Nomor 2

Pemilu tepat satu bulan lagi. Buat saya ini pemilu paling mendebarkan, sekaligus pemilu paling gampang buat saya. Kenapa? Karena saya udah tau mau pilih siapa dari awal dan nggak ada keraguan sedikit pun untuk pilih satunya lagi. Bukan karena mengidolakan salah satu pihak sampe nggak mau lihat yang lain, tapi karena saya nggak mau mengalami apa yang pernah saya alami tahun 1998.

13 Mei 1998, saya (untungnya) lagi libur sekolah karena anak kelas 3 SMP sedang UAN (apa ya namanya dulu?). Sekolah saya dulu di Bunda Hati Kudus yang terletak di Grogol Jakarta Barat. Hari itu dimulai dengan biasa saja. Saya bangun siang karena libur, lalu leyeh-leyeh di depan TV. Adik-adik saya pun libur, Mama di rumah. Satu-satunya yang berkegiatan di luar rumah hari itu cuma Bapak. Dia harus pergi ke kantor di bilangan Senayan. Seperti biasa, Bapak bawa mobil ke kantor.

Sekitar siang hari, situasi Jakarta mulai memanans. Demo mahasiswa di Trisakti pun kacau. Polisi/tentara lawan mahasiswa. Kemudian kerusuhan pun mulai terjadi seiring dengan ditembaknya beberapa mahasiswa Trisakti hingga meninggal. Kerusuhan pecah di mana-mana. Rakyat yang selama ini marah turun ke jalan mengamuk dan menjarah toko-toko dan supermarket. Rasa-rasanya saat itu saya yang melihat dari TV merasa tidak kenal lagi dengan situasi Jakarta. Isu pun mulai berkembang sehingga suku Cina dan agama Kristen/Katolik menjadi sasaran empuk. Entah sudah berapa banyak warga Chinese yang diperkosa dan kasusnya masih belum selesai sampai sekarang.

Saya, adik-adik, dan Mama yang melihat dari TV ketakutan sekali. Bapak menghubungi dari kantor dan mengatakan situasi di Senayan sudah gawat. Dia akan berusaha pulang bersama teman-temannya, tapi harus meninggalkan mobil di kantor. Bapak nggak berani jalan sendirian karena sebagai orang yang beragama Kristen, dia akan menjadi sasaran empuk penjarah yang ngamuk. Waktu itu belum marak HP, jadi satu-satunya kontak yang terjadi ya siang hari sebelum Bapak pulang. Selama perjalanan Bapak pulang, kita hanya menunggu dengan cemas sambil memantau keadaan lewat TV.

Trisakti itu dekat sekali dengan sekolah saya. Jadi kalau hari itu saya masuk sekolah, saya nggak tau gimana pulangnya. Belum lagi sekolah saya adalah sekolah Katolik yang mayoritas siswanya beragama non-Muslim. Bayangin bahwa saat itu sekolah saya akan jadi sasaran empuk bagi para orang jahat yang tampak kerasukan saat itu.

Dari lantai 2 rumah saya, saya melihat warga-warga sekitar berlalu lalang, membawa banyak barang dari hasil jarahan mereka di Makro, dekat rumah. Mereka bangga sekali menunjukkannya pada kami sambil mengajak kami melakukannya juga. Tentu saja kami tidak melakukannya dan hanya diam di rumah. Beberapa tetangga mulai menuliskan di depan rumahnya tulisan: orang Pribumi asli – Islam. Seakaan-akan menjadi berbeda adalah hal yang haram saat itu. Sempat terpikir oleh Mama menuliskan hal yang sama. Benar, kami orang pribumi, tapi kami bukan Muslim. Lalu Mama memutuskan untuk tidak melakukannya karena untuk apa menjual agama demi sesuatu yang duniawi? Jadi ya kami akui, kami pribumi asli, tapi Kristen.

Setelah menunggu lama dengan kecemasan yang luar biasa, menjelang malam, Bapak tiba di rumah dengan jalan kaki entah dari mana setelah turun dari mobil temannya. Bapak langsung menciumi kami satu-satu karena lega sudah bisa tiba di rumah dengan selamat. Ia menceritakan bagaimana mobil dihentikan dan dilihat apakah di dalamnya ada orang Chinese. Hampir saja mereka harus turun karena warga akan membakar mobil mereka. Entah apa yang membuat mereka selamat.

Hari-hari berikutnya, walaupun tidak ada kerusuhan lagi, tapi teror masih berlangsung. Beberapa kali karyawan harus dipulangkan karena ada isu kantor akan dibom. Mengerikan!

Kejadian itu sudah berlangsung lama sekali dan saya mempelajari bahwa salah satu dalangnya adalah Prabowo. Iya, salah satu capres di Pemilu kali ini. Dia merupakan salah satu tentara yang dipecat dari TNI karena melakukan penculikan terhadap rakyat sipil dan melakukan pelanggaran HAM. Buat saya itu adalah alasan yang kuat untuk tidak memilih beliau. Saya masih ingat bagaimana ketakutannya saya saat 1998 menunggu Bapak pulang. Saya tidak ingin mengulanginya lagi. Tidak sama sekali. Dan saya tau, saya dan kamu, bisa mencegah hal itu untuk tidak terjadi.

Saya ingat Pemilu 5 tahun lalu, saat Prabowo maju sebagai cawapres dengan Mega sebagai capres. Saya ingat, Prabowo pernah datang ke gereja saya untuk berkampanya (entah kenapa gereja membiarkannya, karena gereja kan bukan tempat kampanye). Waktu itu Prabowo menekankan bahwa asistennya berasal dari Ambon dan beragama Kristen, supaya kami para jemaat tertarik dengan beliau. Saat itu juga, memori tentang 1998 kembali muncul dan tidak etis rasanya bawa-bawa agama untuk kampanye. Kalaupun Prabowo beragama Kristen dan bersuku Batak pun tidak akan saya pilih dia karena riwatnya tidak baik. Lima tahun yang lalu, saya tidak pilih Mega-Pro dan memilih lawannya (yang walaupun sekarang banyakan ngeluh tapi setidaknya tidak ada isu penculikan, pembungkaman, atau pelanggaran HAM).

Jadi Pemilu kali ini cukup mudah buat saya. Saya pilih nomor 2: Jokowi-JK. Bukan karena saya ngefans banget sama beliau (well, saya agak kurang puas dengan JK sebenarnya, tapi ya sudahlah), tapi karena saya nggak pengen Prabowo-Hatta maju memimpin negeri ini dan mengembalikan kami ke tahun 1998 lagi. Buat saya, Jokowi cukup mempunyai track record yang bersih dan saya cukup puas dengan kepemimpinannya di Jakarta. Setidaknya, tidak ada dosa masa lalu yang dibawa dan menjadi beban buat beliau.

Sebaliknya, Prabowo punya dosa masa lalu yang tidak terselesaikan sampai detik ini, diikuti dengan Hatta yang entah gimana caranya mampu membeli hukum dengan membuat anaknya yang menabrak orang sampai meninggal bebas berkeliaran di mana-mana. Saya nggak yakin orang-orang seperti ini yang akan saya ijinkan untuk memimpin Indonesia. Belum lagi duo ini didukung oleh ARB yang kasus Lapindonya sampai sekarang juga belum jelas. Kamu mau dipimpin orang-orang seperti itu?

Kalau buat saya pilihannya jelas, pilih nomor 2: Jokowi-JK.

Nonton FHT tiap weekend sih nomor 1, presidennya ya nomor 2. (I grabbed this pic from google)

Nonton FHT tiap weekend sih nomor 1, presidennya ya nomor 2.
(I grabbed this pic from google)

PS: Ini tulisan pribadi tanpa dibayar siapa pun. Nggak perlu dibayar juga untuk dukung pasangan nomor 2 karena saya akan dengan senang hati melakukannya.

5 thoughts on “Nomor 2

  1. Waktu itu aku kls 2 SMA apa masih kls 1 gitu ya. Liat beritanya di TV. Kerusuhan dr kota ke kota gitu. Alhamdulillah Surabaya ga kesusupan perusuh. Serem ih. Papahku jg kerja di Jkt kan. Dan tinggalnya gak jauh dr slh satu supermarket yg jadi korban kerusuhan.

  2. kalo aku….salah satu alasan kenapa aku dukung jokowi karena dia menekankan ga akan bagi2 kursi, makanya banyak partai yg berbondong lari ke prabowo… malah ada yg dijanjiin jadi perdana menteri segala…

    waktu 98 itu gereja omaku termasuk salah satu yg dibakar… untung waktu itu oma lagi ga ada di gereja… mudah2an kejadian kayak gitu ga terulang lagi ya…

    btw, salam kenal jugaπŸ™‚

    • Hai Melissa. Semoga nggak akan kejadian lagi kayak 1998 ya. Ngeri banget kalau inget itu.😦 Jokowi nggak sempurna juga sih dan mungkin nggak akan membuat Indonesia lebih baik dalam sekejap, tapi setidaknya dia nggak punya track record yang buruk kayak Prabowo. Serem. *masih trauma, bok*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s