Angels On Earth

Beberapa hari lalu, sebuah notifikasi masuk ke e-mail saya, menandakan ada comment dari blog yang masuk.

Naomi, saya Murad, suami Jeanette. Kebetulan 3 hari yl saya baca tulisan anda mengenai Jeanette. Saya kemudian ingin menghubungi anda untuk memberikan 2 (dua) buku memoir Jeanette yang saya susun, tapi saya tidak dapat menemukan alamat email anda maupun no hp anda di Bag.Klinis Fak.Psikologi UI. Juga saya tidak dapat menemukan Melvi’s. Bila anda berkenan memberikan alamat anda dan Melvi (tentu alamat email juga) kepada saya, saya ngin mengirim 2 buku memoir Jeanette tsb ke anda dan Melvi. Semoga ini dapat mencapai anda. Salam. Murad

Betapa terkejutnya saya mendapati e-mali dari Pak Murad, suami alm. Ibu Jeanette, dosen saya di UI dulu. Beliau menemukan saya lewat tulisan ini di blog. Tulisan ini saya buat 1,5 tahun lalu selesai menemui Ibu Jeanette untuk terakhir kalinya.

Saya dan Melvi tidak tahu kenapa dan apa yang membuat Pak Murad ingin sekali memberi buku memoir Ibu Jeanette kepada kami. Melvi mungkin lebih kenal dekat dengan Ibu Jeanette karena beliau adalah pembimbing thesisnya selama satu tahun. Sementara saya ‘hanya’ dibimbing Ibu Jeanette untuk satu kasus institusi saja yang berlangsung sekitar satu bulan. Tapi selama satu bulan dibimbing Ibu Jeanette menimbulkan kesan yang mendalam. Ia mengajarkan dan mendorong saya untuk yakin dengan kemampuan saya dan bahwa sayalah yang paling mengerti dengan kasus yang saya ambil. Setelah dibimbing oleh banyak dosen yang rata-rata menimbulkan kesan galak dan tidak mencerminkan seorang psikolog, bertemu dengan Ibu Jeanette seakan mengembalikan semangat dan keyakinan saya lagi.

Saya masih ingat betul, Ibu Jeanette adalah salah satu orang yang membuka gerbang bagi saya untuk mencapai cita-cita saya sebagai psikolog. Untuk mengambil S2, saya harus mengikuti serangkaian ujian yang cukup sulit. Ujian terakhir adalah diskusi kelompok dan wawancara. Saya masih ingat betul, waktu itu penguji saya adalah Ibu Titin (yang kemudian menjadi pembimbing thesis saya nantinya) dan Ibu Jeanette. Saya bukan orang yang cukup aktif di dalam diskusi kelompok. Saya hanya mengatakan apa yang perlu saya katakan dan membiarkan orang lain mendominasi diskusi. Saya pikir, saya bukanlah orang yang menonjol waktu itu. Kemudian, ketika wawancara dengan Ibu Jeanette dan Ibu Titin, saya jujur mengatakan saya ingin menjadi psikolog karena saya tertarik dengan perilaku orang lain dan itu membantu saya dalam menulis karena saya suka sekali menulis dan membuat novel. Saya tidak berusaha membuat mereka terkesan dengan mengatakan saya ingin jadi psikolog hebat karena kenyataannya saya ingin menjadi psikolog ya karena saya suka dunia ini. Ibu Jeanette waktu itu tertarik sekali mendengar cerita saya tentang bagaimana saya menulis, membuat novel, dan pernah bekerja di majalah yang notabene menulis juga. Waktu itu saya pikir, jawaban saya terlalu biasa untuk diterima menjadi mahasiswa profesi. Tapi kenyataannya, mereka membuat saya lulus. Mereka melihat saya punya potensi untuk menjadi psikolog, lebih dari apa yang saya percayai. She was the first person who believed in me.

Saya ingat waktu itu beliau mengajar teknik CBT di kelas dan  meminta kami untuk membuat kelompok dan mencobanya. Saya membuat kewalahan teman praktikum saya dengan banyak bertanya dan mengetes teknik yang dimilikinya (hihihi, saya suka sebal dengan orang yang sok pintar, jadi saya pun suka mengetesnya). Kemudian, Ibu Jeanette mendatangi kami dan membantu teman saya. Ia hanya tersenyum cengengesan melihat saya bertanya terus dan tahu saya pasti lagi iseng.

Di tengah keraguan dan ketidaksukaan saya atas perilaku beberapa dosen yang tidak menggambarkan seorang psikolog, Ibu Jeanette mengembalikan kepercayaan saya lagi. Ia seorang yang sabar, ramah, berdedikasi, disiplin, dan mampu berempati dengan siapa pun. Saya ingat saya pernah berkata dalam hati bahwa suatu saat saya ingin menjadi seorang psikolog seperti Ibu Jeanette. Beliau seorang role model yang tidak perlu berkata banyak tapi sudah menunjukkan apa yang diperlukan untuk menjadi seorang psikolog.

Salah satu yang menarik mengenai Ibu Jeanette adalah hubungannya dengan suaminya, Pak Murad. Saya selalu memandang mereka sebagai pasangan yang menyenangkan, lucu, dan romantis. Bayangkan, sudah mengarungi pernikahan selama itu, Ibu Jeanette masih masak untuk Pak Murad dan memperhatikan detil-detil yang diperlukan suaminya.

Ketika Ibu Jeanette meninggal, untuk pertama kalinya saya bertemu Pak Murad. Rambutnya sudah memutih, pakaiannya sangat rapi (yang kemudian saya mengerti kenapa beliau serapi itu setelah baca memoirnya), dan lembut. Ia menyalami saya dan Melvi, dua orang yang asing baginya tapi disambutnya dengan ramah. Pak Murad secara spontan mengatakan bahwa Ibu Jeanette pasti sekarang bahagia karena banyak sekali orang yang datang di pemakamannya. I couldn’t hold my tears.

Satu setengah tahun kemudian, mendapati Pak Murad begitu gigih mencari kami (yang tidak ada apa-apanya ini) membuat saya merasa sungguh terharu. Saya mendapati bahwa Tuhan menciptakan Pak Murad dan Ibu Jeanette dengan sungguh baik. I am so honored to have a chance to read the memoir.

Pak Murad mengirimkan 2 buah buku berjudul Tears of Love and Memories dan Tears of Love and Memories One Year Later. Segera setelah saya mendapatkannya, saya membacanya dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Saya tidak mampu menahan air mata saya membaca kisah pertemuan mereka, bagaimana mereka menikah, dan saat-saat terakhir Pak Murad ketika mendampingi Ibu Jeanette. Saya pun terharu mendapati begitu banyak surat yang ditulis saudara, kerabat, kolega, mahasiswa, dan teman-teman untuk Ibu Jeanette. Betapa banyak yang mencintainya dan merasa kehilangan dengan kepergiannya. Mungkin Ibu Jeanette merasa ia tidak punya banyak teman sehingga beliau tidak yakin akan ada orang yang datang ke pemakamannya, tapi kenyataannya beliau menyentuh hati kami dengan caranya sendiri.

Ibu Jeanette adalah salah satu pendorong dan penyemangat saya. Ketika saya merasa bosan, kesal, dan tidak yakin, saya akan selalu teringat kata-kata beliau yang mengatakan bahwa saya mampu dan saya bisa. Kata-kata itu yang meyakinkan saya untuk terus maju dan berharap suatu hari nanti bisa seperti Ibu Jeanette.

Jika Ibu Jeanette membaca ini dari surga, terima kasih, Ibu. Untuk kebaikannya, untuk semangatnya, dan untuk dorongannya. You left a good mark in my heart.

Untuk Pak Murad (yang jika suatu saat terdampar di blog ini lagi), terima kasih sudah menghadiahi kami kesempatan untuk mengenal Ibu Jeanette lebih dalam lagi. Tidak ada ucapan terima kasih yang sanggup menggambarkan betapa saya merasa terhormat dengan usaha Bapak dan hadiah buku memoir ini. Semoga Bapak selalu sehat dan terus menginspirasi kami. Terima kasih untuk pelajaran mengenai hubungan cinta dengan Ibu Jeanette yang begitu tulus. Anda mengajarkan bahwa perkawinan seharusnya sesederhana itu. Terima kasih, Pak. 🙂

Buku memoir Ibu Jeanette

Buku memoir Ibu Jeanette

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s