Sesederhana Bahagia

Halooo, udah Jumat aja, nih. Berasanya minggu ini berlalu dengan cepat sekali. Selain cepat, minggu ini juga rasanya menyenangkan. Ada apa? Nggak ada apa-apa, sih.πŸ˜€

Seperti yang saya ceritain sebelumnya kalo pergi ke gereja minggu lalu itu dapat amunisi semangat yang bikin seminggu ini rasanya lebih legowo dan bersyukur. Ada banyak pelajaran yang saya dapat minggu lalu dan pas lihat hidup saya, ya kok rasanya kurang ajar banget untuk nggak bersyukur. It’s not a perfect life, but it’s a good life.

Bersyukur punya suami yang baik banget. Yang tahan ngadepin istri super moody, yang rela tiap hari diuwel-uwel karena istrinya gemes banget sama perutnya (dan nggak bisa tidur kalo belum pegang-pegang perut si suami), yang pagi-pagi pasti udah siap peluk-peluk istrinya sambil bangunin, yang tiap dimasakin istrinya pasti bilang masakannya enak (dan saya selalu meragukan kebenarannya, tapi dia keukeuh bilang masakannya. Jadi mungkin benar enak. Hihihi!), yang siap sedia nganterin istrinya ke kantor tiap Sabtu jadi dia tetap nggak bisa bangun siang, yang selalu bilang istrinya cantik walaupun lagi tumbuh jerawat, yang nggak pernah bilang istrinya tambah gemuk walau timbangan berkata berbeda, yang selalu ngangenin walaupun tiap hari juga ketemu.

Kerjaan yang akhir-akhir ini membludak sampe rasanya tiap hari di kantor dihabiskan lebih dari 12 jam. Bikin capek dan nggak punya tenaga. Begitu punya waktu libur seharian kayak kemarin dan benar-benar bisa sendiri itu rasanya surga. Menghabiskan waktu untuk tidur seharian dan beberes rumah, ditambah masak makan malam buat suami. Trus pas pulang dipuji makanannya enak, entah benar atau tidak. #tetepnggakpedeπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

I’m very grateful for this.

Terutama, setelah awal minggu ini mendapati kabar kalo suaminya sepupu saya yang berumur sekitar 30 tahun terkena infeksi paru-paru dan harus dirawat di rumah sakit. Bahkan sampai hari ini tabung oksigen masih harus dipake dan masih dirawat di rumah sakit. Sepupu saya ini umurnya satu tahun lebih tua dari saya. Baru menikah 1 tahun lebih dikit. Penyebab suaminya masuk rumah sakit, mostly, karena stres. Sebenarnya kalo lihat di rontgen, paru-parunya nggak terlalu bermasalah. Bahkan sebenarnya nggak ada yang terlalu mengkhawatirkan, tapi dalam satu tahun dia udah keluar masuk rumah sakit sampe 4 kali. Minggu lalu bahkan dia sampe masuk ICU.

To see my cousin looking so worry and sad, it made me look at my life, I should be thankful. Masalah yang mereka hadapi sangat berat sampai rasanya saya pikir kalau saya harus menghadapi masalah seberat itu, saya nggak akan sanggup.

Banyak hal yang perlu disyukuri. Terutama hal-hal kecil yang selama ini terlewati oleh saya. Ternyata mensyukuri hal-hal itu bikin saya 100 kali lebih bahagia.

Bahagia itu ternyata sederhana, ya. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s