Menjelajah Pulau Pari

Hey, I’m back from a short vacation (again)! Jadi liburan singkat ini direncanakan juga dalam waktu yang singkat. Kebetulan Yuan, mantan teman sekantor saya, whatsapp ngajak liburan. Kemudian saya ajak teman-teman sedivisi, yaitu Citra, Edel, dan tambahannya Mia, beda divisi. Tadinya mau ke Bandung, tapi bosen. Eh, kepikiran gimana kalau ke Pulau Seribu aja. Dekat, nggak mahal, dan lautnya bagus. Sip, bungkus! Kurang dari sebulan cari travel agent, cari tanggal yang kebetulan ada long weekend di akhir bulan, bayar DP, dan….. berangkat. Cepat, ya.πŸ˜€

Drama dimulai di hari keberangkatan. Karena mikirnya Muara Angke, tempat janjian ngumpul, dekat dari rumah dan hari itu Minggu jadi santai aja. Janjian jam 6 di sana, berangkat dari rumah jam 5.30. Santai kayak di pantai, kan ada tol yang langsung keluar Pluit.

Awalnya sih semua sesuai rencana. Jakarta lancar banget. Eh, tapi justru mendekati Muara Angke macet masyaampun! Nggak bergerak. Ini ada apa, sih? Di situ ada kayaknya 30 menit. Mulailah di mobil saya senewen. Kapal kan berangkat jam 7. Bagaimana iniih? Suami nyuruh saya jalan kaki aja. Soalnya teman saya, Citra, udah nyerah ngantri, dia jalan kaki ke pom bensin Muara Angke, tempat kita ketemuan. Aduh, masalahnya saya nggak tahu di mana itu pom bensin. Mana udah gaya pake celana super pendek kan agak malu ya jalan kaki pinggir jalan. Hahaha!

Akhirnya karena udah nggak sanggup lagi sama macetnya, si suami putar balik parkir mobil dan nemenin saya jalan kaki. Bener aja, semua orang yang mau ke sana juga jalan kaki karena lalu lintas nggak bergerak. Yang paling yahud adalah jalanan becek jadi kaki saya penuh cipratan air. Belum lagi suasana pasar ikan yang asoy baunya. Pas udah kelihatan pom bensinnya, jalan ke sana banjir. Haduh, gimana ini? Tiba-tiba di depan mata ada becak motor yang lagi ngetem dan langsung naik aja. Nggak nanya dulu dia mau ke mana. Percaya aja, soalnya tampaknya yang lain juga naik itu. Di tengah bentor baru sibuk kasak-kusuk sama abangnya nanya ini ke pom bensin nggak. Udah gitu, kasak-kusuk ke penumpang lainnya ini bayar berapa. Belom lagi bawaan saya yang super rempong, satu tas backpack, satu tas jinjing, satu tripod, dan satu kamera. Ribet!πŸ˜›

Sampai di pom bensin udah penuh dengan lautan manusia. Beneran penuh banget sama manusia, karena ini long weekend, yang berdesak-desakan sampe jalan kaki aja bisa macet. Yasalam! Untuk nyari orang susahnya minta ampun.

Di pom bensin udah ketemu Edel yang sibuk koordinir sana-sini. Citra entah terdampar di mana, Yuan yang salah masuk tol, dan Mia yang belum bangun. Emang ya, nggak asik kalau nggak nggak ada dramanya. Sementara saya kebelet pipis, saya langsung ke wc yang antriannya udah kayak antrian waktu H&M buka di Jakarta. Panjang banget! Pilihannya sabar aja ngantri panjang banget atau nggak usah pipis tapi tahan 2 jam sampe ke Pulau Pari. Ih, daripada darah tinggi di kapal mending antri ke WC, deh. Pas udah mau dekat baru deh orang-orang yang antri di depan kasak-kusuk bilang aduh nggak ada air, bau banget. Mamak, cobaan apa lagi ini? Keukeuh tetap antri soalnya kebelet. Sebelum masuk, saya tutup hidung pake tisue dan masuk ke wc dengan tutup mata supaya nggak jijay. Pas tau nggak ada air, saya nggak cek lagi, deh. Cobaan berat banget ini. Begitu selesai, PLONG! Langsung menyingkir dari WC aja, deh. Hihihi.

Begitu semuanya ngumpul, kita diarahin sama tour guide ke kapal. Antriannya gilak banget dengan kondisi jalanan becek. Untung banget pake sendal jepit. Jorok juga gpp, deh. Udah antriannya panjang banget, udaranya panas, ditambah bau amis ikan-ikan. Komplit! Naik ke kapalnya pun susah karena harus manjat tembok dan lompatin satu kapal lain. Sampai di kapal pun modelnya macam kapal nelayan besar di mana kita duduk lesehan aja di bawah. Petualangan macam di film, deh. Tapi karena bareng orang-orang yang menyenangkan, berasanya jadi seru dan malah bikin happy. Semacam pengalaman baru.πŸ˜€

Di kapal langsung minum antimo biar bisa blas tidur dan nggak mabok laut. Bener aja begitu kapalnya berangkat, saya dan teman-teman udah kayak langsung dibius. Tidur nyenyak. Sekitar 1,5 jam kemudian kita sampe di Pulau Pari. Karena nyampenya pas jam 9.30-an, mataharinya lagi terik dan yang kita pengenin cuma AC. Anak kota banget, sih! :)))

Di Pulau Pari, kita akan ditemani oleh Mas Saman, tour guide kita yang baik dan tepat waktu banget. Dia nganterin kita ke tempat home stay di rumah penduduk. Well, home stay-nya bukan yang bagus banget tapi udah ber-AC dan kamar mandi bersih jadi yang cukuplah. Istirahat sebentar, dikasih makan siang, dan disuruh siap-siap karena mau snorkeling. Horeee!

Snorkeling dilakukan jam 2 siang tengah bolong. Ya habes, biar terumbu karang dan ikan-ikannya kelihatan jelas, kan. Tadinya sih kita ogah snorkeling siang karena takut kulitnya hitam, tapi Mas Saman bilang nanti nggak sempat ngapa-ngapain, lho. Oh, baiklah nurut aja.

Pas mau berangkat pake kapal nelayan yang kali ini hanya diisi kita berlima aja, kita nggak lihat di mana kapalnya. Ternyata ada di tengah laut aja, lho! Untuk ke tengah laut, kita harus jalan kaki melewati air yang lumayan jauh. Kenapa kapalnya nggak ke pinggir? Karena airnya cetek jadi takut kapalnya nyangkut. Yo weis, mari jalan lagi. Tapiii karena airnya bersiiih banget dan warnya toska jadi malah berasa seru. Bukannya cepat sampai, di tengah-tengah kita malah sibuk foto-foto. Maaf ya Mas Saman harus ngurusin perempuan-perempuan rempong banci foto. Hihihi!

IMG_5797

IMG_5806

Perjalanan dari Pulau Pari ke Bintang Rama Spot (tempat budidaya terumbu karang) nggak terlalu lama, paling 30 menit. Begitu sampai kita langsung terkagum-kagum karena terumbu karangnya cantik banget. Sebenarnya nggak perlu pake snorkel untuk lihat ke bawah air karena dari atas pun kelihatan jelas saking jernihnya lautnya. Belum lagi ikan-ikan kecil berwarna-warni yang sliweran bikin makin cantik.

Udah lah ya, kita langsung berenang aja. Yang tadinya pake pelampung dan kaki katak, lama-lama tambah berani pelampung dan kaki kataknya dilepas. Berenang kayak berenang di kolam renang aja. Seruuuu banget! Mana si Mas Saman bawa kamera underwater jadi dia foto-fotoin kita di laut. Yah nama pun, cewek banci foto, kita pun minta Mas Saman berulang-ulang fotoin kita sampe dapat foto yang kece. Hihihihi! Dari yang tadinya mau sebentar aja snorkelingnya karena takut hitam, malah jadi lamaaa banget sampe sore karena keasikan berenang. I would love to do diving someday. It would be awesome! :’)

DSCN1321

IMG_5850

Puas berenang kita pun ke Pulau Tikus. Pulau ini kalau dari atas bentuknya seperti tikus. Sebenarnya ini cuma pulau kecil yang nggak ada penghuninya tapi karena pantainya bersih dan pemandangannya bagus, kita pun minta mampir ke sana cuma untuk foto-foto bak model. Hihihi.

IMG_5865

IMG_5883

IMG_5872

Karena udah mau maghrib, kita pun terpaksa pulang. Di dalam kapal kita bisa melihat matahari terbenam. Cantiknya minta ampun. Kita sampe di Pulau Pari sekitar jam 6 sore. Langsung mandi karena badan udah lengket banget. Jam 7-an makan malam datang.

Setelah itu, saya dan Citra keliling pulau naik sepeda. Seru banget lihat kehidupan penduduk di sana yang sebagian besar penghasilannya dari menyewakan homestay, sepeda, dan alat snorkeling. Ada yang homestaynya bagus udah modern, ada yang masih sederhana. Yang lucunya, tempat tinggal penduduk di sana masih sederhana, nggak sebagus homestay yang mereka sewakan. It was always good to know about local culture.

Capek naik sepeda saya dan Citra balik ke homestay karena jam 9 kita akan barbeque di pantai. Jadi, di belakang Pulau Pari, ada namanya Pantai Pasir Perawan yang bagus banget. Nggak kelihatan sih kalau malam hari karena gelap. Kalau malam banyak digunakan untuk barbeque, main sepeda, dan main voli.

Kenyang makan ikan, kita pun buru-buru tidur karena besoknya akan bangun pagi buta untuk lihat sunrise. Benar aja, Mas Saman udah ngetok kamar kita jam 5.30. Nah, sebagai cewek rempong, kita nggak ada yang mandi, cuma cuci muka dan gosok gigi, tapiiiii…..udah ganti baju yang kece dan dandan karena tau habis ini foto-foto. Hahaha!

Sunrise-nya bagus banget. Karena baru pertama kali ngeliat sunrise, saya jadi bengong-bengong sendiri melihat matahari yang tadinya sembunyi, perlahan-lahan naik ke atas sampai kelihatan bulat banget. Dan semua itu terjadi hanya dalam waktu 30 menit. Keren!

IMG_5933

IMG_5936

Puas lihatin matahari, kita pun ke Pasir Pantai Perawan untuk naik sampan. Jadi baru pagi ini kita lihat bentuk Pasir Pantai Perawan yang mana kece banget dengan warna air toska. Pas kita naik ke sampan makin kelihatan deh cantiknya. Belum lagi di sekelilingnya banyak pohon mangrove. Makin kelihatan cantik ya ciptaan Tuhan ini. :’)

IMG_5981

IMG_5984

IMG_5994

IMG-20140331-WA0041

IMG_5996

Kelar naik sampan, kita pun naik sepeda ke ujung Pulau Pari ke LIPI di mana ada budi daya bintang laut. Jadi fokus LIPI saat ini adalah membudidayakan terumbu karang karena banyak yang udah rusak. Bintang laut ini juga salah satu yang dibudidayakan. Jadi di sana kita bisa pegang bintang lautnya tapi nggak boleh dibawa pulang (yaeyalaah).

IMG-20140331-WA0108

Setelah puas, kita pun balik ke homestay, siap-siap, dan meluncur ke kapal karena nggak mau nggak dapat duduk yang ada senderannya. Hihihi! Terima kasih Mas Saman yang udah mau nemenin para perempuan rempong ini. It was a great short vacation. Will looking for more trips with you, guys!πŸ˜€

 

3 thoughts on “Menjelajah Pulau Pari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s