To All The Mums

Dapat tulisan ini dari blognya Smita dan Miund. Saya sendiri belum menjadi seorang ibu, tapi saya banyak follow blog dan twitter mengenai parenting, jadi tahu kalau dunia pengasuhan di luar sana kejam banget. We judge and we think we know better than other. Entah soal ASI vs susu formula, working mom vs stay at home mom, pake baby sitter vs urus sendiri, dan masih banyak lainnya. Kejam, cyin!

Nggak usah jauh-jauh, pacar saya (yang jadi suami sekarang, hihihi) pernah bilang kalau dia pengen saya tetap kerja walaupun punya anak. Saya sih oke aja, tapi saya bilang ada situasi-situasi di mana mungkin aja saya harus jadi ibu rumah tangga. Waktu itu, si pacar ngotot harus tetap kerja, dong. Kan udah sekolah tinggi, sayang kalau nggak dipakai ilmunya. Dia memakai contoh ibunya yang wanita karir sampai beliau pensiun.

Saya menceritakan ke dia mengenai kisah Mama saya. Mama dulu adalah wanita karir. Waktu saya dan adik saya lahir, Mama tetap kerja. Dia bangun pagi-pagi sekali untuk bikin sendiri makanan kami dan karena waktu itu dia PNS, dia bisa pulang jam 4 sore. Sampai rumah, Mama yang pegang kami. Pembantu cuma bantuin aja. Semua urusan bikin PR, belajar, siapin baju, makan, Mama yang urus. Kadang-kadang, kalau PRT lagi pulang kampung, Mama bawa kami berdua ke kantor. Kami disuruh main-main sendiri, sembari Mama bekerja.

Beda keadaannya waktu adik saya yang paling kecil lahir. Waktu itu karena ketuban pecah dan si adik sudah menelan banyak air ketuban, dia lahir dengan paru-paru yang sulit bekerja. Kesempatan hidupnya cuma 50%. Puji Tuhan, dia selamat dan baik-baik saja. Mama kembali bekerja seperti biasa. Tapi si adik ini selalu sakit demam kalau Mama tinggal kerja. Jadi Mama harus buru-buru pulang untuk ngurusin. Baru si adik bisa turun demamnya. Itu terjadi berkali-kali sampai Mama sering cuti untuk ngurusin si adik. Karena udah cuti berkali-kali tapi si adik tetap sakit-sakitan dan nggak bisa ditinggal, Mama minta cuti di luar tanggungan negara, alias cuti panjang tanpa dibayar. Kalau Mama di rumah, si adik baik-baik saja dan semakin sehat. Akhirnya Bapa bilang kayaknya Mama harus berhenti kerja dan fokus sama si adik. Ish, Mama kan orangnya aktif banget dan suka dengan pekerjaannya, jadi buat dia itu dilema yang besar. Tapi kemudian, Mama nggak mungkin mengorbankan kesehatan anaknya demi pekerjaan, kan. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti kerja dan jadi ibu rumah tangga.

Happy ending? Belum. Dari wanita karir jadi ibu rumah tangga yang di rumah aja ngurusin anak bikin Mama jadi stres. Selama dua tahun, dia bolak-balik doctor shopping karena merasa sakit padahal nggak pernah ada diagnosa apa-apa. Sampai akhirnya di dokter terakhir, si dokter bilang Mama stres dan harus melakukan hal yang dia senangi untuk keluar dari stresnya. Di situ Mama baru sadar kalau dengan keluarnya dia dari pekerjaan, bikin dia merasa stres, minder, dan nggak tahu harus ngapain.

Mama akhirnya menerima kalau dia jadi ibu rumah tangga dan akhirnya mencari banyak kegiatan. Dia gabung dengan ibu-ibu komplek, ikut dharma wanita, olahraga, kegiatan sosial, nge-mall, dan buanyak kegiatan lainnya. Mama tetap bangun pagi untuk siapin sarapan anak-anaknya dan nganterin kami ke sekolah tiap hari, lalu setelah itu dia berkegiatan sampai sore. Buat kami, pulang sekolah nggak ada Mama di rumah mah bukan hal yang aneh. Mama udah kasih aturan ini-itu ke PRT yang harus kami ikuti setelah pulang sekolah. Hari-hari di mana kami les, pasti Mama ada di rumah untuk anterin. Dari sore ke malam, Mama pasti udah stand by untuk ngawasin kami belajar dan ngecek PR/ujian kami. Prestasi kami di sekolah baik dan kelakuan kami nggak ada yang aneh-aneh.

For me, she is a super woman. 🙂

Setelah saya menceritakan itu ke si pacar, dia akhirnya bisa mengerti bahwa situasi setiap keluarga berbeda-beda. Ada saatnya seorang ibu memang harus memilih jadi ibu rumah tangga atau wanita karir, dan semuanya itu baik karena pasti sudah dipertimbangkan masak-masak. I respect that her mother was a working mother and I respect that my mother was a stay at home mom. Equal, not less and not more.

Masih banyak contoh lainnya di mana seorang ibu harus mengambil keputusan yang nggak ideal, tapi nggak berarti mereka ibu yang buruk. Ibu pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya, kan. Apa pun pilihan yang ia ambil.

Semoga tulisan di bawah ini bisa membuat hati adem, ya.

To the mum who’s breastfeeding: Way to go! It really is an amazing gift to give your baby, for any amount of time that you can manage! You’re a good mum.

To the mum who’s formula feeding: Isn’t science amazing? To think there was a time when a baby with a mother who couldn’t produce enough would suffer, but now? Better living through chemistry! You’re a good mum.

To the cloth nappy mum: Fluffy bums are the cutest, and so friendly on the bank account. You’re a good mum.

To the disposable nappy mum: Damn those things hold a lot, and it’s excellent to not worry about leakage and laundry! You’re a good mum.

To the mum who stays home: I can imagine it isn’t easy doing what you do, but to spend those precious years with your babies must be amazing. You’re a good mom.

To the mum who works: It’s wonderful that you’re sticking to your career, you’re a positive role model for your children in so many ways, it’s fantastic. You’re a good mum.

To the mum who had to feed her kids from the drive thru all week because you’re too worn out to cook or go grocery shopping: You’re feeding your kids, and hey, I bet they aren’t complaining! Sometimes sanity can indeed be found in a red box with a big yellow M on it. You’re a good mum.

To the mum who gave her kids a homecooked breakfast lunch and dinner for the past week: Excellent! Good nutrition is important, and they’re learning to enjoy healthy foods at an early age, a boon for the rest of their lives. You’re a good mum.

To the mum with the kids who are sitting quietly and using their manners in the fancy restaurant: Kudos, it takes a lot to maintain order with children in a place where they can’t run around. You’re a good mum.

To the mum with the toddler having a meltdown in the cereal aisle: they always seem to pick the most embarrassing places to lose their minds don’t they? We’ve all been through it. You’re a good mum.

So please, stop judging. Whatever choices they make, they’re all good mums. 🙂

Advertisements

One thought on “To All The Mums

  1. wow…mudah2an tulisan kakak ini dibaca oleh jutaan orang diluar sana yang suka ‘menyudutkan’ ibu rumah tangga dan ibu yang tidak menghasilkan ASI. Buatku, mau bekerja atau tidak, mau ASI atau sufor, asalkan mereka melakukan itu demi kebaikan anak dan keluarga, mereka tetap ibu-ibu yang terhebat, pahlawan keluarga 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s