Pilihan

Ada hal yang cukup mengganggu saya belakangan ini.

Keluarga saya (dan kebanyakan keluarga besar dari bapak saya) adalah jemaat gereja HKBP. Yang artinya udah dari saya bayi, saya pun otomatis jemaat di sana. Tapi dari kecil, saya jarang gereja di sana, begitu pun orang tua saya. Yah, paling kami ke sana kalau ada acara tertentu dan perayaan hari besar agama seperti Natal, Paskah, dll.

Waktu saya kecil, saya gereja di sebuah gereja bethel di dekat rumah. Tinggal jalan kaki ke komplek belakang rumah dan sampailah di gereja kecil yang bangungannya pun cuma rumah biasa. Pengurusnya adalah satu keluarga chinese. Ayahnya adalah pendeta dan istri serta anaknya adalah pengerja atau guru sekolah minggu. Kenapa saya bisa nyasar gereja di situ padahal keanggotan saya di HKBP? Simply karena biar dekat rumah, bisa jalan kaki, jadi kalau mau gereja tinggal pergi sendiri. Sedangkan gereja HKBP lumayan jauh, harus pakai mobil. Even though my church was small but I always had great sunday school there. I learned a lot from that church.

Besaran dikit, kira-kira kelas 6 SD, tampaknya orang tua saya meniatkan serius ke gereja karena butuh pertumbuhan iman, jadi kami pergi ke gereja bethel di sebuah mall dekat rumah. Kami bertumbuh imannya dan jauh lebih kuat di sana. Sampai saya kuliah, saya masih gereja di sana.

Kami masih belum meninggalkan HKBP. Hari raya selalu dirayakan di sana. Bahkan saya sidi pun di sana. Kenapa? Ya karena harus aja. Apakah hati saya di sana? Nggak. Jujur, saya merasa kurang bertumbuh di sana. Pertama, kendala bahasa. Untuk gereja pagi bahasa yang digunakan adalah bahasa batak yang tentunya saya kurang lancar. Gereja sore memakai bahasa Indonesia sih tapi saya jarang gereja pada sore hari. Terlepas dari itu, saya kurang mendapat sesuatu ketika ibadah selesai. I need to communicate with God, I need to feel His presence, and I don’t get it in there.

Ada beberapa kekecewaan di sana. Saya merasa kurang nyaman ketika waktunya khotbah dan banyak yang memilih keluar gereja untuk makan bakso atau sekedar merokok, tertidur di tengah kebaktian, dan sibuk gosipin orang di tengah-tengah kebaktian. Beberapa pelayan gereja menganggap dirinya lebih tinggi hanya karena mereka melayani di hari minggu. Itu juga mengusik saya. Saya yang terbiasa dari kecill pergi ke gereja simply untuk memuji dan mendengarkan firman Tuhan merasa tidak bisa sejalan dengan hal seperti itu. The church is never wrong, the people inside the church that makes it wrong.

Semakin saya beranjak dewasa, Mama memutuskan untuk aktif di gereja HKBP (walaupun tetap sering ke gereja bethel) karena butuh untuk punya perkumpulan dan bersosialisasi. Alasan Mama selalu, “Kalau kita ada apa-apa mereka yang akan bantu kita.” Oke deh, Ma. Mama pun yang membujuk-bujuk saya untuk aktif di HKBP (kalau adik bungsu saya emang hobinya ke HKBP karena banyak teman di sana dan bisa main-main, sementara adik perempuan saya lebih keras kepala nggak mau ke HKBP). Oke lah, let’s give it a try. Siapa tahu pengalaman saya di masa lalu tidak terbukti.

Saya pun mulai ikut perkumpulan pemuda di wilayah. Saya ketemu banyak orang dan beberapa di antaranya menjadi teman saya sekarang. Saya mulai suka karena punya teman jalan-jalan di dekat rumah. That was fun. I even met my husband there. Yang lucu adalah si suami dulu tipe jemaat yang nggak ngerti bahasa batak tapi tetap hadir di ibadah pagi bahasa batak, di tengah-tengah khotbah suka keluar untuk ngebakso, dan balik lagi kalau udah mau doa berkat. The type that I wouldn’t like.

Kira-kira setahunan saya aktif di gereja. I was happy that people start to notice me and I met new friends. The thing was my heart was empty. I went to church to meet my friends because after sunday service we would go hanging out. Or I dressed up to church so people would notice how pretty I was. The attention that I didn’t get when I was a kid because I was the ugly duckling back then. It was never about God anymore.😦

I went to church but I feel like I wasn’t in church.

Karena merasa jiwa saya kosong dan kering, saya mulai pergi ke gereja lain, gereja kharismatik atau bethel. Saya merasakan kenyamanan di sana. Iman saya yang kering kerontang mulai disirami lagi. Saya pergi ke gereja karena saya mau ketemu Tuhan, bukan mau ketemu teman atau bukan mau nunjukin baju baru atau bukan mau pamer hal lainnya. It was simply for God.

Suatu hari teman saya yang melihat saya ke gereja lain menegur saya, “Kok ke gereja lain, sih? Nggak boleh kayak gitu, dong. Gereja kamu kan HKBP.”

Saya pun menjawab, “Emang kenapa?”

“Ya, nggak baik kayak gitu. Jangan ke gereja Β lain.”

“Tapi Tuhan kan nggak cuma di HKBP aja. Emang yang masuk surga jemaat HKBP aja.”

And that’s it. Dia terdiam.

Saya dan suami sekarang makin jarang ke HKBP, terutama setelah menikah. Nggak ada kejadian apa-apa sih di sana yang bikin saya makin jarang ke sana. It was still the same church. But I was never fit in there.

Saya ingin mengalami kerinduan dengan Tuhan. Saya ingin ke gereja karena bertemu dengan Dia. Saya ingin semua tentang Dia, bukan tentang saya, bukan tentang apa yang akan saya pake ke gereja nanti, bukan teman siapa yang akan saya temui, dan bukan nongkrong ke mana kita habis gereja. Saya ingin bertumbuh imannya dan untuk saya, saya mendapatkannya di gereja lain.

I didn’t say that HKBP was not good, but yes I was dissapointed with some of them. Ini lebih ke preferensi aja, sih. Sama seperti pepatah yang bilang, ada banyak jalan ke Roma. Kamu bisa lewat Cina, lewat Amerika, atau muter-muter dulu di Eropa. Toh pada akhirnya kamu akan sampai di Roma juga. Sama seperti gereja. Tidak ada satu pun gereja yang lebih benar dari gereja yang lain. Ini cuma soal kecocokan beribadah dengan cara apa dan nyamannya ke gereja mana. Kalau kamu cocok dengan cara karismatik ya silakan, cocok dengan cara bethel ya silakan, cocok dengan cara HKBP ya juga nggak salah. Tuhan sendiri aja tidak membentuk agama atau pun gereja, manusia yang membuatnya.

Masalahnya adalah beberapa orang tidak mengerti dan mulai menghakimi dengan brutal bahwa saya tidak ke gereja HKBP adalah suatu kesalahan besar. Saya dianggap membelot atau apalah. I wasn’t. I still worship the same God as yours. I just don’t go to the same church as yours. You choose your way and I choose mine. As simple as that.

There’s no better church. There’s only God.πŸ™‚

 

9 thoughts on “Pilihan

  1. Haloo saya silent reader.. hehehe. Bener banget tuh,.. beribadah dimana adalah soal kecocokan dengan hati. Saya jemaat GPIB, suami saya Katolik, sejak nikah saya ke gereja Katolik (meskipun masih tetap protestan) dan merasa lebih nyaman disana. Saya juga punya banyak temen yang ke gereja karismatik, dan pernah juga diajak ibadah disana, tapi ya hatinya ga ngerasa pas aja. So just follow your heart and ignore those people. Oiya saya juga orang batak jadi saya taulah kira2 resenya org batak itu kayak apa :p salam kenal yaπŸ™‚

  2. Hi Naomy, suka bgt baca post yg ini. Isinya ‘dalem’ ngenain hati saya yg jg mulai beku.. Tp bedanya saya belum bs nemuin tempat ibadah yg tiap pulang berasa disiram dengan berkat yg baru yg bikin rohani saya bertumbuh kaya dulu. Tp saya yakin koq, Tuhan sedang menuntun saya ke tempat dmn saya nanti bs bertumbuh, dan tentunya menghasilkan buah. Amin.. Nice post. Thanks yah share’nya!

  3. kak aku juga sama dari kecil kayak kakak. waktu kecil aku ikut sundau school yg deket rumah yg gerejanya itu kecil. kadang juga pindah2 karna masih nyewa jadi suka dijemput naik angkot. waktu kelas 6 SD aku pindah ke gereja GBI di kota aku karna mamaku gereja di situ dan pendetanya khotbah, katanya sebuah keluarga itu lebih baik jika pergi ke gereja yg sama. jadi aku ikut mama sejak itu. aku juga orang batak tapi adatnya gak terlalu kuat kak di gerejaku. aku pernah sekali atau dua kali ke HKBP di kotaku waktu baru pindah ke sini, dan gereja HKBP waktu liburan di rumah sodara di jawa. tapi aku gak merasa ada yg didapet setiap gereja di HKBP, karna aku gak merasa ibadahnya itu menyentuh roh aku gitu. tapi aku mendadak denger dari temenku, katanya kalo kristen batak itu harus sidi sebagai bukti bahwa kita udah menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat dalam hidup kita. padahal di GBI itu kan ada baptis celup yg artinya juga sama. dan temenku bilang kalo aku gak sidi, aku gak bisa menikah. itu menurut kakak gimana? GBI gak mengharuskan kita (orang batak) untuk sidi kalo mau menikah, tapi gimana jika nanti aku mau menikah dengan orang dari gereja batak seperti HKBP? dari yg saya nilai, memang rata2 orang HKBP itu kayak semacam anti pindah gereja apalagi gereja di GBI. jadi aku harus gimana kak?

    • Kalau soal ini emang agak rumit, ya. Sebenarnya ini soal birokrasi gereja sih, nggak ada hubungannya soal iman, dsb. Jadi tergantung kamu nanti mau nikah di gereja mana. Kalau kamu mau nikah di HKBP, ya harus sidi. Tapi kalau mau nikah di GBI harus baptis selam. Kalau ngikutin Alkitab sih nggak ada aturan seperti itu, ya. Cuma karena ini lembaga yang dibuat manusia, jadi harus pilih kamu mau ikut aliran yang mana. Kamu nggak harus buru-buru sidi, kok. Walaupun banyak yang sidi pas SMA, tapi sebenarnya sidi itu bisa kapan aja, sih. Waktu aku sidi, ada temenku yang pas nikah baru mau sidi. Jadi kamu masih punya banyak waktu buat mikirin.πŸ™‚

  4. Postnya bagus kali..Aku juga punya masalah yang rumit saat ini.. nAMAKU Hernain saya jemaat HKBP,di babtis di sana dan besar di sana juga. Namun saat ini saya ada masalah saya pacaran dengan orang yang agamanya GBI,Padahal keluargaku semua tidak ada yang setuju kalau aku pacaran sama dia dan jangan sampai nikah sama dia, Tetapi aku begitu menyayangi dia namun disatu sisi aku menghargai orang tuaku yang udah membesarkanku. Unntuk itulah aku minta sarann dari teman apakah yang harus aku lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s