan Facebook yang kalau nggak di-lock, semua orang bisa buka profile-nya. Bahkan kalau di twitter lebih banyak lagi yang berinteraksi dan saling menyambar karena emang ditujukan untuk cuit-cuit didengar banyak orang.

Oleh karena itu, saya sangat selektif memilih teman Path. Sampe sekarang aja teman Path saya nggak ada 150 orang. Pokoknya kalau dirasa dekat baru diapprove. Nah, tapi ada masanya saya suka nggak enak kalau nggak approve orang karena mereka di dunia nyata sampe nyamperin saya dan bilang, “Kok Path gue belum di-approve, sih?”. Hiks, padahal nggak dekat-dekat banget. Jadi karena merasa nggak enak hati saya approve, deh. Ini kejadian di beberapa teman kantor yang ketemu juga jarang, cuma kenal aja.

Saya termasuk orang yang jaraaaang banget marah di sosmed, apalagi urusan pekerjaan. Kayaknya males aja ngomonginnya. Sampai suatu hari kekesalan udah di ubun-ubun karena suatu pekerjaan jadi kacau balau, sudah diperingatkan sebelumnya ke teman-teman kantor yang berhubungan tapi tidak diindahkan. Plus, kondisi yang lagi hamil bikin makin ngos-ngosan karena harus naik turun tangga, ngajar, jaga beberapa kelas. I was very angry at that time. Kok nggak mau dengerin sih kemarin-kemarin? Kalau ada apa-apa sama kandungan saya gimana? So, I wrote on Path with fully awareness that there were my office mates over there.

Nggak sampe berjam-jam kemudian, orang yang bertanggung jawab mengatur jadwal kacau balau tersebut add Path saya, yang tentu saja nggak saya approve lah. Karena mungkin nggak saya approve, dia kasih tahu ke atasan saya. Untungnya atasan saya tahu kalau emang jadwal yang kemarin disusun itu hampir nggak mungkin dijalankan dengan benar dan dia sebenarnya udah minta untuk diubah sistemnya. Lagi-lagi nggak didengarkan. Dia pun sempat kesal. Jadi dia ngerti banget kalau waktu saya marah.

Dari situ saya menyadari, ada teman-teman Path saya yang ngadu. Tentu saja saya marah karena Path kan media private. Dari situ saya unshare semua teman Path yang tidak satu divisi dengan saya karena toh nggak dekat. Saya tahu sih beberapa di antaranya nggak salah, bahkan cukup baik dengan saya. Tapi daripada nuduh satu per satu, lebih adil kalau semuanya aja di-unshare. Kita kan bisa temenan aja di dunia nyata.

Mulai dari situ saya belajar, Path emang buat teman-teman dekat aja dan saya harus berani nggak untuk orang-orang yang nggak dekat tapi minta di-approve. Habis itu saya langsung bersih-bersih Path saya dari orang-orang yang nggak terlalu saya kenal. Bye-bye! Mendingan punya teman dikit tapi asik, daripada banyak teman di Path tapi nggak tahu etika di social media.

Sudahkah kamu belajar beretika di dunia maya?πŸ™‚

5 thoughts on “Etika di Path

  1. ihhhh, kak… kok aku sedih ya bacanya? Yang ngadu2 itu suka ikut campur urusan orang banget ya, tapi kembali lagi sih kak, itu konsekuensi curhat di sosmed, kita yang harus bijak memilih teman di sosmed. Semangat kak naomiπŸ™‚

    • Iyaa, pasti ada kemungkinan tersebar sih. Tapi cukup kaget karena aku pikir teman di Path cukup dewasa. Hikmahnya, bersih-bersih teman di Path deh sekarang. Lebih dekat, lebih baik.πŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s