Pamer?

Sebagai orang yang punya beberapa akun social media, dulu saya mikir status apa yang pertama kali akan saya post begitu tahu saya hamil. Saya mungkin akan upload foto-foto hasil USG saya, akan nulis status mengenai rasa mual, pusing, dan morning sick, atau akan check in setiap kali saya kontrol di rumah sakit. Niatnya tentu bukan mau pamer (eh sedikiiit sih, hmm atau emang banyak), tapi pengen berbagi kebahagiaan aja. Memiliki anak pasti jadi kebanggaan sendiri dan membaginya ke dunia adalah suatu hal yang lumrah.

*anyway, ini kok ya ngayalnya gimana entar pamer di socmed ya*

Sampai, saya belum dapat melakukannya karena belum hamil juga. Dan jadilah saya orang yang sensitif dengan berita-berita kehamilan. Facebook, twitter, path, dan instagram nggak jadi suatu yang menyenangkan lagi karena isinya orang yang hamil mulu. Ya bukan salah mereka juga sih, saya aja yang sensi berlebihan. Itu rasanya hati gremet-gremet perih tiap kali ada yang pasang status, foto, check in tentang kehamilannya.

Untuk orang-orang yang jarang banget posting soal kehamilannya, begitu dia posting saya merasa biasa aja. Wajar toh sekali-sekali berbagi soal kehamilan. Tapi kalau sering banget posting soal kehamilan, di mana tiada hari tanpa lihat dia ngomongin hamil mulu, rasanya tuh kesal dan males banget. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mute beberapa orang supaya hati saya jadi lebih adem lagi. Hey, saya nggak bisa setiap hari membiarkan hati saya terasa perih dan mood saya berantakan, kan? Saya tentunya nggak bisa melarang mereka posting hal yang mereka suka, tapi saya bisa menghindar untuk membacanya.

Sometimes, I feel bad for myself. Mbok, ya ikut senang pas temannya senang. Tapi kenyataannya, saya butuh waktu untuk bisa menerima dan kemudian ikut senang bersama mereka. Ini kalau hati saya dibuka kayaknya udah penuh lebam dan patah-patah, serta banyak plester supaya masih berfungsi dengan baik. Hihihi.

Sampai kemudian saya menyadari, niat saya dulu untuk pamer tentang kehamilan di social media itu sama sekali nggak baik. Waktu itu, niatnya pasti pamer, lalu nggak menyadari berapa banyak orang yang sedih karena saya lagi pamer. Nggak kepikiran sama sekali.

Karena Tuhan tahu saya niatnya pamer, maka belum dikasih, deh. Malahan saya ada di posisi di mana saya harus lihat orang-orang pamer dan itu menyakitkan buat saya. Kemudian saya baru belajar, kalau saya hamil nanti, (sebisa mungkin, janji!) saya sebisa mungkin tidak akan terlalu pamer. Mungkin saya akan posting foto USG bayi saya atau perut saya yang membuncit, tapi janji nggak akan sering-sering. Sama seperti saya yang nggak sering check in kalau lagi makan di resto yang lagi hip atau upload foto barang-barang yang baru saya beli. Kalau mau banyak ngomongin kehamilan, saya akan nulis di blog aja karena kalau buka blog kan nggak sesering buka akun socmed. Orang yang buka blog pun pasti niatnya karena pengen baca tulisan saya. Bukan nggak sengaja baca, lalu tiba-tiba terjebak postingan-postingan pamer orang, kemudian menggalau.

Sayangnya, untuk belajar hal ini saja saya perlu jadi orang yang ada di posisi hati perih dan galau social media dulu, ya. Hihihi.

Terima kasih untuk pelajarannya, Tuhan. 🙂

Advertisements

9 thoughts on “Pamer?

  1. bok gue sering banget merasa sepemikiran ama lo, bahkan gue pernah mute dan akhirnya unfollow gak gue follow2 lagi (padahal kenal) sama orang2 yg rabid-mom-to-be atau bahkan bridezilla2 norce di luar snaa yg dikit2 ngepost dengan kadar lebay 500% dari normal. zzz bukannya sirik apa gimana sih lebih ke kadang berita bahagia kalo dipost terlalu banyak kok malah jd ga bikin bahagia orang yg denger dan malah ga ngepoin juga kan, yg ada ilfil gilaaa, mending situ oke? hahahaha
    *sekalian nyampah di komen lo*

    • Boook, gue pikir selama ini apa gue sirik, yaa. Eh lo jg ngerasa yg sama. Emanggg orang macam gitu annoying abiiis. Permah ada yg gue mute sampe setahun, habis itu gue perpanjang mute lagi cuma krn ga enak aja kalo unfollow. Hhaha.

  2. Hahhaha.. Gw juga sering ngerasa gitu mi. Merasa betapa banyaknya orang2 “annoying” klo mereka terlalu sering nulis atau posting tentang satu hal. Misal hamil, anaknya pinter sesuatu, atau apalah. Smpai ada yg gw unfriend lho saking annoyingnya, hihi.. Tp yaa akhirnya kembali ke diri sendiri sih. Mesti menata hati dan perasaan biar ga terlalu terpengaruh. Klo kata suami gw sih, cuekin ajalah apa yg ditulis orang, ga usah terlalu dipikirin atw dimasukin hati. Khan ga lucu klo kitanya udah misuh2 atau galau sendiri padahal merekanya ga sadar atau hepi2 aja. Hhehe..

    • Hahahah iyaa.. mau dicuekin, tapi kebaca juga. Jadi sering gue log out aja deh dari socmed. Kalau udah redaan baru gue liat lagi. Annoying amat deh itu yang suka pamer. Hihihi.

  3. Karena Tuhan tahu saya niatnya pamer, maka belum dikasih, deh.

    >> OMG mbaaaak….. exactly what my husband said to me! Eh ya gak exactly sih, krn dia pake kata ‘sombong’.
    salam kenal ya, btw.

    • Hai Mbak Tyke, aku silent reader di blog Mbak, lho. :)) Hahaha, iya bener kan, ya. Mungkin belum dikasih karena masih sombong, belum apa-apa mau pamer. Hihihi. *maluuu*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s