Saat Istri Tepar

Kemarin mungkin puncak kecapekan Upik Abu. Jadi ya seperti diceritakan di posting sebelumnya kalau saya sekarang ambisius banget dengan rumah  yang rapi jali. Debu dikit langsung dipel, perabotan nggak sesuai letaknya langsung dirapikan.

Akibatnya saya jadi sering kurang tidur demi beres-beres rumah. Padahal saya tipe orang yang harus tidur minimal 8 jam sehari kalau nggak bisa cranky. Kemarin saya malah cuma tidur 5 jam. Seharian di kantor jadi ngantuk dan lemas. Pas dijemput suami pun cuma bisa diam aja. Ditanya kenapa, saya cuma bilang capek.

Tapi ya obsesi kebersihan ini nggak bisa keluar dari kepala saya, jadi begitu sampe rumah tanpa ganti baju dulu saya mulai sibuk nyapu, ngepel, nyuci baju, jemur baju, dan masak. Si suami pun langsung bilang, “Tadi katanya capek tapi sekarang nggak bisa berhenti. Istirahat dulu gih”. Mamaaa, I wish I could. Tapi mengetahui rumah nggak bersih itu sungguh menyiksa pikiran. Oke, kedengeran kurang waras ya obsesi saya. Hehehe.

Untungnya jam 9 malam semua udah beres. Saya pun langsung geletakan di depan TV sambil nonton DVD. Pikirnya sih untuk menyenangkan hati. Tapi yang ada masih capek dan ngantuk. Akhirnya sambil nonton DVD, saya malah galau. Capeknya sampe ke tulang rusuk. Kangen nonton bioskop dan jalan-jalan ke mall. Mana si suami lagi mengerjakan pekerjaannya. Jadi ya saya sendirian aja di rumah.

Pas si suami pulang, dia agak lebih lega lihat saya lagi nonton DVD dan bukannya beres-beres rumah. Nggak berapa lama kemudian, saya matiin DVD yang belum selesai karena udah ngantuk banget. Si suami yang habis mandi bengong lihat TV udah mati. Dia pun mendatangi saya yang ada di kamar dalam posisi tidur dan lampu dimatiin.

“Kamu kok ke sini?” maksudnya sih nanya kenapa dia ke kamar, soalnya tadi dia bilang mau ngerjain proyeknya di lobi sambil internetan.

“Kenapa nanya gitu? Kamu kenapa?”

“Nggak papa”

Tentunya dia tahu dong ya istrinya pasti kenapa-kenapa kalau bilang nggak papa (oh, women with their codes. Hihihi). Langsung dia mendusel ke tempat tidur dan peluk-peluk saya, “Kamu kenapa?”

“Capek banget.”

“Ada yang lain?”

Agak drama sih emang saya. Cuma capek doang tapi bisa galau mampus. Belum lagi tiba-tiba air matanya keluar. Buset, kalah deh itu pemain sinetron. Malu juga sih cuma capek doang sampe nangis. Tapi emang kemarin capeknya sampe ke ubun-ubun.

“Yah, tuh kan capek. Habis kamu nggak bisa berhenti sih beres-beres rumahnya. Ya udah, besok aku yang bikinin sarapan ya biar kamu bisa tidur lebih lamaan.”

Ih, ini suami manis amat, sih. Suami siapa sih iniiii? #membanggakansuamisendiri HIHIHIHIHI!

Jadilah si suami membiarkan saya tidur 8 jam malam ini, sementara dia mengerjakan proyeknya. Lalu keesokan paginya dia pun bangun untuk menyiapkan saya sarapan dan nggak membangunkan saya yang masih kecapekan. Baik banget, kan!

Eh, ini sebenarnya mau posting tentang rasa capek gara-gara terobsesi kebersihan atau mau banggain suami, ya? Hahahaha. Dua-duanya aja, deh. 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s