Kisah Mas Dosen Cakep

Kemarin saya pergi ke Kampus Depok dengan Mbak Psikolog untuk mencari bahan penelitan di perpustakaan. Karena Mbak Psikolog ini lumayan kenal dengan dosen-dosen di sana dan salah satu teman dekatnya adalah dosen di sana maka kita pun berkunjung ke ruang dosen. Surprisingly, ternyata saya masih diingat oleh para dosen. Mereka sangat ramah dan udah nganggep kita rekan sejawat. CIYEEH, bangga bener kan rasanya!

Setelah selesai ngobrol, Mbak Psikolog berkunjung ke dosen lainnya di ruangan yang berbeda. Saya dengan Mas Dosen, teman Mbak Psikolog, ini pun menunggu di luar. Mas Dosen ini dulu pas saya masih kuliah pernah jadi dosen pembimbing saya, lho. Eh, sekarang malah menggosip bersama. Lucu, ya.

Kami pun ngobrol-ngobrol mengenai tujuan saya datang ke sana. Ternyata Mas Dosen ini punya bahan penelitian yang saya inginkan. Dia pun mengajak saya kembali masuk ke ruangannya untuk mengambil bahan tersebut. Nggak berapa lama kemudian, masuklah Mas Dosen Cakep. DEG! Saya pun langsung terkesiap.

Ada apa dengan Mas Dosen Cakep?

Mas Dosen Cakep ini adalah salah satu kecengan saya pas masih kuliah dulu *gambar hati berterbangan di udara*. Secara fakultas ini sebagian besar berisi para perempuan, maka tampak gersanglah kehidupan di sini. Penyemangat belajar pun minim. Maka ketika ada dosen cowok putih, muda, kinclong, badan tinggi tegap, dan kelihatan smart maka bergejolaklah jiwa ini. Tampak seperti menemukan oase di padang gurun.

Setiap dia ngajar maka saya pun berpakaian bagus dan feminin *penting banget kayaknya* serta duduk paling depan dan fokus memperhatikan dia (bukan memperhatikan pelajarannya, lho. Hihihi). Udah segitu aja? Nggak, dong. Kebetulan beberapa teman juga menganggap dia cakep dan suka ngomongin dia. Maka dari itu mulailah kami menggali info sebanyak mungkin tentang dia. Saya sampai tau rumahnya di mana, gerejanya di mana, naik apa ke sini, saudaranya ada berapa, kegiatan di waktu luangnya apa. Bukan cuma itu aja, saya bahkan add akun dia di Facebook. Nggilani lagi, dia pun approve request saya. Huihihi, makin menjadi-jadi dong stalking-nya. Saya lihat album-album fotonya dan bagaimana interaksinya dengan teman-temannya. Stalker much, ya. Hihihi.

Begitu lulus, saya pun masih tetap mendapat info dari berbagai penjuru mengenai dia. Mengenai bahwa dia sekarang udah punya pacar (dulu jomblo, bok) dan bahkan sampai akhirnya menikah. Pertanyaan pentingnya adalah siapa sih ceweknya? Cakep, nggak? Lah, penting amat, ya. Emang saingannya situ? Hihihi.

Kembali ke ruangan dosen kemarin. Begitu Mas Dosen Cakep memasuki ruangan, tiba-tiba Mas Dosen yang tadi membantu saya mencarikan bahan penelitian bilang ke dia, “Eh, ada yang minta disapa, nih,” sambil melirik ke saya.

Seketika ruangan itu runtuh, terdengar petir bergemuruh, dan menyambar saya.

….. OKE, itu di pikiran saya aja, sih.

Mas Dosen Cakep hanya bengong kebingungan, sementara saya malu dan salah tingkah. Saya cuma bisa bilang, “Ih, apaan sih, Mas,” sambil ngeloyor keluar ruangan.

WAIT! Kok, Mas Dosen tau saya pernah naksir Mas Dosen Cakep? APA SELURUH DUNIA JUGA TAHU? *petir menggelegar* Mamaaaak, tenggelamkan aku saja di lautan dan dimakan hiu sampai lumat. Duileh, aib banget ini! Walaupun dalam kenyataannya tetap sok jaim dan cuek. Padahal sih pengen langsung mengubur diri sendiri aja.

Setelah itu saya lagi di koridor sendirian menunggu Mbak Psikolog. Tiba-tiba Mas Dosen Cakep juga lewat koridor itu. Duh, gawat, deh. Pura-pura lihat HP dan sibuk main. Tapi apalah daya, tetap aja saya dan dia berpapasan. Dia pun akhirnya menyapa saya, “Eh, nama kamu siapa? Angkatan berapa?”

Confirmed: dia nggak kenal, nggak ingat, dan nggak tahu saya. Mas, apa nggak ingat masa-masa saya duduk paling depan dengan pakaian paling bagus sambil memelintir rambut genit (that’s what I did exactly –> terdengar seruan GENIIIIT!). Apa gunanya kita berteman di Facebook, Mas? Tak ada artinya kah saya suka mencuri-curi pandang pada dirimu? …. Oke, hentikan sampai di sini. Saya mulai terlihat bak gadis centil yang desperate.

Maka dari itu saya sampai pada kesimpulan: kalau mau menarik perhatian dosen ya mbok jangan lewat penampilan fisik, tapi lewat pertanyaan-pertanyaan dan bahan diskusi jenius sehingga membuatmu terlihat smart dan bakal dilirik. GITU LOH, MI!

Maka dengan tidak dikenalnya saya, dengan resmi berakhirlah kisah kekaguman ini. Biarkanlah kami menjalani hidup masing-masing. *melambaikan sapu tangan berisikan ingus*.

BUBAR PESTANYAAAA!πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

5 thoughts on “Kisah Mas Dosen Cakep

  1. ahahahahahha…. ka, itu mungkin dosennya pun pura2aja kali ga kenal… secara kalau lgsg manggil nama lo bisa langsung masuk danau dan berenang-renang,, ahahaaha *pisss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s