Ketika Semesta Mendengar

Sore kemarin di saat saya libur dan sibuk memanjakan diri di salon, datanglah e-mail kantor ke BB saya. E-mailnya berisi bahwa besok ada syuting Metro TV yang meliput kegiatan terapi, salah satunya di bagian saya. Saya cuma baca sekilas. Perkiraan sih paling cuma disyuting diambil gambarnya aja, tanpa perlu ngomong. Kayak beberapa kali yang pernah dilakukan.

Pagi ini karena saya baru potong rambut (ehem, sekarang rambutnya agak pendek) dan efek blow masih keliatan jadi pake baju yang manis, deh. Pagi-pagi diisi dengan meeting mengenai eating disorders awarness, lanjut dengan online couse mengenai eating disorders. Oh ya, kantor saya emang sedang mengadakan eating disorders campaign, di mana gangguan ini semakin meningkat. Sejauh ini hari saya berjalan normal.

Sorenya Metro TV datang. Ternyata oh ternyata, dia mau syuting mengenai eating disorders campaign ini dan tentu fokusnya ada di bagian saya, dong. Mana hari itu teman saya lagi libur dan psikolog satu lagi udah pulang. Jadi semua ada di saya. Eng Ing Eng!

Syutingnya ternyata serius. Beneran meliput kegiatan terapi dan apa yang saya lakukan, lengkap dengan apa yang diomongin. Belum selesai sampai di situ, mereka meminta untuk mewawancara saya sendiri. Close up dan ngomongin eating disorders.

Yang biasanya nggak pernah syuting dan diwawancara langsung on TV, sekarang melakukan itu semua tanpa persiapan ya bikin deg-degan juga. Tangan dan kaki langsung dingin. Gugup banget! Buru-buru baca sekilas hasil online course saya. Berusaha ngapal secepat kilat.

Mereka pun meminta saya memasang clip on, briefing apa saja yang akan ditanyakan, dan men-syuting muka saya segede gaban (untung rambut udah oke karena baru dari salon. Hihi). Mengalirlah itu pertanyaan-pertanyaan seputar eating disorders. Sungguh aku deg-degan tapi harus berusaha cool dan santai sambil tetap senyum. Susyeeeh!

Dengan ini saya akan resmi tampil di TV dalam konteks saya sebagai psikolog. IHIIIIY!πŸ˜€

Jadi inget dari jaman kuliah dulu, saya selalu bilang, “Gue mau jadi terkenal, dong. Tampil di TV, majalah, tabloid.” Tapi dari dulu nggak mau jadi artis, mau jadinya psikolog aja. Biar kalo terkenal keliatannya pinter banget. Keliatan keren, kan? Hahahaha! Ini saya bilang ke semua orang sampe teman-teman saya menjuluki saya psikolog artis. Hihihi.

Untuk orang yang introvert dan pemalu kayak saya tampil di depan umum itu jadi salah satu hambatan. Writing suits me more. Bisa bikin karya tanpa harus tampil di depan umum. Pertama kali nama saya tercantum di majalah waktu saya kerja di majalah remaja. Nama saya tercantum sebagai jurnalis yang membuat artikel itu bikin bangga banget. :’) Ada sensasi luar biasa melihat nama sendiri di karya yang saya buat.

Setelah memutuskan untuk terjun sebagai psikolog, saya beberapa kali nulis artikel psikologi di tabloid dan jadi narasumber di majalah. Itu bangganya berlebih-lebih lagi karena saya nulis mengenai keahlian saya.

Nah, sekarang tiba-tiba syuting dan diwawancara mengenai bidang saya, saya pun langsung teringat ucapan saya beberapa tahun lalu itu. I guess the universe heard it. Masih panjang sih jalannya, tapi sudah selangkah lebih maju, kan? Kali ini saya berhasil ngalahin kegugupan dan ketakutan saya tampil di muka umum. Nggak mungkin kan terkenal tapi nggak keliatan mukanya. I conquer my fear.πŸ˜€

Terima kasih, alam semesta. Terima kasih, Tuhan.πŸ™‚

Maaaak, aye masuk tipi, nih!

PS: tayangannya akan ada di Metro TV hari Rabu, 20 Februari 2013 jam 14.00 WIB.

One thought on “Ketika Semesta Mendengar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s