Bangkok In A Glimpse 1

Halo!

Minggu lalu saya baru aja liburan bareng Merlyns (minus Marisol dan Ella) ke Bangkok. Trip ini udah direncanakan lamaaa banget. Beli tiketnya kira-kira udah setahun yang lalu. Tapi benar-benar baru dipersiapkan 1 bulan sebelum pergi, sih. Hihihi, emang kita deadliner abis!πŸ˜€

Day 1
Kita naik pesawat Air Asia (seperti biasalah pesawat murah meriah yang kalo dipikir-pikir tiket ini nggak murah juga, sik! Flight-nya sore jam 16.45. Untungnya pesawat nggak pake delay. Karena kita check in nggak barengan jadi kita duduknya jauh-jauhan. Yang duduk deketan cuma Lydia dan Yenny (oh ya, Yenny lagi hamil 4 bulan, lho). Sementara saya dan Stefany duduk jauhan. Tenyom berangkat dari Penang karena beberapa hari sebelumnya dia liburan di Singapore dan Malaysia (hih, enaknya!).

Seperti biasa deh, ya. Saya yang takut naik pesawat ini disuruh bertahan di pesawat selama 3,5 jam sih PR banget, deh. Mana saya nggak dapat tempat duduk di dekat jendela (walaupun penakut, saya wajib duduk dekat jendela karena ngeliatin sayap pesawat membuat saya merasa aman. Hihihi). Dua seat sebelah saya adalah sepasang kakek-nenek. Mereka nggak nyebelin, sih. Cuma ya itu, jendelanya ditutup cobaaak! *gelisah*. Selama 1 jam pertama saya komat-kamit berdoa dengan wajah pucat. Karena udah ketakutan saya beli air mineral seharga Rp 9.000 (mahal gilaaak) dan berniat untuk minum Antimo supaya ngantuk. Tapi nggak saya minum juga karena berusaha bertahan dong ya ceritanya. Emang turbulensinya gede banget? Ya nggak, sik. Namanya juga takut naik pesawat, goncangan kecil juga bikin merinding, deh.

Untungnya tiba-tiba Stefany datang dan ngajak pindah duduk di belakang barengan Lydia dan Yenny. Penyelamat banget, deh! Sisa 2,5 jam itu jadi nggak berasa karena kita ngobrol terus. Fokus saya udah nggak di turbulensi lagi. Hihihi. Senangnya lagi, pesawatnya sampai lebih cepat 20 menit. Jadi jam 8 malam kita udah sampe di Bangkok. Yeay!

Kita mendarat di Bandara Don Muaeng. Bandara lama yang mirip Soekarno Hatta. Begitu sampe, saya langsung ke informasi mengenai taksi. Ditawarin taksi seharga 700 THB. Whaaaat, mahal amiiit! Langsung deh saya bilang maunya yang murah aja *turis medit*, ya udah ditunjukin naik taksi ber-argo seharga 350 THB. Yes, hemat setengahnya! Tapi ya itu dia, karena kebanyakan turis memilih taksi ini ngantrinya juga panjaaang banget. Nggak papa deh, ya. Demi murah.

Taksi di sana warna-warni banget. Heboh!

Taksi di sana warna-warni banget. Heboh!

Setelah nunggu taksi 15 menit, masuklah kita ke sebuah taksi berwarna pink dengan supir yang untungnya ngerti bahasa Inggris dan nggak cerewet. Kita naik 2 kali tol sampe akhirnya sampe ke hotel kita di daerah Silom. Hotel kita ini emang kecil, mirip hostel. Namanya Take A Nap. Senangnya adalah hotel ini punya berbagai pilihan tema kamar dan ukuran kamar dan bed. Karena kita pergi berlima, kita pesan satu kamar dengan 5 beds. Kamarnya luas banget! Masing-masing dapat tempat tidur yang bersih, handuk, gantungan, dan breakfast. Hotelnya juga bersih dan dirapihin tiap hari. Lebih dari cukup untuk liburan yang sebagian besar waktunya dipake di luar dan cuma numpang tidur aja.

Luas banget kamarnya

Luas banget kamarnya

Karena udah malam, sekitar jam 21.30 dan ada bumil yang kelaparan, kita berlima jalan kaki cari makan. Jalanlah ke belakang hotel. Daerahnya rame banget, banyak tempat karaoke dan restoran Jepang. Tentunya banyak orang Jepang juga. Oh, dan perempuan-perempuan berpakaian seksi. Entahlah ini daerah apa. Hahahaha! Bukannya pergi dari sini, kita tetap aja jalan menyusuri jalan itu. Nggak ada yang ganggu kita juga. Akhirnya terdamparlah kita di satu restoran Thai yang sepi. Karena lapar jadi kita pesan makanan yang ternyata rasanya nggak enak dengan harga mahal. Ya udahlah yaaa… yang penting perutnya keisi. Oh ya, saya sempat beli crepes di pinggir jalan juga seharga 20 THB. Enak banget!

Jalanan yang penuh dengan restoran dan karaoke Jepang. Nyasar, bok!

Jalanan yang penuh dengan restoran dan karaoke Jepang. Nyasar, bok!

Crepes kesukaanku

Crepes kesukaanku

 

Sehabis puas makan, kita balik lagi kehotel dan siap-siap untuk tidur. Besok masih banyak rencana. Asiiik! *bobo cantik*

Day 2
Karena excited, kita pun bangun pagi. Rencana hari ini adalah keliling kuil di Grand Palace dan Wat Arun, serta belanja di Ikea.

Karena ada bumil seluruh perjalanan di Bangkok ini dilakukan dengan taksi (bye bye BTS dan MRT). Oh ya, karena satu taksi berlima jadi emang lebih murah sih kalo naik taksi daripada BTS/MRT. Naik MRT per orang kalo jaraknya jauh bisa 40 THB. Sementara kalo naik taksi perjalanan paling menghabiskan 100 THB, tinggal bagi 5 aja. Murah, kan?

Hari ini matahari teriknya minta ampun. Kalo mau ke daerah kuil, kita harus pake baju yang sopan, alias jangan pake hot pants dan kaus kutung. Entar nggak boleh masuk. Kita turun di depan Grand Palace. Waktu baru turun kita ketemu satu penduduk lokal yang lagi jalan. Ngakunya sih dia teacher. Dia ngeliat kita lagi kebingungan dan jelasin kalo hari itu Grand Palace lagi tutup paginya karena ada upacara untuk mendoakan keluarga kerajaan. Lah, sial amat, nih. Tapi Wat Arun yang ada di seberang Sungai Chao Phraya tetap bisa dikunjungi. Dia menyarankan naik tuk-tuk ke dermaga, habis itu ikut boat tour selama 1 jam nunggu Grand Palace buka. Oh, oke, deh.

Pertama kali naik tuk-tuk perasaannya adalah…..takut, mak! Coba bayangin aja tuk-tuk itu semacam Β bajaj tapi hobinya ngebut. Gilaaaa, langsung pegangan erat-erat, deh. Oh ya, naik tuk-tuk ke dermaga Chao Phraya itu 20 THB. Pas turun langsung ada orang yang menawarkan boat tour dengan harga 700 THB. Mahal gilak! Padahal di itinerary, nyebrang ke Wat Arun itu cuma 3 THB, lho. Wah, salah turun dermaga, nih. Curiga si teacher tadi kerjasama dengan tuk-tuk dan boat tour buat nganterin kita ke sana.

Tentu saja sebagai turis hemat, 700 THB mah mendingan buat belanja, ya. Tapi ternyata setelah berdiskusi ya udahlah boleh juga diikutin soalnya dia bilang ada kebun bunga, ikan-ikan, dan floating market. Teringat bahwa semua yang ada di Bangkok itu bisa ditawar jadi saya tawar dong jadi 500 THB. Awalnya dia nggak mau. Trus saya bilang, “Saya udah 2 kali lho ikut ini. Dulu nggak mahal, kok.”

Tour guide: “Ih, Anda bohong, ya. Ini kan baru buka.”

KWANG KWANG! Ketauan deh boongnya. Hihihi.

Tebal muka aja dan keukeuh pada 500 THB. Eh, dia mau. Oke deh mari naik kapal. Sungai Chao Phraya itu jangan dibayangkan bersih, ya. Warnanya coklat dan masih banyak sampah di sungainya. Agak malesin, sih.

Eh, ternyata di sebelah dermaga kita adalah dermaga dengan perahu seharga 3 THB. Aaa, harusnya jalan aja ke situ. Tapi kita menghibur diri dengan bilang… kan yang ini ikut tour. Jadi lihat lebih banyak. *puk-puk diri sendiri*

Taman bunga? HAH?

Taman bunga? HAH?

Menyusuri Chao Phraya

Menyusuri Chao Phraya

 

Tujuan pertama adalah Wat Arun. Kuil ini berdiri megah di tepi sungai. Cantik banget! Tangga untuk naik ke kuil ini tajam banget. Cuma saya dan Stefany yang naik ke atas kuil. Itu aja kaki saya udah gemeteran saking miringnya itu tangga. Takut, mak! Tapi pemandangan di atas emang menakjubkan. Apalagi langit kelihatan biru banget hari itu. Sempurna!

Wat Arun dari kejauhan

Wat Arun dari kejauhan

IMG_2234

Nice view

Nice view

Dari Wat Arun kita naik kapal lagi menyusuri Chao Phraya. Awalnya sih kita ber-wow wow, tapi lama-lama membosankan juga tour ini. Yang tadi disebut taman bunga itu cuma bunga-bunga seiprit yang ditanam di rumah orang di pinggir sungai. Oh ya, ikan-ikan itu juga semacam ikan lele gede yang kurang menarik juga, sih. Jadi nggak recommended banget. Mendingan naik boat 3 THB dan nyeberang ke Wat Arun aja.

Setelah 1 jam, kita diturunkan di restoran tepi sungai. Waktu itu udah jam 12.30. Laper banget, bok! Untungnya restoran ini ber-AC. Kali ini makanannya enak banget. Segala macem Pad Thai, Thai iced tea, dll kita pesan. Udah gitu harganya lebih murah daripada restoran Thai kemarin pulak. Ya udah deh, kita makannya nggragas banget. Macam nggak lihat makanan dari bayi aja.

Perut kenyang, tentu saja hati senang. Lanjuuut! Kita jalan kaki ke arah Grand Palace. Ternyata seperti si teacher itu bilang Grand Palace lagi tutup. Huhuhu! Dia menyarankan kita naik tuk-tuk seharga 30 THB ke 3 Wat dekat Grand Palace. Seakan nggak bosen ditipu, kita pun mengikuti saran itu.

Yang pertama ke suatu kuil yang entah apa namanya. Bagus! Si tuk-tuk mau nungguin kita keliling kuil itu. Oh ya, untuk masuk harus bayar 20 THB.

IMG_2297

IMG_2305

Kuilnya terletak di pinggir sungai

Kuilnya terletak di pinggir sungai

Muter-muter kuil itu udah jam 3 sore aja. Kita udah mulai capek dan dehidrasi karena cuaca panas banget. Kita mutusin buat stop aja tur keliling kuilnya dan langsung menuju IKEA. Pas kita bilang ke supir tuk-tuk, dia bilang nggak boleh. Lah, piye, toh? Padahal untung di dia kan ya kalo kita nggak sampe habis tapi bayar full. Ternyata dia kerja sama dengan toko perhiasan dan batu-batu hiasan kalo bisa bawa turis ke sana, dia akan dapat bensin gratis. Makanya itu charge tuk-tuk kita murah. Oh gitu. Oke, deh. Kasian juga dia. Kita ikut deh ke toko perhiasan itu.

Di dalam toko itu nggak boleh foto, ya. Kita ditawari banyak perhiasan. Yang mana kita lirik sekilas aja soalnya harganya lebih mahal daripada uang yang kita bawa buat 4 hari. HAHAHAHA! Seandainya mereka tau kita datang dengan budget pas-pasan pasti mereka males deh ngeladenin kita. Hihihi.

Dari toko itu kita langsung dianterin ke Big Buddha lewat jalan belakang yang mana adalah pasar. Di pasar ini jual banyak makanan khas Thai, salah satunya adalah serangga goreng, seperti kecoa (AMPUN DEH GELI!) dan belalang. Kita cuma mendelik geli aja deh liat makanan macam begitu. Kita cuma melewati Big Buddha dan nggak mampir karena udah kegerahan. Kita langsung cari taksi aja ke IKEA di Mega Bangna.

Pasar di belakang Big Buddha

Pasar di belakang Big Buddha

Cek warna-warni yang bikin ngiler

Cake warna-warni yang bikin ngiler

Cari taksi untuk ke Mega Bangna cukup sulit juga. Jarang yang mau ke sana, atau sekalinya mau ke sana nggak mau pake argo. Hih! Kita keukeuh dong cari taksi yang pake argo. Jadi ternyata Mega Bangna itu letaknya jauh banget. Semacam Bekasi-nya Jakarta kali, ya. Untungnya kita dapat taksi yang mau pake argo dan menghabiskan sekitar 100 THB. Jauh banget kan berarti.

Begitu menjejakkan kaki di Mega Bangna yang merupakan sebuah mall gede banget, hati langsung adem. Banyak banget tempat makan yang familiar kayak Toast Box, Starbucks, KFC, McD, dll. Senaaang!

Gede banget mall ini

Gede banget mall ini

Kita ngemil dulu di Toast Box. Habis itu masuk ke mall mau cari WC… yang berakhir malam kalap belanja di Cotton On karena lagi sale. HAHAHA! Di mall ini ada semua toko-toko ciamik yang nggak buka di Jakarta. WHY JAKARTA, WHY?😦

Setelah agak kere karena belanja langsung tutup mata dan lurus terus ke IKEA. IKEA-nya gedeee banget. Begitu masuk IKEA, kita yang tadinya jalan sama-sama udah lupa diri, deh dan akhirnya misah dengan sendirinya. Sibuk dengan belanjaannya masing-masing. Ya Tuhan godaannya terlalu berat di IKEA. Kalo boleh nginep aja di IKEA, deh. Eh, di Jakarta kapan bukanya, sik? Kok nggak ada kabarnya lagi? Bohong ya kamu! #drama

Kalap!

Kalap!

Segala lukisan, bunga, vas dibeliin

Segala lukisan, bunga, vas dibeliin

Tebak kita selesai belanja jam berapa. Jam 9 malam! Kalap, mak! Segala macam vas bunga, lukisan, lampu, bantal dibeliin. HUAHAHAHA tutup mata aja, ah. Oh ya beli barang sebanyak itu cuma ngabisin 1000 THB alias 300 ribuan. Murce kan, ya.

Setelah kalap belanja baru deh lapar banget. Kita naik ke lantai atas makan McD. Serius itu frenc fries di McD berasa enak banget karena baru dimasak dan gurih. Sampe kita pun nambah. Hihihihi.

Sampe mall-nya tutup jam 10 malam kita baru kelar. Nunggu taksi pun harus antri karena banyak yang mau pulang naik taksi. Kali ini kita dapat taksi yang pake argo dan ramah.

Dia pasangin kita lagu top 40 seperti Celine Dion dan Mariah Carey. Dia juga inisiatif telponin hotel kita untuk nanya arah jalan. Keren, deh.

Sampai hotel, tinggal kaki yang pegal minta ampun. Baru deh berasa mau patah dan capek. Tapi hati senang. Hihihi.

*to be continued*

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Bangkok In A Glimpse 1

  1. kak, kakak tau ga kalau kakak dan teman2 sudah dibohongi si teacher itu? BOHONG itu kak, dia itu sekongkol sama tukang tuk2 itu, supaya kk pergi ke wat arun naik tuk2 temannya dan dia dapat komisi.

    sebelum jalan ke bangkok dl, aq udah nyari2 info, dan katanya kl ada yg bilang grand palace tutup itu bohong. coba aja jalan ke gerbang yang agak ke belakang lagi, disana ada gerbang tengah tempat turis masuk, dan benarlah aku ngelihat turis2 lagi antri di gerbang situ, untung aku ga ketipu jadi bisa masuk ke grand palace… hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s