Ibu Ratih

Seminggu kemarin saya mengikuti training. Di sana saya berkenalan dengan Ibu Ratih, seorang wanita paruh baya, peserta paling senior. Perawakannya tidak terlalu tinggi, kira-kira 150 cm. Rambutnya pendek di atas leher. Pembawaannya tenang dan percaya diri. Tutur katanya selalu teratur, seringkali ia bicara dengan bahasa Inggris. Ia menyapa setiap peserta training dengan senyumnya dan menyapa kabar setiap kami. Ia selalu mengucapkan kalimat yang positif dan membaur dengan kami yang muda ini.Β Belakangan saya baru tahu bahwa ia adalah seorang runner up Ratu Indonesia tahun 1960-an dan istri dari seorang mantan menteri. Pantas saja perawakan dan penampilannya seperti seorang lady.

Suatu hari kami duduk di satu meja saat makan siang dan saya berkesempatan untuk ngobrol dengan beliau. Awalnya kami ngobrol mengenai training yang sedang diikuti sampai kemudian pembicaraan kami terlalu asyik sampai kami membicarakan mengenai pernikahan. Beliau bertanya pada saya apakah saya sudah menikah dan mempunyai anak, yang kemudian saya jawab dengan belum. Beliau tersenyum dan mengatakan, “Anak perempuan saya setelah 3 tahun menikah baru punya anak. Saya memang pengen punya cucu, tapi anak saya bilang dia pengen beradaptasi dan travelling sepuasnya dulu sebelum punya anak. Saya katakan, go ahead. It’s your decision. Saya nggak pernah tanyakan atau dorong-dorong dia untuk punya anak. Enjoy your life,” kemudian beliau menatap saya dengan pandangan yang teduh dan menenangkan, “And you know what, I had child when I was 31. And that’s okay.” Lalu ia tersenyum lebar seakan-akan mengatakan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan kapan pun diberi anak, “You have to enjoy your life. Waktu kamu baru nikah, the first year was the hardest one. Kamu sibuk beradaptasi satu sama lain dan it was better when you didn’t have child soon.”

Sampai di sini saya merasa seperti disiram air segar. How could she know how to make me feel better?

Kemudian ia melanjutkan ceritanya, “My first marriage stayed for 17 years. Waktu itu saya menentukan standar yang tinggi untuk menjadi seorang istri. Saya masak pagi, siang, malam supaya suami senang. Saya suka masak, bikin kue, tapi waktu itu karena melakukannya setiap hari dan seperti kewajiban, saya jadi tidak suka lagi. I wasn’t myself at the time. That ruined the marriage. Pernikahan kedua saya, saya belajar bahwa saya harus jadi diri sendiri dari awal pernikahan dan saya harus nyaman dengan diri saya sendiri. Kali ini saya tidak mau masak setiap hari. I cook when I want to cook and that’s okay for my husband. Saya mengembangkan diri saya, saya pergi ke luar, saya berkegiatan, saya bertemu dengan teman-teman. I am happy with myself and that makes my husband happy too. I have a beautiful and wonderful marriage until now. Saya katakan pada anak saya ketika ia menikah bahwa kamu tidak perlu berpura-pura dari awal pernikahan, kalau kamu tidak suka, katakan tidak suka. Jangan tidak suka tapi kamu bilang suka tapi lama-lama kamu berubah dan membuat suami kaget. Communication and honesty is important in marriage.”

I adore her even more.

She was a very humble person. Beliau menawarkan untuk belajar bersama di rumahnya atau boleh mengadakan training di rumahnya for free. Beliau bilang, dengan begitu ia akan ikut belajar juga. Selain itu, beliau selalu mengatakan rumahnya terletak di sebelah kandang monyet karena terletak di Ragunan, while we know that the fact is different. Her house is so huge. But she stays down to earth.

I am blessed to have the chance to know and have conversation with her. She is such an inspiration. I adore her so much. Thank you, Ibu Ratih for making my days better.πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s