Bunda Omi

Seminggu ini lagi sibuk banget. Lihat blog aja nggak sempat. Gilak, canggih ya kesibukannya *kemudian hidung memanjang*. Hihihi.

Beberapa hari lalu, seorang teman kirim foto ini:

Sebelahan sama Bunda Romi. Sebentar lagi akan menjadi Bunda Omi. :)))

Sebelahan sama Bunda Romi. Sebentar lagi akan menjadi Bunda Omi. :)))

Ciyeeeh, masuk tabloid nih, ye! *tersipu-sipu malu*

Wawancara ini dilakukan udah beberapa minggu lalu oleh tabloid Femme. I had no idea when it would be published. Udah lupa juga malahan.πŸ˜€ Sebenarnya ini bukan pertama kali muncul di majalah, tapi ini pertama kalinya saya muncul disertai dengan foto *penting*. Tau gitu kasih foto dari studio foto kan, ya *lalu dikira mbak-mbak tahun 90an*.

Dulu, nulis di majalah karena saya jurnalisnya. Itu aja udah senang setengah mati setiap lihat nama saya ditulis di bawah artikel. Dulu sering disuruh menghubungi psikolog untuk menambahkan informasi di artikel yang saya tulis. Waktu itu saya mikir, ih pengen deh jadi psikolog yang jadi narasumber.

Lalu kemudian saat udah kerja dapat kesempatan dapat kesempatan lagi untuk nulis artikel tetap di tabloid Bintang Indonesia. Dikasih kesempatan gitu ya senang banget dong, apalagi ini sesuai dengan kapasitas saya yang udah jadi psikolog. Tapi… tapi… kan pengen ngerasain diwawancara gitu, lho *cita-cita cetek*πŸ˜„

Pertama kali jadi psikolog narasumber di majalah Cleo yang terbit tahun lalu. Ternyata rasanya jadi narasumber dan namanya dicetak tebal di artikel itu bikin senang dan bangga banget. Hei, saya kelihatan pinter banget kayaknya. Ini toh rasanya jadi Bunda Romi? *kenapa Bunda Romi cobaaa?* Tapi di situ belum ada foto saya. Jadi ya cuma tampak nama aja. Sayangnya lagi, saking senangnya dibawa ke mana-mana deh majalah Cleo itu sehingga saya lupa di mana naronya. Gimana nih cita-cita pengen nunjukin ke anaknya kelak kalau mamanya pernah masuk majalah? *cita-cita kejauhan*

Nah, kali ini saya diwawancara oleh tabloid Femme. Mereka meminta saya untuk mengirimkan foto juga. Alamaaak, saya kurang punya foto yang bergaya profesional gini. Misalnya, kayak lagi duduk di meja kerja sambil tersenyum elegan gitu. Aduh, gawat! Ya udahlah ya, terpaksa kasih foto yang ada di laptop kantor yang sekiranya ukurannya besar. Yang penting nggak terlalu malu-maluin kalo ditaro.

Setelah itu, saya lupa deh pernah diwawancara sampai suatu ketika teman saya ngirimin foto saya di tabloid. Yihaaa, kesempatan jadi narasumber sebagai psikolog dan dengan foto tercapai *walau dengan foto kurang ciamik tapi udah keliatan unsur modelnya kan, ya? Siapa tau ada yang nawarin jadi model gitu?* *muntah kelabang*.

Oh ya, sampai sekarang bahkan saya nggak punya tabloidnya. Sedangkan mama saya langsung buru-buru ke tukang majalah dan beli tabloid saya serta menunjukkan ke mana-mana. Emang deh si mama penggemar nomor satuku. Hihihi *kemudian membuat fan base*πŸ˜„.

Okeh, cita-cita selanjutnya, bagaimana kalo seterkenal Bunda Romi dan wara-wiri di TV mengomentari kelakuan artis di infotainment gitu?πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s