Tipe-Tipe Klien

Setelah beberapa lama berkecimpung di dunia psikologi (baru bentar banget sih, masih dianggap bayi mungkin), ketemu klien tetaplah jadi hal yang menarik buat saya. Nggak selalu mudah, tapi selalu ada sisi menariknya.

Klien pun macam-macam tipenya, dari yang pengen disayang-sayang nggak pengen pisah, sampai yang pengen dipites karena ngeselin.

1. Klien yang dipaksa datang bukan karena kemauannya sendiri adalah salah satu klien yang susah. Pertama, mereka biasanya nggak ada insight kalau mereka punya masalah. Kedua, mereka juga nggak merasa perlu pertolongan dan nggak merasa perlu ditolong. Ngadepin yang begini, pendekatannya agak panjang, nih. Ngobrol basa-basi supaya dekat bisa satu sesi atau lebih dihabiskan buat ini. Itu kalau mereka merasa dapat sesuatu, kalau nggak ya wassalam aja, mulut udah berbusa, tapi mereka tetap keukeuh nggak merasa punya masalah.

2. Klien yang defensif. Untuk yang ini, jauh lebih susah daripada yang di atas. Klien yang dipaksa datang, kalau pendekatan kita tepat dan kena ke dia, lama-lama dia mau membuka diri. Nah, kalau defensif, itu kata-kata bisa dimentahin semua. Dia merasa dirinya benar dan yang salah adalah hal-hal di luar dia. Untuk yang ini perlu kesabaran ekstra untuk dihadapi. Kalau di hadapan klien kayak gini, senyum sih wajib 3 jari, tapi sebenarnya di dalamnya udah pengen dibungkam aja mulutnya pake lakban supaya mau dengerin dan nggak defensif.

3. Klien yang tertutup banget. Saking tertutupnya, masih lebih gampang gali kuburan daripada gali permasalahannya. Kesannya tuh, “Aduh gue nggak kenapa-kenapa, hidup gue baik-baik aja, tiba-tiba aja bermasalah begini.” Ya kalee masalah datang sendiri. Mereka mungkin nggak gampang mengumbar masalah hidupnya dan biasanya lihat-lihat dulu apa orang yang diajak ngomong ini bisa dipercaya atau nggak. Untuk klien seperti ini, lagi-lagi perlu ekstra sabar. Kalau mereka udah dapat chemistry-nya, selanjutnya lebih lancar.

4. Klien manipulatif. Salah satu tipe klien yang menyebalkan. Secara ya, saya ini psikolog yang agak gampang percaya. Apa yang dikatakan klien ya saya percaya (yang mana dulu pas kuliah pernah dimarahi dosen karena terlalu gampang percaya). Kalau punya klien kayak gini kita harus bisa menanyakan satu topik dengan berbagai pertanyaan untuk lihat konsistensinya dia. Kalau jago banget sih biasanya dia udah merancang kebohongannya, tapi kalau belum jago-jago amat, ya kebongkar juga. Untuk klien seperti ini biasanya saya suka alloanamnesa alias bertanya ke orang-orang terdekatnya untuk kroscek. Lalu kalau ada perbedaan cerita, langsung deh di-counter ke klien. Busted! *berasa menang main game strategi*

5. Klien yang terbuka banget. Ini klien kecintaan saya. Saya cuma perlu nanya sedikit, dia bisa cerita kisah hidupnya sampai berlembar-lembar. Bahkan sampai yang paling private sekalipun. Biasanya saya jadi lebih gampang menggali dan mengumpulkan banyak data tentang orang ini. Tapiii… ada beberapa klien yang saking terbukanya, ternyata pas diurut-urut, masalahnya bisa kayak sinetron yang sampai 100 episode pun nggak habis-habis. Njelimet. Nah, tugas kita deh ngelurusin benang permasalahannya satu-satu, ngambil masalah utamanya, dan prioritaskan masalah mana yang paling urgent untuk diatasi.

6. Klien yang charming. UHUUUY! Pernah dapat klien yang cakepnya minta ampun, trus suka flirting lagi. Hm, bayangkan mukanya cakep, ramah minta ampun, memuja dan flirting ke kita kayak kita satu-satunya wanita tercantik di dunia? Saya pernah, dong. Tiap saya datang, wuih udah kayak artis disambut fans. Maunya mepet-mepet terus. Kalau udah begini, satu-satunya cara: tahan iman! Sebaik-baiknya orang ini, inget aja dia datang ke kita karena dia punya masalah yang mana harusnya sih kita nggak berhubungan sama orang yang bermasalah. Oh, klien charming gini biasanya klien yang ngedrugs. Jadi bisa juga menarik perhatian kita supaya dia dibebaskan. Well, jaga jarak aja, sih.

7. Klien yang bergantung. Beberapa kali dapat klien yang seperti ini. Saking ngerasa kita adalah life savior mereka, mereka nggak mau lepas dari kita. Pernah suatu kali saya nanganin klien yang udah lanjut usia. Udah terminasi dan bilang itu adalah pertemuan terakhir. Eh, besok-besok dapat kabar kalau dia mikirin kita terus sampai mengigau dan pengen ketemu kita. Harusnya hasil akhir yang pengen kita kasih adalah klien bisa berfungsi mandiri terhadap masalah-masalahnya dan nggak tergantung. Kalau udah begini biasanya saya datang lagi, tapi jelasin kalau setelah itu nggak bisa datang lagi. Memutuskan tali silaturahmi sedikit demi sedikit. Anyway, ada juga yang sampai minta no HP. Saya sih nggak pernah kasih no HP ke klien, biar nggak diteleponin terus. Saya biasanya kasih no telepon instansi tempat saya bernaung. Jadi mereka tahu kalau hubungan psikolog dan klien itu secara profesional dan bukan pribadi.

8. Klien yang dramatis. Klien kayak gini biasanya hidupnya bak tokoh utama sinetron di mana dia selalu yang paling menderita. Orang-orang di sekitar dia selalu menyudutkan dan dia adalah korban. Sedih terus-menerus deh pokoknya. Sama seperti kita yang bosen denger orang yang galau mulu, dengerin klien mendramatisir hidupnya terus juga bikin males, sih. Aura yang keluar selalu negatif. Kalau udah gini sih biasanya saya menggali hal-hal apa saja sih yang bikin dia bahagia. Tapi ya kadang-kadang mereka juga merasa nggak pernah bahagia. Kasian amat, yak.

9. Klien psikotik. Klien psikotik ini bisa ke schizophrenia dan gangguan jiwa lainnya. Berada bersama klien seperti ini kayak dikasih kejutan tiap hari. Mereka bisa cerita hidup mereka kayak sinetron di Indosiar: naik elang terbang, pencipta mesin waktu, nabi yang diutus Tuhan, dan segala macam hal ajaib lainnya Kalau yang begini sih masih bikin senyum-senyum simpul ya karena kan lucu. Tapi kalau disorganized schizophrenia, dia bisa ngamuk tiba-tiba. Serem! Kalau ngamuk sih saya masih bisa maklum karena biasanya ada petugas yang langsung sigap. Tapi saya pernah ketemu klien yang joroknya minta ampun. Dia seorang cowok yang ileran (ludahnya jatuh ke mana-mana *maaf*), resleting celananya terbuka sampai alat kelaminnya kelihatan, dan dia garuk-garuk alat kelaminnya. Pas ketemu kita, dia minta salaman. Ini adalah situasi paling nggak menyenangkan seumur hidup, deh. Mau salam ya jijik, tapi kalau nggak salam ya nanti dia ngamuk. Pura-pura pingsan aja, deh.

10. Klien mutisme. Klien yang sama sekali nggak ngomong. Bukan karena dia bisu, tapi saking depresinya dia memutuskan untuk nggak ngomong. Jadi ya, berasa ngobrol sama tembok gitu, deh. Udah diajak becanda, diajak ini-itu, dibawa jalan-jalan, teteeeep diam kayak patung. Mau gali masalah juga gimana, mau ngajarin buat berfungsi secara sosial juga susah. Kalau kayak gini ya harus kroscek ke keluarganya untuk masalahnya. Tapi tetap harus ngajak dia ngobrol terus-menerus supaya dia terbiasa dan nyaman sama kita. Yah, anggap aja lagi ngomong di depan kaca. *Lah, sama aja kita yang gangguan dong, ya*

Masih banyaaak lagi tipe-tipe klien yang absurb, njlimet, dan bikin sering mengelus dada. Hal paling berat sebenarnya adalah masyarakat itu sudah terbiasa dengan konsep dokter. Orang kalau datang ke dokter, ditanya-tanya gejala sebentar, dikasih resep, makan obat, dan voilaaaaaa… sembuh! Itu pun yang mereka harapkan dari psikolog. Datang ke psikolog, curhat, dikasih tau apa yang harus dilakukan, dan perilakunya berubah. Padahal ya nggak gitu juga. Harus ada proses yang kadang-kadang lama (pernah nonton Mr. Monk? Dia datang ke psikolog selalu rutin sampe bertahun-tahun, lho) dan ada keinginan dari klien untuk berubah. Mengubah perilaku yang sudah terbentuk bertahun-tahun, bahkan mungkin sudah terbentuk dari bayi, itu butuh proses panjang. Nggak segampang balikin telapak tangan.

Pada akhirnya, ketemu dengan orang-orang ajaib seperti mereka benar-benar memperkaya saya. Bahwa di luar sana hidup jauh lebih berat daripada yang saya alami dan kisah sinetron di TV itu bisa kejadian di dunia nyata.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s