Pasti Didengar

Dulu banget waktu masih pacaran sama si mantan (bukan suami saya sekarang), kita pernah ngayal-ngayal surga umur berapa akan menikah. Saya langsung mencetus, “Kayaknya umur 26, deh”. Pas ditanya alasan kenapa nikah umur 26, saya nggak tahu. Cuma kepikiran kayaknya udah pas. Habis itu lupa pernah ngomong gitu.

And things happened. Saya dan si mantan pun putus (yaeyalah, makanya disebut mantan. Ya kan?). Putusnya pas umur 23. Berarti bukan sama dia dong kawinnya, ya. Berarti harus kasih waktu buat kenalan lagi, PDKT lagi, pacaran lagi. Oh, dan saya tipe orang yang nggak suka pacaran bentar langsung menikah. Maklum orangnya penakut, jadi kudu wajib kenal luar dalam pasangan baru pikir-pikir mau nikah. Dan tentunya butuh waktu yang nggak sebentar, kan?

Lalu ketemulah dengan si suami ini. Yang awalnya nggak bakal dianggap serius, yang cuma buat main-main aja. Eh, ternyata jadi serius. Lama-lama jatuh cinta beneran. Trus tiba-tiba dia udah ngomongin soal menikah aja. Dan satu waktu dia ngajak saya menikah.

Setelah dilihat, dia ngajak saya nikah pas umur saya 25 tahun. Persiapan pernikahan hampir 1 tahun. Jadilah beneran saya nikah umur 26 tahun.

Ajaib, ya!

Nggak sengaja dipaksain umur 26. But I guess, God heard when I said those words. Dan dia pun mengabulkan. Jadilah saya menikah umur 26 tahun, seperti yang waktu itu saya ucapkan.

Bukan cuma itu saja. Masih inget nggak, kalo saya sebenarnya nggak terlalu pengen nikah sama orang Batak. Ribet. Jadi selama ini nggak pernah berusaha dekat sama cowok Batak, nggak eksis di lingkungan Batak, dan menolak dikenalkan sama Batak.

Ealaah, sekarang malah menikah sama orang Batak. *makan tuh nggak mau* Hihihi.

Eh, tapi pas lagi iseng buka diary yang dulu saya tulis. Probably ketika saya masih SMA. Saya pernah nulis kalo saya pengen deh punya pacar Batak, yang takut Tuhan, dan humoris. Waktu itu sih nulis karena pengen bikin orang tua senang aja. Kepikirannya kan mereka pasti pengen anaknya nikah sama Batak (seperti yang mereka sering sebut).

Lagi-lagi kejadian! Saya nikah sama orang Batak, takut Tuhan, dan humoris. Tuhan ternyata mencatat harapan iseng saya. Untungnya harapan yang saya tulis baik, ya.

So, yes. God always listens. Makanya sekarang kalo mau sesuatu, saya pasti doain. Sekonyol apa pun itu kelihatannya. Tuhan pasti dengar. Urusan dikabulkan itu tergantung si Big Boss, kan. Bisa jadi dikabulkan, bisa jadi belum,  atau bisa jadi dikasih yang lebih baik. Apa pun itu, pasti baik.😀

One thought on “Pasti Didengar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s