Mau Dibawa Ke Mana Hubungan Kita?

Udah pernah diceritakan dong gimana saya dan pacar ketemu dan akhirnya jadian? Tapi pasti belum tahu kalau banyak drama terjadi di dalamnya? Ehem! *macam sinetron aja*

Pertama kali bertemu dia, saya sebenarnya udah punya pacar. The relationship didn’t work well at that time. Pernah berantem besar-besaran, diem-dieman, putus sesaat, nyambung lagi. Nggak sehat pokoknya. Memutuskan untuk tetap di hubungan yang seperti itu sebenarnya agak bodoh. *toyor diri sendiri* Yah, antara cinta dan buta itu emang beda tipis, sih *toyor diri sendiri lagi*.

Si dia datang ketika hubungan saya lagi dingin. Awalnya adalah ketika di christmas potluck ditanya apakah saya punya pacar atau nggak, saya nggak bisa jawab. Mulut rasanya kelu. Saya juga bingung kenapa nggak langsung bilang udah punya pacar dan bertahun-tahun pula! Tapi saya cuma tetap diam aja. Nggak membenarkan dan nggak menyalahkan. Padahal ya di Facebook mah jelas banget tertulis statusnya ‘in a relationship with xxx’. Mereka yang hadir di situ pun temenan dengan saya di Facebook jadi ya harusnya sih udah tahu.

Dari keengganan ngaku kalo saya udah punya pacar, dia pun berani mendekati saya. Pede kuadrat, deh. Oh, tentu saja saya sadar lagi di-PDKT-in. Apalagi PDKTnya gencar banget. Datang ke rumah saya pas malam tahun baru sambil bawa cake, minta ijin ke orang tua saya untuk ngajak saya jalan di malam tahun baru (yang mana saya nggak pernah lakukan). Bok, PDKT-nya pol banget, deh.

Sebagai perempuan yang lagi haus kasih sayang karena hubungannya dengan pacarnya sedingin es di Kutub Selatan sana, ada yang perhatiin dan bikin hati hangat ya seneng dong, ya. *rasionalisasi banget* :p

Mulailah sering nerima telepon berjam-jam, YM-an sampe subuh, dan senyum-senyum kalau dia gombal (ah, cewek mana sih yang nggak suka digombalin? Ngaku kalian!πŸ˜€ :D).

Tentu saja sebagai perempuan yang sudah punya pacar dan tahu banget kalau ini sebenarnya kan nggak baik, ya. Mulai deh timbul rasa bersalah. Apalagi kalau saya lebih sering senyum-senyum sendiri nerima SMS dari dia dibandingin dari pacar, lebih rela begadang demi YM-an sama dia daripada lama-lama teleponan sama pacar, endesbrei endesbrei. Karena rasa bersalah itu pula, saya nggak pernah mau jalan berdua sama dia. Tiap dia ngajak jalan, pasti saya ngajak teman-teman yang lain. Kan nggak jalan berdua, ya.. Jadi saya nggak salah dong. Jalannya kan sama teman-teman. #eaaa #terusngeles

Sampai suatu hari dia menyatakan perasaan dan saya cuma bilang, “Kamu tahu kan aku udah punya pacar?”. Dan dia bilang tahu. Nekat bener kan dia, ya. Lalu apa yang bikin dia nekat? Dia bilang kalau saya sayang sama pacar saya pasti saya mau ngakuin di depan teman-teman pas potluck. Tapi kenyataannya, saya nggak ngaku. DEZZZIG! Kayak ketonjok. Bener juga, sih.

Sampai suatu hari saya putus dan dia merasa punya kesempatan untuk mendekati saya lagi. Seneng sih ya di saat lagi sedih habis putus, trus ada yang perhatian. Tapi saya nggak mau langsung jadian. Nggak gampang percaya sama orang juga. Lah, kalau nanti dia kelakuannya sama gimana? Jadi, saya nerima semua perhatian dia, tapi statusnya gantung. #pfft #lalumengalunlagumellygoeslaw

At that time, I was scared to fall in love again. I kept denying all the feelings I had for him. Pada pacar sebelumnya, I spent almost 7 years of my life being crazy in love with him (4 years crushing on him and 3 years being his girlfriend). It was a very exhausting relationship. Kayak suka banget sama orang (obesesi mungkin) dan semua gambaran tentang dia di pikiran kita adalah baik. Lalu pada saat udah jadian dan ternyata gambaran kita salah, kita akan selalu punya excuse dengan mengatakan, “Lo kan udah naksir dia lama, akhirnya jadian juga. Jangan disia-siakan, dong. Lo aja kali terlalu sensi, lo aja kali yang salah, lo aja kali yang egois, lo aja kali yang nggak bisa paham maunya dia…” dan begitu terus menganggap diri sendiri yang bertanggung jawab terhadap hubungan yang nggak sehat itu.

Begitu dia datang dan bikin saya merasa berbunga-bunga, saya pun ketakutan setengah mati. Aneh, kan?Β Saya takut jatuh cinta, saya takut merasa sayang, saya takut pada akhirnya disakiti lagi. So I closed myself off for any kind of romance. Untuk yang satu ini, saya pengen jadi orang yang rasional, yang nggak terlalu mentingin perasaan.

Tapi susah ya kalau namanya perasaan ditahan-tahan. Udah suka sih, tapi masih nggak mau ngaku. Pokoknya menjunjung tinggi denial #diserudukbanteng.

Jadi sering terjadi pembicaraan seperti ini:

Him: Jadi status kita apa, sih?

Me: Hmm.. apa ya? In an open relationship kali.

Him: Kok gitu?

Me: Iya. Kamu kalau mau liat-liat yang lain juga boleh. Aku juga. Lagipula aku kan baru putus.

BOK, saya NGESELIN banget kan, ya!πŸ˜€

Status HTS itu emang menyenangkan sih kadang-kadang. Nggak perlu ngaku udah punya pacar tapi tetap dapat perhatian. Setiap ditanya orang, pasti jawabannya, “Ah, lagi dekat aja”. Tapi kalau pulang berdua. Hihihihi. Apalagi situasinya saya baru putus, gengsi banget kalau baru putus udah jadian lagi. Apa kata orang nanti? Tukang gonta-ganti pacar? Ih, nggak mau dong. #gengsisetinggigununghimalaya

Belum lagi setelah bertahun-tahun pacaran, enak juga jadi single. Nggak ada yang ngelarang, nggak harus ngelapor, nggak harus mikirin orang. Bisa menclok sana-sini. Syedaaap! *ongkang-ongkang kaki*

Sampai pada akhirnya, dia males kali, ya. Dan di tengah perbincangan kita soal hubungan ini, dia pun bilang, “Ya udahlah, kita sendiri-sendiri aja. Nggak usah ngobrol atau telponan atau SMS-an lagi. Kayak pertama kali dulu aja.”

JLEB! Tapi sebagai perempuan sejuta gengsi, saya mengiyakan, dong. Padahal di balik itu, lah kok berasanya sakit, ya? Kok sedih? Kok nangis? Kok sepi ya nggak ada dia? Tapi buat SMS duluan? Ih, no way lah yau!

Ternyata dia pun sama galaunya dengan saya. Tiba-tiba aja dia nulis note di FB (sebelumnya nggak pernah sama sekali) yang isinya lirik lagu galau, trus pake di-tag ke beberapa orang, tapi saya yang paling atas tag-nya. HAHAHAHA. *merasa senang campur mewek seember*

Ternyata kalau adu gengsi dan kangen gitu, dia yang paling pertama nggak tahan. Tiga hari diem-diemin tanpa komunikasi, di suatu siang dia SMS saya. Dia nanya kabar saya. Dia bilang, “Rasa perihnya kayak dituangin alkohol 70%”. Eh, ciyeeee! Segitunya banget hidup hampa tanpa saya. *didorong ke sumur*

Dia pun menanyakan, boleh nggak malam nanti dia datang ke kos saya, bahas yang kemarin. Oh, gengsi mah wajib banget dijunjung tinggi. Saya bilang aja, yah saya lagi banyak tugas. Dia pun menawarkan menelepon, saya pun bilang tugasnya dikerjain kelompok jadi bakal banyak teman-teman. Sampai akhirnya kita pun sepakat chatting aja. Caelaah, eike jual mahal bener. Hihihi.πŸ˜€

Dia pun muncul di YM tepat di jam yang dijanjikan. Saya tentunya sok telat, padahal mah dari tadi udah liat jam mulu. Ngobrol ngalor ngidul dan basa-basi sampai akhirnya ada pada kesimpulan dia nggak akan nanya lagi masalah status karena itu bikin saya nggak nyaman. Kenapa saya nggak nyaman, karena saya merasa belum mengenal dia dan nggak mau buru-buru lalu sakit hati lagi. Jadi, dia pun mengalah dan mengikuti cara saya. Dia nggak pernah tanya status lagi, saya pun merasa lebih nyaman.

Hubungan yang tanpa beban itu bikin kita lebih santai dan fun ngejalaninnya. Tahu-tahu udah berani ngelus rambut saya aja, tahu-tahu udah gandengan tangan aja, tahu-tahu kalau mau ngedate udah boleh masuk ke rumah dan ketemu orang tua saya, dan tahu-tahu udah nggak nolak lagi kalau dibilang pacar di depan umum. Ihiiiy. Begitulah asal-muasal kenapa saya nggak tahu kapan tanggal pacarannya karena emang nggak ada.

I’m still thankful that he once decided to save me from an unhealthy relationship. I’m thankful that he ignored my relationship status and chased me hard. I’m thankful for… Actually, I’m just thankful for having him.

Sampe sekarang kalau inget-inget cerita ini kita berdua masih suka senyum-senyum. Mau jadian aja ribet bener, ya.πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

2 thoughts on “Mau Dibawa Ke Mana Hubungan Kita?

  1. Ahahahahaa kisah kita beranjak dari pacar lama ke pacar baru sungguh miriiiip! Kecuali kenyataan bahwa pacar gue yg menikahi gue itu jauh lebih cuek dibanding pacar yang akan menikahimu itu. HahahahaπŸ˜€

    • Percayalah, dia pun sama cueknya. Sampe gue suka drama, kenapaaa ga seheboh dulu perhatiannya. Hahahaha. Toosss, sesama rapuh emang kisahnya mirip. Hihihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s