Hi, Master!

Here’s another good news:

My boyfriend graduated from his Master’s degree. Yeay! *dancing*

I can’t be more proud of you, dear. :* :*

Saya tahu banget gimana dia jungkir balik ngejar lulus tepat waktu kuliahnya. Dia bener-bener ngebut 3 bulan terakhir untuk nyelesaiin thesisnya. Begadang sampe jam 1 atau 2 malam. Besokannya bangun pagi lagi untuk kerja dan masih sempat jemput saya dari kantor, makan di luar dulu, nganterin pulang, dan dia pergi lagi ke cafe atau coffee shop supaya bisa konsentrasi ngerjain thesis.

Saya tahu banget gimana usahanya dia ngejar pembimbing yang hampir nggak mau tanda tangan thesisnya. Bahkan dia rela sampai mengejar si dosen ke Bandung atau ke mana pun juga. Sampai akhirnya si dosen bersedia menemui dan menandatangani thesis beberapa jam sebelum deadline pengumpulan thesis berakhir.

Saya tahu banget dia panik dan cemas menghadapi sidang ini karena baru diberitahu kampus dua hari sebelum sidang. Bayangkan dua hari sebelum sidang! Dia pun ngebut bikin slide presentasi dan belajar mati-matian. Malam sebelum sidang, dia bilang dadanya sesak dan kepalanya pusing karena panik. And I said to him, he was gonna make it, no need to worry.

Saya tahu banget betapa dia makin cemas ketika dia mendapat giliran terakhir untuk maju sidang. Jantungnya berdebar makin kencang dan dia masih harus menunggu. Sementara saya cuma bisa mendoakan dari kantor.

Saya tahu banget betapa dia bahagia dan seperti ada beban berat yang terangkat ketika dia dinyatakan lulus. Lulus tepat 2 tahun. Menjawab semua keraguan orang yang meremehkan dia. Dia lulus. I am proud to say to not underestimate him because he will reach whatever he wants to reach and he’s capable of it.

Saya tahu ketika dia bertemu saya malamnya, dia masih nggak percaya karena bisa lulus. Badannya lemas karena terlalu capek dua hari ini. Lalu dengan terbata-bata dan mata berkaca-kaca dia bilang, “Tuhan baik, ya. Aku sampe nggak percaya bisa sampai tahap ini. Awalnya aku sangka nggak bisa ngerjain semuanya berbarengan, tapi ternyata bisa. Tuhan baik”. Kalau bukan saat itu lagi di tempat umum, pasti saya udah peluk dia. Tentu saja Tuhan kasih yang baik karena dia pun mengusahakan yang baik.πŸ™‚

Saya tahu betapa dia terharu ketika dia pulang ke rumah dan orang tuanya mengucapkan selamat sambil memeluknya. He couldn’t hold his tears anymore. He felt relieved.

Congratulation my dear. I am a proud girlfriend. I’m happy for you. Let’s celebrate. *cheers*πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s