My Pop Art Living Room

Saya lagi senang-senangnya mendekor rumah. Setelah sebelumnya sempat males-malesan ngisi rumah dikarenakan bingung temanya apa. Sempat pengen minimalis, shabby chick, all white, dsb. Labil! Pengen yang sesuai dengan karakter kita berdua, tapi apa, dong? Sampai akhirnya kebanyakan mau dan lupa.

Nah, bulan lalu tanpa sengaja ngeliat desain interior rumah orang yang colorful banget. Langsung jatuh cinta! Akhirnya kepikiran… kenapa temanya nggak pop art aja. It’s colorful, bright, and cheerful! Saya banget! *melirik suami yang sebenarnya lebih ke adem ayem*. Yang paling penting adalah kayaknya gampang diaplikasikan ke rumah. Yeay!

Desain rumah pop art itu contohnya kayak gini:

gozetta.com

2.bp.blogspot.com

amazinginteriordesign.com

Jadi konsepnya adalah warna-warna terang yang bold dicampur jadi satu dan ditabrakin aja. Yah, kira-kira saya sih nangkepnya begitu.

Sebenarnya ruang keluarga saya cuma ada 2 sofa berwarna coklat tua terbuat dari kulit lungsuran dari orang tua. Oh, it’s boring! Kesannya tua. Tapi ya nama pun lungsuran dan kondisinya masih bagus banget, siapa sih yang nolak. Nanti juga bisa diganti bahan sofanya, kan. Tapi setelah dihitung-hitung, ganti bahan itu sama mahalnya dengan beli baru. Ish! Ditunda mulu deh jadinya. Sampai akhirnya pas lagi belanja di supermarket dekat rumah saya, di bawahnya ada toko sofa dan langsung kepincut sama satu sofa paling menonjol di situ: sofa merah! Merah itu kesukaan saya.

Tentu saja nggak langsung beli. Masih kepikiran buat ganti bahan sofa aja. Tapi tiap belanja lewat situ, makin kepikiran, makin sering saya omongin, bolak-balik cuma mandangin sofa itu aja. Ini mah namanya jatuh cinta banget!

Sampai akhirnya saya menyerah pada sofa itu dan membujuk suami agar membolehkan beli sofa. Suami tentu saja mengabulkan *kecup* dan hanya menanyakan apa kabar itu mau ganti bahan sofa. Err, labil! Tentu saja saya langsung tanya mbah google dan liat kira-kira bagaimana bentukan sofa merah itu ditempatkan bersama sofa coklat tua. Setelah dicari-cari, ah ternyata banyak yang seperti itu di google. Kurang yakin, bertanyalah saya ke emak yang mana mengamini bahwa pasti akan masuk aja. Sip! Bungkus!

Oh ya, saking sayangnya sama sofa merah ini, saya suka marahin kalo suami tiduran di sini dengan kaki belum dicuci. Nanti kotor, kan! *lebih sayang sofa* *dikutuk*

Setelah sofa, yang diperlukan lainnya adalah lukisan pop art. Liat di Ace Hardware dan Informa ternyata lukisan itu mahal ya. Nggak rela! Sebagai istri bijaksana, akhirnya saya punya akal. Download gambar di google yang ukurannya besar, pergi ke Benhil untuk dicetak ukuran A1, lalu di-frame. Tadaaaa! Lukisan ciamik ukuran besar dengan harga kurang dari Rp 200.000! *ketawa bahagia*

PR selanjutnya adalah ruang tamu kecil yang masih kosong. Awalnya belum niat untuk beli sofa ruang tamu karena biasanya langsung pada duduk di ruang keluarga. Suatu hari lagi lewat toko sofa di ITC, nggak niat beli, cuma nanya aja. Eh, pas ditanya harganya masuk budget. Trus langsung ditawar makin happy aja. Setelah deal harga, langsung pilih motif. Mata langsung tertarik sama warna fushia. Iyes, warnanya ngejreng banget. Hihihi.

Harusnya udah beres ya. Tapiii… ada sofa baru berarti mata jelalatan sama printilannya (yang nggak penting amat), yaitu 1) vas bunga; 2) frame foto; 3) karpet. *suami geleng-geleng kepala*

Untuk frame foto mah gampang tinggal beli di gramedia yang modelnya minimalis. Vas bunga juga pengennya minimalis. Jadi, waktu itu suami dikasih cake in a jar 2 buah. Setelah habis, eh kayaknya ini bisa dipake lagi. Dibersihin, dikasih air, dan dikasih bunga artificial yang kebetulan udah banyak di rumah. Jar-nya tinggal dililit pita yang kebetulan juga udah punya. Istrinya siapa sih ini yang bijaksana hematnya? *lalu hening*.

Untuk karpet sendiri pengen beli yang lagi ngetren sekarang: karpet chendile atau karpet cendol. Bentuknya kayak gini:

dinomarket.com

Sebelum beli, cek dulu ke mall. Harganya dahsyat ya bok! Ada yang sejutaan. Fiuh! *lap ketek*. Akhirnya browsing ke online shop yang mana harganya lebih manusiawi, Rp 600.000. Ada teman yang bilang, beli aja di Tanah Abang karena banyak toko karpet dan lebih murah.

Berbekal niat pengen dapet yang murah (emak-emak nggak mau rugi), saya pun ke Tanah Abang. Huwoww, bangganya akhirnya menginjakkan kaki di Tanah Abang karena nggak pernah sebelumnya *warga Jakarta macam apa*. Saya parkir di Blok B, langsung masuk ke pertokoannya. Di sana dijual karpet serupa seharga Rp 450.000 nggak mau turun. Hih! Akhirnya saya keluar ke toko di pinggir jalannya yang mana disinyalir lebih murah. Benar aja, saya dapat karpet seharga Rp 380.000! *loncat kegirangan*. Lain kali mau ke Tanah Abang lagi, ah. Beneran udah nggak macet dan lebih teratur, lho.

Jadi ini rumah pop art versi saya (belum jadi semuanya juga, sih). Hahaha.

Ruang tamu fuschia. Bunganya handmade, vas-nya dari jar bekas cake.

Ruang tamu fuschia. Bunganya handmade, vas-nya dari jar bekas cake.

Sofa merah kesayangan dan sofa coklat tua lungsuran. Di atasnya ada foto-foto colorful.

Sofa merah kesayangan dan sofa coklat tua lungsuran. Di atasnya ada foto-foto colorful.

Masih banyak yang pengen ditambahin, seperti lukisan, hiasan, dll supaya pop art-nya benar-benar kelihatan. Tapi nanti nunggu ilham dulu, ya. Hihihi. Tema pop art ini cuma berlaku di ruang tamu dan ruang keluarga. Kalo di dapur temanya beda lagi, hitam-putih. Ini diceritain lain kali, ya.

Kesimpulannya adalah…. kalo mau menekan biaya, pergunakanlah barang-barang yang udah ada dan dikreasikan lagi. Hasilnya jadi ciamik!

See you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s