@Ayah_ASI

Kemarin saya lagi jalan-jalan ke mall bareng suami. Seperti biasa kalo lagi di mall, pasti mampir ke toko buku untuk ngecek ada buku baru apa. Ketika lagi di rak buku baru, si suami lihat ada buku judulnya: Catatan Ayah ASI (#AyahASI). Kebeteluan dia tahu kalo salah satu penulisnya adalah Ernest Prakasa, comic yang cukup dia kenal.

Pas dilihat-lihat, eh kok covernya menarik dan lay-out di dalamnya berwarna, serta ada ilustrasi gambar. Yes, I judge the book by its cover. Kalo covernya udah dibuat menarik dan lay-outnya dibuat dengan niat pasti kan orang tertarik bacanya.

Saya belum hamil, sih, tapi membaca sebanyak mungkin informasi mengenai kehamilan dan parenting adalah sesuatu yang penting buat kami berdua. Dari masa pacaran, saya sering berdiskusi sama si suami mengenai pola asuh yang akan kami terapkan. Sebagian besar misi dan visi kami mirip. Saya menerapkan ke suami bahwa dalam mengasuh anak kita berdua adalah partner. Kan buatnya berdua ya, masa ngurusnya sendiri. Ya, dong? Untungnya suami pun setuju.

Jadi nggak ada salahnya membeli buku ini. Ternyata, ini adalah buku yang bagus banget. Isinya sangat informatif tapi tidak berusaha menggurui.

Pas lagi baca nggak jarang saya terharu banget sama ayah-ayah di buku ini. Hampir mewek malah. Perjuangan mereka membantu istri memberi ASI dan membuat istri happy tuh luar biasa banget.

Kalo dipikir-pikir ASI tuh pasti asupan yang baik banget buat bayi. Dulu, adik bungsu saya masih minum ASI sampe umur 2 tahun. Di antara kami bertiga, dia yang paling pinter dan jarang sakit. Sementara saya, lahir prematur, minum ASI nggak sampe 6 bulan. Sekarang, saya orang yang mudah capek. Daya tahan tubuhnya harus dijaga banget. Makanya saya tuh harus tidur minimal 8 jam, makan teratur 3 hari sekali, bukan karena mau sok sehat. Tapi kalo nggak dilakukan, saya gampang sakit.

Ketika mengandung saya pun, dia dalam keadaan stres dan tekanan darahnya rendah. Jadilah saya sekarang tekanan darahnya rendah dan gampang stres. Kondisi psikologis ibu ternyata berpengaruh banget ya sama anak.

Untungnya sekarang ada twitter dan media online lainnya. Belajar banyak deh dari situ. Sekarang saya ngerti deh kenapa harus ASI eksklusif, IMD, nggak pake dot buat menyusui anak, dan nggak pake susu formula. Sesuatu yang mungkin berbeda dengan orang tua dulu. Belum apa-apa aja, waktu ngebahas soal menyusui dengan Mama, dia bilang, “Kalo bayinya dikasih ASI aja bisa kelaperan, dong”. Dang! Kayaknya si mama harus diajarkan soal ASI eksklusif dan manfaatnya, nih. *siap-siap dari sekarang*

Well, the book is worth to read. You don’t know when you’re going to be pregnant. Until then, let’s learn.πŸ˜€

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s