Balada Pengamen, Eh Penyanyi

Cerita ini masih berasa dari Bakmi Siantar Rawamangun. Biasanya di sana ada orang yang suka nyanyi. Paling banyak 3 orang, deh. Ada yang nyanyi, main gitar, atau kadang-kadang main alat musik yang lain. Biasanya mereka nyanyi lagu Batak, tapi nggak tertutup lagu bahasa lainnya, karena sebagian besar pengunjung orang Batak. Di depan mereka biasanya udah ada kotak untuk menaruh uang. Jadi kalau orang mau pulang bisa langsung kasih sumbangan ke kotak itu. Atau kadang-kadang setelah beberapa lagu selesai, mereka akan muterin seluruh meja sambil menyodorkan kotak tersebut. Semacam pengamen tapi lebih keren performanya aj.

Karena ruangan Bakmi Siantar Rawamangun ini nggak besar dan ber-AC jadi seringnya pintunya ditutup. Kalau mereka nyanyi suaranya menggema ke mana-mana dan kalau orang mau ngobrol ya harus teriak-teriak. Hari itu di restoran yang penuh sesak tumben banget nggak ada yang nyanyi. Saya pun tersenyum lega sambil bilang ke suami, “Senangnya hari ini nggak ada yang nyanyi. Kalau ngobrol bisa santai, deh”. Saya pikir karena rame banget jadi mereka nggak ada.

Jangan senang dulu. Nggak berapa lama kemudian ketika lagi makan, terdengarlah suara sang penyanyi. Datang juga mereka! Cuma kali ini biasa-biasa aja dengarnya. Selain karena lagu yang dibawakan bagus, kita berdua fokusnya ke makanan saking laparnya dan harus buru-buru karena banyak yang lagi antri juga untuk makan.

Eh, tiba-tiba si suami yang udah selesai makan grasak-grusuk ngeluarin dompetnya. Dia pun mencari uang kecil dan recehan.

“Kamu ngapain?” tanya saya.

“Ini mau kasih buat pengamen itu”. suami masih sibuk cari-cari uang.

“Kamu mau kasih recehan? Dia kan bukan pengamen.”

“Hah, emang dia apa?”

“Semacam home band gitu lah.”

“Yah, aku cuma ada recehan Rp 2.000”

“Yah, jangan kasih segitu. Nanti kita disinisin. Minimal tuh kasihnya Rp 5.000. Bahkan kalau kita request lagu bisa sampe Rp 20.000, lho.”

“Hah? Kamu punya uang Rp 5.000 nggak?”

“Nggak ada, nih.”

Akhirnya dia bingung sendiri gimana kasih uang ke abang penyanyi. Saya udah mau ngikik aja.

“Daripada kasih Rp 2.000 mendingan nggak usah kasih aja lah. Toh kan bukan pemaksaan. Iya sih, tapi nggak enak.”

Haduh, suami rempong banget! Akhirnya saya suruh dia bayar makanan ke kasir depan dan nanti kembaliannya kasih aja buat yang nyanyi. Karena kasir ada di luar ruangan tempat makan yang harus melalui si penyanyi jadi dia jalannya nggak enak gitu karena disangka nggak mau kasih. Hahaha! Untungnya setelah bayar dia kembali masuk dan memberi uang Rp 10.000 ke si penyanyi. Hore, nggak jadi disinisin, deh!

Jadi sodara-sodara, kalau lagi makan ke tempat Bakmi Siantar atau Lapo coba siapin uang kecil untuk kasih ke penyanyi, ya. Nggak wajib harus kasih, sih. Tapi kalau orangnya nggak enakan kayak suami saya, ya mendingan disiapin. Hihihi.πŸ˜€πŸ˜€

2 thoughts on “Balada Pengamen, Eh Penyanyi

  1. sering ketemu penyanyi band kecil gitu kalau lagi makan di resto keluarga, lumayan menghibur dan bagus yah dari segi suara dan penampilannyaπŸ™‚
    biasa sih jarang kasih uang, karna mereka memang udah dibayar oleh pemilik resto utk menghibur yg makan disana.. kalau yg ga dibayar sama resto, baru deh ngomong terang2an kalau mereka minta uang heheπŸ˜€

  2. aku suka kak dengar mereka nyanyi, suaranya bagusπŸ˜€
    aku juga gak tega ngasih mereka recehan, selain karna sesama batak, juga mereka bisa nyanyi kok gak sekedar goyang2 aqua berisi batuπŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s