Selamat Jalan, Ade

Masih inget cerita tentang teman saya yang sakit di sini? Teman saya, Ade Anugrah, sudah berpulang pada tanggal 30 Mei 2012.

Waktu itu saya lagi di bioskop, menonton sama suami yang lagi berulang tahun. Handphone saya masukin ke tas dan di-silent. Entah kenapa, tiba-tiba di tengah film, saya pengen lihat HP. Teman-teman sudah ramai memberitahukan bahwa Ade telah meninggal tanggal 30 Mei 2012 jam 19.15.

Rasanya kayak ada petir yang menyambar kepala saya.

Tiga hari sebelumnya, saya masih BBM-an sama Ade. Saya baca di twitter ada yang namanya Ade Anugrah dan membutuhkan darah untuk operasi di RSCM. Saya pun langsung BBM Ade dan menanyakan apakah itu dia. Dia bilang iya. Dia butuh darah untuk operasi besar besoknya. Saya pun langsung menyebarkan info itu ke twitter dan grup BB. Untungnya nggak lama kemudian, Ade BBM saya dan bilang kalau kebutuhan darahnya sudah terpenuhi. Puji Tuhan. Saya pun mendoakan supaya operasinya berjalan lancar.

Dua hari kemudian, saya ketemu Neng Melvi. Kata si Neng, operasi Ade selama 14 jam berjalan lancar. Tapi Ade belum sadarkan diri dan dipasang alat pacu jantung. Kenapa bisa begitu? Pihak keluarga belum ada yang memberitahu. Ya sudahlah ya, saya pun berpikir she was gonna be alright.

Jadi begitu dengar kabar Ade meninggal, sampai detik ini pun saya masih nggak percaya sama sekali.

Saya keluar di tengah-tengah film, mencoba mencerna kabar yang saya baca, dan terdiam hampir 15 menit. Bengong dan nggak tahu harus bereaksi apa. Di satu sisi lagi merayakan ulang tahun si suami dan saya bahagia, sementara di sisi lain lagi sedih banget karena teman saya meninggal.

Selama perjalanan dari mall ke rumah, saya bengong lagi. Seluruh tubuh saya lemas kayak nggak bertulang. Sampai di rumah, badan saya pun hangat padahal tangan dan kaki saya dingin. Sedih dan kaget!

Semalaman saya nggak tidur karena tiba-tiba diare akut. Besokannya saya maksain masuk kerja di saat masih diare dan nggak tidur. Saya harus datang ke pemakaman Ade.

Siang itu Jakarta diguyur hujan. Rasanya semua ikut menangis atas kepergian Ade. Di pemakaman, saya ketemu dengan ibunya yang menangis. Beliau bilang, “Maafin Ade, ya. Ini hujan deras. Maaf hujan,” Siapa yang nggak mau ikutan nangis lihat ibunya sedih seperti itu.πŸ˜₯

Saya pun menyalami suaminya yang terlihat sedih. Ade baru menikah 1,5 tahun dengan suaminya setelah berpacaran kurang lebih 7 tahunan. Dia baru saja melahirkan seorang putri 4 bulan yang lalu. Saya bahkan nggak bisa membayangkan bagaimana perasaan suaminya saat itu.

Saya tahu Ade dicintai oleh banyak orang karena hari itu banyak sekali yang mengantarkan Ade ke tempat terakhirnya. Ade teman yang selalu semangat, berjuang keras, dan suka membantu teman-temannya. Ade yang selama sakit nggak pernah saya dengar mengeluh sekalipun tapi tetap semangat. Demi anaknya, dia mau hidup lebih lama. Dia bilang begitu.

Tapi Tuhan pasti sayang banget sama Ade. Dia nggak mau lihat Ade menderita lebih lama lagi, jadi Dia panggil Ade lebih cepat. Bahagia di sana ya, De.

Thank you for sharing your kindness to all of us. We’re already miss you here. Goodbye, Ade. :’)

Waktu ngekos bareng. Selalu makan malam ditemani Ade. Walaupun dia udah makan sebenarnya.

Karaokean bareng habis pusing ngerjain tugas

Sama-sama praktek di neurologi RSCM

Waktu sidang teman-teman

Wisuda barengan

Sumpah profesi

When she got married with the man she dated for about 7 years

Wasn’t she lovely?

With her newborn baby and husband

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s