Mengenai Harga BBM Naik

Pagi ini di timeline twitter saya orang rame membicarakan mengenai demo kenaikan BBM. Sama seperti kebanyakan penduduk Indonesia (atau mungkin Jawa lebih tepatnya) kenaikan BBM ini merisaukan. Dampaknya pasti harga bahan-bahan pokok lainnya ikutan naik. Iya, saya juga kesal kok kalau barang-barang pada naik (apalagi ya, mau nikah gini. Nanti kan udah mulai mikir beli ini-itu dan bayar ini-itu sendiri pasti berasa beratnya).

Tapi, kalau mau jujur, saya nggak menolak kalau BBM naik. Sebagai orang awam yang beneran nggak tahu apa-apa soal harga minyak dunia dan perekonomian negara, saya sih cuma mikir sederhana aja. Bensin premium kita disubsidi lumayan banyak sama pemerintah. Kalau dibandingkan dengan harga bensin di dunia, bensin kita salah satu yang termurah. Bahkan kalau nggak salah, harga bensin di luar negeri itu lebih dari Rp 6.000,-. Jadi selama ini kita cukup beruntung pemerintah mau biayain bensin buat kendaraan yang kita pakai.

Saya setuju banget kalau yang pake bensin subsidi itu seperti angkutan umum yang notabene untuk melayani masyarakat luas. Kenyataannya, bensin premium dipakai untuk kalangan menengah, yang kalau dilihat merek mobilnya mewah bener. Eh, ini termasuk saya lho, ya. Saya juga pake premium. Padahal sebenarnya saya mah mampu aja buat beli pertamax. Tapi seperti kebanyakan pemikiran orang lainnya, kalau ada yang lebih murah kenapa nggak?

Tiap hari saya ngerasain naik mobil pribadi, lanjut lagi naik bis, trus pulangnya bisa dijemput naik motor. Tiga kendaraan berbeda dalam satu hari. Saya frustasi tiap hari menghadapi kemacetan Jakarta. Mau saya pergi lebih pagi, eh tiba-tiba out of nowhere, Jakarta lebih macet. Pas saya telat berangkatnya, tiba-tiba nggak jelas kenapa Jakarta malah nggak macet. Jadi lalu lintas Jakarta sekarang udah nggak bisa diprediksi. Yang pasti sih berasa banget macetnya tambah parah. Dulu pas kuliah S1, saya cuma butuh 1 jam untuk pergi ke kampus naik angkot. Sekarang setidaknya saya butuh 2 jam untuk pergi ke daerah yang sama naik angkot. Dengan perbandingan sederhana seperti itu aja, udah kerasa kalau Jakarta emang tambah macet.

Kenapa ngomongin macet? Karena saya merasa pertumbuhan kendaraan di Jakarta pesat banget. Coba lihat di jalanan, pasti motor-motor bisa menghabiskan satu lajur sendiri saking banyaknya. Belum lagi volume mobil yang makin bertambah. Perhatiin deh, begitu ada iklan mobil baru, eh nggak sampe seminggu mobil itu bisa kelihatan berseliweran di jalanan Jakarta. Jadi kemungkinannya adalah sebagian warga Jakarta punya kendaraan atau mampu membeli kendaraan. Logikanya sih, harusnya kalau bisa beli kendaraan, bisa beli bensinnya juga, dong.

Agak ngarep sebenarnya dengan naiknya harga BBM yang cukup besar, masyarakat jadi agak males pake kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum. Masalahnya adalah transportasi umum di Jakarta belum memadai. Coba deh kalau kita di Singapore pasti rela aja kan jalan kaki ke mana-mana lalu naik MRT, bahkan ketika kita pake baju keren, pake tank top doang, atau celana pendek. Kita belum bisa seperti itu di sini. Gimana mau nyuruh pemilik kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum sebagai solusi harga BBM naik, tapi transportasi umum-nya nggak diperbaiki.

Saya juga nggak tahu sebenernya subsidi yang akan dihilangkan untuk BBM dialihkan ke mana. Tapi kalau boleh berharap sih, pengennya subsidi itu untuk transportasi umum, jalanan, dan sekolah di daerah. Rela banget saya kalau subsidinya dipake buat hal-hal itu. Kalau denger cerita orang-orang harga BBM di luar Jawa itu mahalnya minta ampun (bisa mencapai Rp 20.ooo/liter) dan mereka pasrah aja nggak ngeluh, harusnya kita cukup malu untuk mengeluh kayak gini.

Indonesia itu kayak negara yang lagi dalam masa pertumbuhan. Mungkin kemarin kita masih bayi. Kalau bayi kan apa-apa dikasih sama orang tua. Makan disuapin dan jalan dipapah. Semakin si bayi bertumbuh besar, dia akan belajar untuk lebih mandiri dan nggak ketergantungan lagi. Makan mulai dibiarin sendiri dan jalannya mulai dilepas. Pas pertama kali kita belajar jalan, ada saatnya kita jatuh, jalannya oleng, dan kejeduk. Habis itu kita pasti nangis karena sakit. Tapi kita nggak berhenti dan mogok jalan kan? Kita belajar lagi, sakit lagi, sampai akhirnya kita bisa benar-benar berdiri sendiri.

Indonesia sama seperti itu. Dilepas subsidi BBM-nya emang menyakitkan. Bahan-bahan kebutuhan pokok naik, pengeluaran membesar, dan sebagainya. Tapi itu langkah yang harus diambil kalau negara kita mau maju. Mau sampe kapan kita yang beli kendaraan, kita yang nikmati, kita yang ngambil hak subsidinya orang yang lebih nggak mampu, tapi kita juga berkoar-koar minta dikasihani?

Lagian yang paling bikin saya menolak demo kenaikan BBM adalah bikin macet banget. Kayak tadi pagi aja, daerah Senopati di dekat kantor yang biasanya lancar jaya, eh tiba-tiba macet parah sampe ke jalan tikusnya. Bok, saya yang mau kerja cari uang buat hidup sehari-hari kan jadi ribet. Belum lagi misalnya ada aksi anarkis, bakar-bakar ban, atau apalah, lah maksudnya apa sih ini? BBM-nya jadi turun? SBY juga lagi di Seoul toh. Dia paling denger dari TV doang.

Ya mbok kalau jadi mahasiswa itu belajar aja yang bener di kampus. Lulus tepat waktu dengan IPK tinggi, cari kerja atau bikin usaha, punya pendapatan, makmur, dan nggak korupsi. Udah cukup banget membantu negara itu mah. Negara kita perlu banyak orang baik, yang nggak sedikit-dikit kepancing emosinya. Kalau toh nggak setuju BBM naik, gimana caranya bisa menyampaikan dengan baik dan berikan solusinya. Fokusnya adalah gimana caranya yang kaya nggak makin kaya sendiri dan yang miskin makin terpuruk.

Eits, jarang-jarang ya saya bisa bahas sesuatu yang serius gini. Hehehe. Well, kita tetap harus peduli sama bangsa sendiri, kan?

Have a good day, everyone!πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s