7 Jam Mendebarkan

Hari Minggu kemarin bangun jam 5 pagi dengan perasaan excited. Kenapa oh kenapa? Karena hari itu niat mau potong rambut dan ngecat rambut. Bosen banget dengan rambut yang modelnya udah nggak karuan dan warna hitam. Pengen sesuatu yang baru. Dan dari dulu kalo bosen pasti yang kena eksperimen adalah rambut. Hihihi. Selain itu, hari ini mau ke Ambas, habis itu baru ke gereja. Rencananya tampak sempurna.

Tapiii… baru pagi-pagi aja si suami bikin rencana lain yang mana merusak rencana saya. Udahlah ya, itu mood langsung tercecer ke mana-mana, yang berakibat malas ngapa-ngapain. Mana Jakarta hujan nggak berhenti-henti dari pagi jadi mau ke mana-mana pun susah.

Walaupun begitu, niat potong rambut sih tetap dong, tapi minus cat rambut karena berangkatnya aja udah siang karena sibuk ngatur mood dulu. Ke salon potong rambut dengan Mas Herry di Brunette. Errr, agak kependekan, sih dan kayak macam Dora. Tapi karena dia udah tau seluk beluk rambut saya jadi walaupun tadinya nggak niat model rambut itu, tetap ciamik jatuhnya. Okelah ya.

Habis dari salon, cap cus ke Taman Anggrek karena rencananya mau beli sepatu kerja yang udah rusak. Muter-muter keliling mall, eh sepatu yang dicinta nggak didapat. Duileh, mood kan jadi nggak membaik kalo belum belanja. Si suami udah ngingetin aja untuk ke gereja karena udah sore. Oke deh.

Kita pun menuju JPCC di daerah HI. Waktu di Bundaran HI, tiba-tiba setir mobilnya berat banget. Suami udah panik aja bakal mogok karena satu hari sebelumnya ganti aki tapi altenator mobil untuk simpan arus aki rusak. Harusnya diganti, tapi belum diganti jadi aki cepat habis. Sambil komat-kamit doa, mobil pun menuju ke tepi tepat di belakang Hotel Pullman HI. Saat itu juga mobil mogok dan hujan deras banget. Yes, macam di film-film aja. Suami panik karena mobilnya matic dan akan susah diapa-apain, istri bengong karena nggak tahu apa-apa dan mood makin drop aja. Yang makin bikin keki adalah nggak digantinya altenator mobil kemarin karena suami nelepon bilang harganya empat setengah, yang mana saya merasa empat setengah juta jadi mendingan ke bengkel yang terpecaya aja. Sementara pas mogok itu baru ketauan kalau empat setengah itu maksudnya empat ratus lima puluh RIBU. Itu mah ganti aja dari kemarin. HIH! Ya udahlah mau diapain lagi, udah mogok juga *sigh*.

Sekitar 1 jam mogok dan udah nelepon teknisi kemarin untuk datang tapi ternyata nggak bisa, mobil tiba-tiba bisa distarter. Hore! Tapi jangan kira penderitaan berakhir di situ, sampai di KS Tubun, dekat Tanah Abang, mobil mogok lagi dan kali ini benar-benar nggak bisa dinyalain *nangis kejer*. Bayangkan, hujan deras, kanan kiri daerah seram macam Tanah Abang, nggak ada yang bisa dimintain tolong, bengkel di sekitar tutup *kibar-kibar bendera putih*.

Akhirnya telepon Astra minta datang. Baru datang 1 jam kemudian karena kondisi jalanan yang banjir. Pas dicek, nggak bisa diapa-apain karena ya itu tadi altenator yang rusak, harus diganti. Dia menyarankan untuk derek. Yo weislah kalo itu jalan satu-satunya. Posisi derek ada di Tangerang dan Warung Buncit, yang mana itu JAUH BANGET, cing! Setelah ditelepon, semua mobil derek penuh karena banyak yang mogok gara-gara banjir. Dia menyarankan pake derek liar aja. Agak mengkhawatirkan sih karena nanti dipalak lagi harganya. Tapi nggak ada pilihan lain, jadi akhirnya telepon juga. Itu pun mereka pada penuh semua. Hiks! Teknisi Astra pergi, dan kita pun meringis kebingungan dan panik. Ini mau gimana lagi, nih?

Suami pun ke ATM untuk siap-siap ambil uang kalau ada kejadian sesuatu. Sementara saya nunggu di mobil sendirian. Pas ditinggal sendirian tiba-tiba perut mules sakit perut. YA AMPUN, SAKIT PERUT KENAPA SEKARANG? Saking mulesnya saya sampai jongkok di mobil. Begitu suami datang, si suami langsung ajak saya ke restoran terdekat untuk makan dan pup. Eh, nggak ada restoran atau pun warung makan apa pun di sekitar situ. Gila lah! Nggak jauh ada kantor PLN. Ya udah di situ kayaknya bisa.

Kondisinya kita berdua pake payung masuk ke PLN nanya satpam di mana toilet. Satpam nunjukin toilet dekat dia yang mana…. nggak ada pintunya dan nggak ada lampu. TOILET SATPAM! Kejam banget! Kita pun nanya ke satpam satunya lagi di mana toilet, dia pun nunjukin di dalam kantor PLN, di dekat lobby. Kita pun masuk dan yang dibuka toilet laki-laki aja. Satpam di dalam bilang masuk aja. Saya pun ngibrit ke dalam toilet. Setelah meyelesaikan tugas, saya ke luar dan suami buru-buru ngajak keluar aja. Katanya si satpam yang nyuruh ke toilet tak berkeperimanusiaan di luar itu datang dan ngomel-ngomel karena kita malah ke toilet dalam. SERIUS, PAK? Untung dia nggak ketemu saya kalau nggak udah ngamuk karena masa perempuan disuruh ke toilet yang nggak ada pintu dan nggak ada lampu. Bapak, udah gila, ya?

Keluar dari PLN, kita balik lagi ke mobil. Kondisinya masih hujan deras dan udah malam. Udah nggak kepikiran haus dan lapar lagi. Cuma pengen cepat pulang aja. Suami pun sekali lagi telepon teknisi dekat rumah. Ajaib, yang tadinya nggak mau, sekarang dia mau. Dia tanya posisi kita dan bilang akan datang setengah jam lagi. Udah mulai lega, deh.

Apa mau dikata, Jakarta hujan dan banjir jadi macet dan akses susah banget. Jadi dia pun lama datang. Saya dan suami udah mati gaya aja. Kita saling bilang, aduh ini gara-gara mentingin jalan-jalan dulu daripada ke gereja, deh. Huhuhu! Habis ini janji langsung berdoa. Hiks!

Satu jam kemudian si teknisi telepon dan bilang udah di RS Pelni, yang mana dekat banget sama tempat mobil mogok. Asik, paling 15 menit lagi sampe. Tapi ditunggu-tunggu kok nggak muncul. Setelah ditelepon, ternyata dia nyasar sampe ke PEJOMPONGAN. Jauh amat, mak! Ternyata suami dan teknisi nggak sepikiran soal arah jalan jadi ya miskom. Dududu *garuk kaca*. Setelah dijelasin dan ditunggu lagi, eh dia malah nyasar ke Grand Indonesia. Yasalam, makin jauh aja. Ini sial kok nggak berakhir-akhir sih?😦

Saya pun minta dia balik ke posisi semula di RS Pelni biar suami jemput naik angkot. Oke sip. Si suami jemput, eh 30 menit kemudian, dia muncul di tempat mobil mogok dan suami udah di RS Pelni. Yaelah, Pak! Ribet deh nih teleponin suami lagi di saat batre HP udah kritis banget.

Itu kejadiannya masih hujan dan udah jam 10 malam.

Sekitar 1 jam dia benerin mobil dan saya ketar-ketir berdoa takut nggak bisa. Masa harus nginep di mobil? Di daerah bronx kayak gitu pula. Aku takut, mamaaah!

Untungnya satu jam kemudian, jam 11 malam, mobil nyala dan bisa jalan. Sepanjang jalan menuju rumah, dia pun ngikutin dari belakang untuk mastiin mobil nggak mogok lagi. Pas di dekat rumah ternyata temperatur mesin naik. Haduh, kenapa lagi ini? Pas dicek, ternyata ada selang radiator yang putus. Teknisi nggak bisa terlalu bantu karena bukan spesialisasi dia, tapi dia bilang ini nggak berbahaya, tinggal disambung aja. Dia pun membantu dengan pertolongan pertama. Puji Tuhan, bisa sampe rumah dan teknisi baik hati ini tidak mencharge kita mahal, bahkan jasanya dia lebih murah daripada yang dia tawarkan kemarin. Hah, kok bisa? Dia bilang sih karena rekanan tempat beli aki itu jadi dia jaga nama baiknya. Tapiii.. dia udah menerjang hujan, banjir, malam-malam pula buat bantuin kita. Bless you, Pak. :’)

Kita pun sampe rumah hampir jam 12 malam dengan total 7 jam mogok di jalan dengan hujan deras. Pengalaman paling menguras emosi jiwa raga, deh. Habis itu kita beneran masuk kamar dan berdoa karena akhirnya bisa sampe rumah dengan selamat tanpa perlu nginep di jalanan.

Nggak lagi-lagi deh kejadian kayak gini. Hiiii!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s