(Seharusnya Tidak Ada) Drama

Jadi begini… *tarik napas yang dalam*, kalau menikah itu kayaknya emang nggak bisa bahagia terus-menerus sambil ongkang-ongkang kaki. Harus ada drama biar rada sip. And that what happened in my life. *buang napas*

Salah satu bestmen saya adalah sahabat terbaik saya. Dia adalah teman dari SMA (sepertinya pernah diceritkan di blog ini, tapi udah lama banget, deh). Dia adalah sahabat paling nyolot sedunia, kerjaannya nyela mulu. Tapi dia juga adalah sahabat paling baik sedunia, the one whom I turn to when I have problems, the one who ever heard me crying over a boy, the one who dares to call me stupid when I do something stupid. Pokoknya, dia adalah orang yang nggak pake bahasa manis buat ngasih tau borok saya. And for that, I’m thankful for having him. Untuk itu, dia pantas jadi salah satu bestmen di hari pernikahan saya, dong.

Suatu hari yang cerah, dia BBM saya nanya apa saya ada di rumah karena dia mau ambil kemeja seragamnya. Karena hari itu saya di kantor jadi saya bilang nanti sore aja. Sorenya, dia kembali BBM saya. Saya pikir dia mau ambil kemejanya dan ternyata tidak.

Lebih mengejutkannya lagi dia mengundurkan diri sebagai bestmen saya. Dia bilang dia bukan nggak mau, tapi nggak bisa. Tanpa perlu waktu lama, saya langsung ngamuk. Saya nggak peduli dia ngomong apa atau kasih alasan apa, saya ngamuk. Waktu itu rasanya rasa panas menjalar sampai ke ubun-ubun. Saking marahnya sampai pengen nangis.

Alasan penting apa sampai seorang sahabat baik nggak bisa datang ke pernikahan sahabatnya? Buat saya nggak ada alasan yang masuk akal. Saat itu, saking marahnya, saya sampai bilang, “Lo nggak bisa, mending nggak usah hubungin gue lagi!”. Iya, saya semarah itu.

Ketika saya lagi di puncak kemarahan, dia bilang: “Gue punya alasan, Mi. Lo minta kayak gitu, lo mikir perasaan gue nggak, Mi? Bukan gue nggak mau bantu lo. Gue pikir gue sanggup tapi kayaknya nggak, deh. Mi, gue cuma pengen lo tau, gue sayang sama lo, Mi. Tapi gue merasa sayang gue sama lo terlalu berlebih. Β Gue sayang sama lo tapi gue nggak pernah berani ngungkapin ke lo. Seberapa banyak pun gue jalan sama cewek ternyata gue nggak bisa lupa sama lo. Sori Mi, ini cuma untuk lo tau. Gue nggak pengen ngerusak acara lo, apalagi rencana indah lo. Gue sayang sama lo.”

JEDER! *petir menyambar* (pada kenyataannya, waktu itu emang lagi hujan dan beneran ada petir. Persis di sinetron). Waktu itu, saya langsung diam, bengong, dan nggak bisa ngapa-ngapain. Kemarahan yang tadinya memuncak diganti dengan rasa terkejut. I didn’t expect this at all, especially when I prepare my wedding.

Kalau mau di-flashback. Waktu SMA, dia pun pernah bilang sayang, yang mana reaksi saya sama seperti ini: marah. Kenapa marah? Karena saya pikir becandanya nggak lucu dan saya anggap dia sebagai teman baik. Waktu itu saya nggak ngomongan sama dia seminggu lebih, sampai akhirnya dia bilang itu cuma becanda aja, kok. Apalagi waktu itu nggak lama kemudian dia jadian dengan perempuan lain. Beres.

Dia selalu curhat soal pacarnya ke saya dan saya pun begitu. Dia pacaran selalu lama, bisa bertahun-tahun dan begitu juga saya. Di saat lagi santai-santai ngobrol dan dia udah pacaran dengan pacar barunya (yang mana sebenarnya agak kurang saya setujui karena nggak mau mengakui dia sebagai pacar di depan orang lain– tapi yang sudahlah), dia cerita kalau dia pernah suka sama saya dan dulu itu beneran. Sambil ketawa-ketawa. Saya pun nanggepinnya sambil ketawa dan akhirnya malah saling ledek-ledekan.

Keterkejutan ini ditambah lagi dengan statusnya dia sekarang pacaran sama cewek itu yang mana dia hampir melamar si cewek dan dia tampaknya nggak bisa berpaling ke lain hati. Jadi ketika dia bilang sayang sama saya… I wish I was having a bad dream.

Saat ini saya masih belum bisa bales BBM dia atau angkat teleponnya dia. I am still shocked! Saya tahu banget rasanya suka sama orang bertahun-tahun (oh yeah, I was in that situation) dan pasti nggak enak. Tapi menyakitkan untuk tahu bahwa sahabat terbaik saya nggak bisa hadir di pernikahan saya. I’m not ready for that. Jadi sekarang perasaan saya antara marah, sedih, kecewa, dan merasa bersalah. Campur aduk!

Drama banget, kan? Seharusnya ini cuma ada di sinetron aja dan calon pengantin sebaiknya hanya duduk ongkang-ongkang kaki sambil berbahagia *I wish!*.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s