Get Well Soon

Seharian kemarin perasaan saya campur aduk. Pagi-pagi dibuat stres karena harus mengurusi berbagai tetek bengek yang berhubungan dengan Martumpol besok (uwooooh, ini H-1, lho!). Kemudian malamnya dibuat kesal oleh aksi demo mahasiswa yang anarkis (helooo, mendingan waktunya dibuat belajar atau ngerjain tugas, deh) dan yang paling sedih adalah mendapati bahwa seorang teman sedang sakit parah.

Dia adalah teman S2 saya dan ternyata senior saya di Atma Jaya. Orangnya menyenangkan, cerdas, dan aktif. Sebenarnya hubungan dengan dia pada awalnya biasa aja, sampai suatu ketika saya dan dia ngekos di tempat yang sama. Di situ awalnya saya dan dia menjadi dekat.

Sebagai anak manja yang belum pernah ngekos, saya agak menggantungkan diri ke dia. Dia jadi kayak kakak buat saya. Dia tahu banget kalau saya itu punya penyakit maag yang mana harus makan tepat waktu, tapi dia juga tahu banget kalau saya suka males makan. Jadilah dengan baik hatinya dia datang ke kamar saya tiap malam, mengetok pintu kamar, dan menemani saya makan di luar. Padahal kadang-kadang dia nggak makan, lho karena dia kan cuma makan makanan yang sehat aja. Pernah saya tanya ke dia kenapa makanannya sehat banget. Jadi dia bilang dia punya bakat penyakit yang berhubungan dengan darah, tapi minor. Nggak bakal mempengaruhi dia, tapi dia jaga kesehatan aja.

Dia pun orang yang lucu. Dia tahu saya orangnya suka deadliner: ngerjain tugas kalau deadlinenya udah mepet. Suatu hari dia mengetuk pintu kamar kos waktu saya lagi santai. Dia cuma bilang, “Eh, lo udah ngerjain tugas X belom?”. Tentu saja jawaban saya belom. Dan dia bilang, “Gue udah selesai, dong.” sambil ngeloyor pergi. Bah, saya anaknya nggak bisa dibikin panik gitu, dong. Kalau orang lain udah selesai, masa sih saya ketinggalan. Langsung saya ngebut ngerjain tugas itu sampe begadang dan selesai. Besoknya saya datangin dia dan bilang tugas saya udah selesai. Dia pun bilang, “Gue belom selesai, dong. Kemarin buat nakutin lo aja. Hehehe.” And I thanked her for doing that. Kalau nggak mungkin saya masih males-malesan dan telat ngerjain tugasnya.

Untuk urusan tugas, dia adalah orang yang nggak pernah ngerjain tugas di saat-saat mepet. Dia penuh perencanaan. Tapi dia nggak pelit ngajarin orang atau pun kasih lihat tugasnya. Jadi selama di kos itu, saya terbantu dan terpacu karena ada dia. Dia selalu ngajak saya belajar bareng, dia ngajarin saya ketika saya nggak ngerti, dan dia ngebantu tugas-tugas saya.

Bukan itu aja, untuk urusan kebersihan dia jagonya. Kalau nggak gara-gara dia, mungkin saya nggak tahu trik ngebersihin kamar mandi dengan cepat. Kalau masuk ke kamarnya dia, itu bersih banget. Bok, saya kan kompetitif ya orangnya, apalagi soal kebersihan. Dialah yang jadi inspirasi saya untuk ngebersihin kamar mandi kos tiap hari dan ngepel tiap hari pula. Iya, saya sampe dibilang berlebihan karena ngebersihin kamar kos sampe segitunya. Tapi efeknya adalah kamar kos saya rapi dan bersih tiap saat. Enak tidur jadinya.

Suatu hari saya pernah sakit maag akut. Seharian di kelas muka saya pucat dan saya hampir nggak bisa jalan. Begitu kelas selesai, saya langsung ngibrit ke kosan dan langsung tiduran. Sakitnya minta ampun. Eh, sorenya tiba-tiba dia datang dan membawakan saya sebungkus bubur hangat, obat, dan bubur instan lainnya supaya besok saya bisa sarapan. Padahal saya nggak kasih tahu ke dia kalau saya sakit. Gimana saya nggak mau mewek karena dia perhatian banget jagain saya pas saya sakit.

Dia juga yang kasih kesempatan saya untuk nulis di majalah. Dia tahu saya suka nulis. Jadi ketika ada tawaran menulis artikel, dia mengajak saya untuk menulis di majalah tersebut. Dia tahu saya kangen nulis di media, dan dia memungkinkan saya untuk melakukan hal tersebut.

Dia adalah orang yang ngajarin saya untuk bersenang-senang sampe pol dan menikmati hidup sambil tetap bertanggung jawab. Dia adalah seorang backpacker yang udah keliling dunia. Dia cerita pengalaman-pengalamannya yang menakjubkan. Dia yang ngajak saya untuk bersenang-senang supaya nanti pas punya anak nggak dibohongin anak-anaknya. Hihihihi. Dia juga orang yang membuat saya merasa nggak bersalah-salah banget karena udah dekat dengan cowok lain sebelum putus. Dia bilang, “Mi, cewek itu punya kecenderungan akan nyari prospek lain sebelum putus. Supaya rasanya nggak sakit-sakit amat. Dulu gue juga gitu, kok.” dan dia pacaran dengan suaminya sekarang selama 7 tahun.

Waktu dia nikah, saya bahagia banget. Apalagi ditambah dia hamil. Ya tentu saja saya senang. Sempat dengar kabar atau lihat dari profil BBM-nya kalau dia lagi sakit. Waktu saya tanya dia, dia bilang dia punya kekentalan darah yang bikin dia harus disuntik tiap hari untuk mengencerkan darahnya. Dia bilang itu dengan suara happy dan bikin saya nggak khawatir sama sekali.

Kemudian dia melahirkan anak. Tapi beberapa waktu lalu ketika dia ulang tahun, saya lihat DP BBM-nya dia lagi di rumah sakit. Saya langsung BBM dia kenapa dia ada di RS karena setahu saya udah sebulanan sejak anaknya lahir jadi seharusnya udah pulang. Ternyata akibat kekentalan darah waktu hamil, mengakibatkan efek pasca melahirkan. Karena udah nggak kesuntik lagi, darahnya jadi cair dan memenuhi paru-parunya sehingga jantungnya susah untuk memompa. Kabarnya badannya sampe bengkak karena selalu disuntik tiap hari. Tentu saja saya kaget. Kok bisa sampe separah itu. Tapi lagi-lagi dia bilang dia udah baikan. Salah satu yang membuat dia tetap semangat adalah keinginannya untuk cepat keluar dari rumah sakit dan berada bersama anaknya yang baru berusia 1 bulan.

Dua hari lalu, ketika saya lagi berkumpul dengan teman-teman S2 saya, iseng seorang teman BBM dia untuk nanya kerjaan. Ternyata dia bilang, dia lagi di RS dan minta doa-nya karena dia akan operasi tumor. Ya ampun, saya langsung kaget. Langsung saya BBM dia. Dia bilang dokter mengdiagnosis ada tumor di ginjalnya dan trombus. Kasus seperti ini langka karena baru ada 2 di Indonesia. Dia masih akan minta second opinion pada dokter di Singapore untuk kelanjutan kasusnya.

Lalu dia bilang, “Mi, maafin kalau selama ini gue punya salah ke lo, ya. Doain gue ya, Mi. Gue tahu ini berat tapi gue bakal berjuang demi anak gue supaya gue sembuh.” Ya ampun, langsung mewek saya. Saya nggak mau ada apa-apa dengan dia. Saya nggak mau dia sakit terus. Saya mau dia bahagia.

Selalu ada pertanyaan di kepala saya, kenapa dia yang baik yang kena seperti ini? Tapi pasti Tuhan punya alasan sendiri, ya. Apapun itu, saya cuma berharap dia akan sembuh dan kembali berkumpul dengan keluarganya.

Get well soon, dear friend.😦

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s