Kabinet Kerja

Sejak pelantikan Presiden dan Wapres baru, setiap bangun tidur pagi saya selalu cek twitter dan nanya ke suami, “Menteri udah diumumkan belum?” Every single day. Saya penasaran banget dengan menteri-menteri baru yang disinyalir banyakan kalangan profesionalnya dibandingkan kalangan partai. Secercah harapan muncul karena sebelumnya harus sering elus dada dengan kelakuan bodoh dari Tiffie dan Roy Sayur. Masih inget jelas pertanyaan ‘hebat’ Menkominfo kita, “Internet cepat buat apa tweeps?” *matik*

Sampai akhirnya di hari Sabtu akhirnya diberi kejelasan kalau hari Minggu jam 16.00 akan diumumkan siapa menteri yang dipilih Pak Jokowi. Horeee, nggak sabar!

Sebelum jam empat sore, saya udah buka tv dan menanti pengumuman sambil buka twitter. Dari beberapa hari yang lalu sempat muncul nama-nama menteri yang akan tampil. Salah satunya, Wiranto. Errr, haruskah? Tapi ya udah diam aja, toh belum resmi diumumkan. Belum lagi kehebohan bahwa ada 8 menteri yang tersandung label merah dan kuning dari KPK. Sebenarnya sangat lega Pak Jokowi melibatkan KPK dan PPAT dalam men-screening menterinya. Setidaknya kita bisa bernapas lega bahwa para menterinya bersih dari tindakan korupsi. Ya, kalau nantinya seiring berjalannya waktu mereka korupsi kita juga nggak bisa menjamin. Tapi setidaknya ada usaha untuk kabinet yang bersih.

Oh ya, disinyalir nama kabinetnya Kabinet Trisakti. Saya langsung protes ke suami, “Kenapa sih nama kabinetnya Kabinet Trisakti? Kenapa nggak Atma Jaya atau kampus yang lain?” Eaaaa, kompetisi antar kampus jadinya. Sementara si suami senyum-senyum karena nama kampusnya jadi nama kabinet.

Sampailah ke jam 4 sore di mana pengumuman diundur jadi jam 5 sore. HAIYAAAAH, apa pulak ini pake diundur. Saya yang tadinya mau pergi jadi nggak jadi karena menteri belum diumumin. Penting yaa. Hahaha. Ketika jam 5 sore pun, pake telat! Dear Pak Jokowi, telat itu jangan dijadikan budaya, lho. GENGGES banget soalnya (*anaknya sebel kalo ada yang suka telat*). Tepat jam 17.16, kabinet diumumkan.

Catatan pertama adalah nama kabinetnya Kabinet Kerja. Horeeee, kampus-kampus nggak jadi saingan karena nggak ada yang dianak tirikan. Hihihi. Anyway, nama Kabinet Kerja adalah nama sederhana yang cukup merepresentasikan harapan Jokowi ke depannya. Senang karena dititikberatkan pada kerja.

Jokowi ternyata suka bikin acara yang pake dress code. Hari itu dress code-nya adalah kemeja putih dan celana hitam. Macam trainee! Hahaha. Tapi nggak papa, mungkin biar berkesan sederhana. Yang paling menyenangkan adalah para menterinya dipanggil satu persatu ke depan dan disuruh lari. Hahaha, kebayang dong Jokowi suka yang cepat. Mungkin kalau kerjanya nggak benar nanti disuruh lari keliling istana negara.

Ini adalah susunan menteri Kabinet Kerja:

Presiden RI : Joko Widodo
Wakil Presiden RI : M Jusuf Kalla

1. Menteri Sekretaris Negara : Pratikno
2. Menteri Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago

3. Menko Bidang Kemaritiman : Indroyono Soesilo
4. Menteri Perhubungan : Ignasius Jonan
5. Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti
6. Menteri Pariwisata : Arief Yahya
7. Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral: Sudirman Said

8. Menko Bidang Polhukam : Tedjo Edy Purdijatno
9. Menteri Dalam Negeri : Tjahjo Kumolo
10. Menteri Luar Negeri : Retno Lestari Priansari Marsudi
11. Menteri Pertahanan : Ryamizard Ryacudu
12. Menteri Hukum dan HAM : Yasonna H Laoly
13. Menteri Komunikasi dan Informatika: Rudiantara
14. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Yuddy Chrisnandi

15. Menko Bidang Perekonomian: Sofjan Djalil
16. Menteri Keuangan : Bambang Brodjonegoro
17. Menteri BUMN : Rini M Soemarno
18. Menteri Koperasi dan UMKM: Anak Agung Gde Ngurah Puspayoga
19. Menteri Perindustrian : M Saleh Husin
20. Menteri Perdagangan : Rachmat Gobel
21. Menteri Pertanian : Amran Sulaiman
22. Menteri Ketenagakerjaan : Hanif Dhakiri
23. Menteri PU dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadi Muljono
24. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya
25. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN: Ferry Mursyidan Baldan

26. Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani
27. Menteri Agama : Lukman Hakim Saefuddin
28. Menteri Kesehatan : Nilla F. Moeloek
29. Menteri Sosial : Khofifah Indar Parawansa
30. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Yohanan Yambise
31. Menteri Kebudayaan dan Pedidikan Dasar dan Menengah: Anies Baswedan
32. Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi : M Nasir
33. Menteri Pemuda dan Olahraga: Imam Nahrawi
34. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Marwan Ja’far

Surprisingly, yang tadinya dibilang 18 menteri dari kalangan profesional dan 16 menteri dari kalangan politik, pas diumumkan malah lebih banyak profesionalnya: 21 menteri dari kalangan profesional dan 13 menteri dari kalangan politik. Menjanjikan banget ya karena para menterinya tahu apa yang harus dikerjakan di bidangnya. Berita baik lainnya, nggak ada Wiranto dan Mauarar Sirait. Yeay!

Walaupun banyak yang nggak saya kenal dari nama menterinya (ehm, ya itu karena saya emang nggak banyak baca jadi nggak tahu sepak terjang mereka), tapi sepertinya menjanjikan. Menteri yang bikin saya senang adalah Anies Baswedan untuk Menteri Pendidikan. Saya concern banget dengan soal pendidikan. Buat saya pendidikan yang baik menghasilkan kualitas orang yang baik sehingga negara pun jadi lebih baik. Pendidikan ini bukan cuma soal akademis, tapi juga pendidikan moral, ya. Soalnya kita tahu kan banyak anggota DPR yang pendidikannya hebat tapi moralnya tiarap. Sepanjang yang saya tahu, Pak Anies punya rekam jejak yang baik di bidang pendidikan dan pencetus gerakan Indonesia Mengajar. Beberapa waktu yang lalu saya sempat ketemu beliau (ehm, nggak lupa foto bareng tentunya) dan mendengar pemikirannya. Saya suka dengan cara berpikirnya yang logis, santun, dan tenang. Saya percaya pendidikan bisa lebih baik di tangan beliau *crossing fingers*.

Setelah googling tentang rekam jejak para menteri, saya tertarik dengan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti. Secara akademis beliau cuma lulusan SMP, bukan karena nggak mampu sekolah ya, tapi karena nggak suka sistem sekolah. Kalau ada yang membenarkan bahwa lulusan SMP aja jadi menteri dan akhirnya jadi males sekolah, well hey, lihat dong Ibu Susi ini dari drop out sekolah di kelas 2 SMA benar-benar banting tulang untuk bekerja. Sampai akhirnya dia punya perusahaan di bidang perikanan dan perusahaan penerbangan Susi Air yang menjangkau daerah pedalaman. Dia bukan habis drop out sekolah, leha-leha minta uang orang tua, tapi ya emang nggak berhenti kerja keras sampai bisa jadi seperti sekarang. Anyway, dia pun cuek aja merokok di depan wartawan dan kakinya bertato. Hehehe! Banyak yang mempersoalkan hal ini, tapi buat saya bodo amat dia merokok dan bertato, toh pada akhirnya kinerjanya yang akan dinilai. Oh ya, dia pun sudah melepas semua jabatannya di perusahan miliknya demi jadi menteri. Kece, Bu!

Selain itu, saya juga suka dengan pilihan Bapak Rudiantara sebagai Menkominfo. Akhirnya 5 tahun kebodohan Tiffie akan digantikan oleh orang yang benar-benar mengerti bidangnya. Bapak Rudiantara ini udah malang melintang di bidang telekomunikasi, bahkan salah satu pencetus jaringan internet sampai ke pelosok pedalaman. Jadi ya, ke depannya nggak akan kita dengar pertanyaan, “Internet cepat buat apa, tweeps?” *gedeg*

Mungkin kalau dicari kurangnya ya pasti ada aja, seperti misalnya Puan Maharani masuk ke jajaran menteri. Mungkin titipan Ibu Suri. Tapi udah lah ya bok, nggak mungkin lah bebas dari hal berbau politik. Toh, Jokowi berhasil jadi presiden lewat kendaraan partai politik juga. Jadi bisa dimaklumi kalau ada orang-orang PDIP yang masuk. Sekarang tinggal buktikan kata Puan Maharani aja, “Lihat saya kerja nanti, dong”. Oke deh, kakak!

Apakah saya cukup puas dengan kabinet kerja ini? Cukuplah. Setidaknya Pak Jokowi sudah mengerjakan PR-nya untuk mencari menteri yang sesuai bidangnya. Soal kenal nggak kenal, mari kita berusaha kenal, dong.πŸ˜‰ Tinggal sekarang kawal kinerja mereka dan sebagai rakyat pun kita juga harus berpartisipasi, bukan cuma kritik sana sini dengan omong kosong.

Selamat bekerja para Bapak dan Ibu! We’ll watch you.πŸ™‚

2 thoughts on “Kabinet Kerja

  1. waktu nama Pak Anis Baswedan dipanggil, aku langsung dong teriak2 sambil tepuk tangan “horeeeeeeeeeeee” hahahaha…. *kayak anak TK dengar bel pulang*. Senang juga ada Ignasius Jonan, lainnya aq gak kenalπŸ˜€ Tp tetap sedikit kecewa karna ada Puan Maharani, tp seperti kak naomi bilang, Pak Jokowi tetap butuh kendaraan politik, jd kita doakan saja mudah2an tante (*ceileh) Puan bisa bekerja dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s