Pilih Kumis Atau Kotak-Kotak?

Huraaah, ada Pilkada putaran 2 antara si Bapak Foke dan Bapak Jokowi! *senang* *kemungkinan masuk siang lagi*πŸ˜€

Anywaaay, jagoan saya Pak Faisal-Biem kalah di Pilkada. Beliau dapat suara 5%. Eh, tapi lebih tinggi dari Pak Alex dan Pak Hendardji. Lumayan deh ranking 4 di perolehan suara. *puk-puk Pak Faisal-Biem*

Ceritanya di tanggal 11 Juli 2012 kemarin, saya pulang ke rumah orang tua untuk nyoblos. Udah semangat 45 dong mau nyoblos jagoan saya. Eh, pas ditanya sama orang tua mereka langsung menceramahi saya supaya pindah aja ke calon no 3 alias Bapak Jokowi.

“Jokowi itu udah terbukti berhasil.”

“Di Solo tapinya.”

“Iya. Tapi dia walikota terbaik.”

“Masih nominasi doang, kok.”

“Nanti sayang suara kamu hilang kalo pilih Faisal. Dia pasti kalah.”

“Karena itulah aku pilih dia. Tanpa suaraku Jokowi pasti menang. Makanya suaraku lebih bermakna kalau dikasih ke FaisalBiem.”

Dan terdiamlah mereka. Anaknya kayaknya keras kepala banget. Jadi di dalam keluarga, cuma saya yang berbeda memilih FaisalBiem.

Kecewakah saya FaisalBiem kalah? Nggak. Saya tahu kok kalau bisa menang berarti keajaiban banget. Malah dapet 5% itu udah luar biasa, lho.

I am proud to be a part of 5%.

Eh, kenapa sih saya heboh banget pilkada kali ini? Selain karena udah mulai muak dengan Jakarta yang makin parah keadaannya. Baru kali ini juga saya melek politik. Thanks to twitter dan semakin mudahnya informasi yang didapat, saya jadi bisa baca seluas-luasnya dan dari berbagai macam sudut pandang mengenai kondisi politik sekarang.

Kalau dulu milih karena orang tua bilang calon yang itu (katanya) bagus, sekarang saya bisa menentukan pilihan saya sendiri karena saya udah ngerti seperti apa sih calon yang saya mau.

Nah, sekarang kan calon saya udah nggak masuk ke putaran kedua kan, ya. Pertanyaan selanjutnya: saya milih siapa?

Masih belum tahu mau milih siapa. Bahkan masih belum tahu mau milih atau nggak. Bukan karena ngambek jagoannya nggak maju lho, ya. Kebingungan saya karena:

  1. Tentu saja nggak mau milih Foke karena saya nggak ngerti selama 5 tahun kerjanya apa. Oke deh, Jakarta nggak banjir besar lagi. Tapi tingkat kemacetan meningkat drastis. Kayaknya saya udah mulai terbiasa ke mana-mana harus spare 2 jam dulu di jalan. Dua jam lho, ini udah sama kayak ke Bandung. Ya udahlah ya, pokoknya saya nggak mau pilih orang yang bikin saya menua di jalan.
  2. Sebenarnya, Jokowi ini cukup oke, kok. Dari latar belakangnya sih beliau bagus dalam memimpin kota Solo. Bisa saja saya milih dia supaya Foke nggak menang. Tapi masalahnya, kenapa orang di belakang dia adalah Prabowo? Ini yang bikin saya gerah. Prabowo adalah salah satu orang yang diduga terlibat dalam penembakan tragedi Trisakti tahun 1998 yang lalu. Gimana kalo Jokowi yang mimpin sebagai salah satu cara Prabowo maju jadi presiden. Nggak banget kan, ya. Makanya saya jadi ragu milih Jokowi.

Masih ada 2 bulan lagi untuk membaca sebanyak-banyaknya mengenai kedua calon gubernur dan memutuskan mau milih yang mana, atau sekalian nggak milih dua-duanya.

Yang pasti, semoga Jakarta menjadi lebih baik, ya.πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s