Psikolog Idola

Di dunia per-psikologi-an, saya jarang mengidolakan seseorang, sih. Kalau kagum sama dosen sih sering banget, tapi nggak ada yang saya anggap sempurna banget. Kalau yang pinter sih banyak. Tapi sempurna….. belum pernah ketemu.

Suatu hari di kantor, saya ketemu sama psikolog satu ini. Lihatnya cuma sekilas. Perempuan cantik, berwajah indo, tinggi, dan berpakaian modis. Hal pertama yang bikin saya noleh dua kali. Ih, ini orang cantik banget, sih (sampe sekarang juga masih mikir gitu dan nggak bosen lihat dia).

Namanya Mbak Tara (nggak dituliskan nama lengkap di sini karena takut ke-googling).

Nah, semakin berjalannya waktu, saya jadi makin sering ketemu dan komunikasi sama dia. Sering kerjasama untuk nanganin pasien dan sering diskusi. Dan kekaguman saya makin bertambah. Dia pinter, praktis, enak diajak ngobrol, ramah, dan nggak pelit bagi ilmu. Dia juga nggak pernah memandang remeh pendapat saya kalau lagi diskusi. Orangnya sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol dan mau bantu kalau saya lagi kebingungan harus kasih terapi apa untuk pasien.

Oh bukan itu aja. Secara penampilan, dia modis dan enak dilihat. Tiap dia datang kayaknya mata nggak berkedip lihat dia. Dalam hati selalu bergumam, “I wanna be like her someday”. Dia masih muda, lho. Cuma dua tahun di atas saya. Lulusan double degree dari UI dan Aussie waktu sarjana.

Dia masuk salah satu jajaran psikolog idola saya karena secara penampilan menarik (kalo dulu di kampus kayaknya jarang nih psikolog perempuan yang menarik penampilannya, malah terkesan acak-acakan dan malas mikir penampilan), cerdas, dan ramah.

Oh ya, kenapa penampilan itu salah satu bagian yang penting? Karena ketika dia bisa menampilkan dirinya baik, dia bisa lebih terpercaya. Kalau saya mikirnya begitu. Terutama jika berhadapan dengan pasien-pasien tajir dan sosialita, salah satu cara meyakinkan mereka ya dengan penampilan. Dan itu bikin mereka mau dengerin kita.

Kalau cerdas ya tentu saja harus dipunya. Tapi terutama, dia mau mendengarkan pasien, tanpa terlalu banyak judging dan saran-sarannya benar-benar suatu yang praktis. Dia nggak bikin saran dan analisis ribet, which I knew some of the psychologists would love to do that (to show off, maybe?).

Eh iya, kadang-kadang saya emang suka sebel sama psikolog yang merasa tahu lebih  banyak tentang manusia, pinter alat tes macam-macam, analisanya jago banget, sampai akhirnya melupakan bahwa si klien itu subjek, lho. Bukan objek. Jadi buat saya, menemukan orang yang emang passion-nya nolong orang dengan berbekal ilmu psikologi itu jarang (iyaa, saya emang skeptis sama beberapa rekan psikolog yang grade-minded, test-minded itu). Mbak Tara is one of the nice psychologist that I know.

Back to topic. Pokoknya, akhirnya sekarang saya nemu psikolog idola dan bikin saya bercita-cita suatu hari harus jadi kayak dia. Harus banget!🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s