Perenungan 2011

2011 ran too fast, didn’t it?

Perasaan baru kemarin berkunjung ke rumah saudara-saudara di awal tahun seperti tradisi biasanya, eh tiba-tiba udah mau 2012 aja.

Untuk tahun 2011 ini semua resolusi tercapai, dong! *jingkrak-jingkrak*. Apa resolusinya? Hm, it’s something personal. So, gonna keep it for myself. 😉

Buat saya tahun 2010 itu penuh dengan air mata dan berat banget. Saya cuma ingat bahwa di akhir tahun, saya memutuskan untuk nggak melawan alam semesta lagi. Bahwa pasrah dan ikhlas adalah cara terbaik mengatasi semuanya.

Bok, percaya deh. Semudah mengatakan pasrah dan ikhlas, itu adalah 2 hal yang paling susah dilakukan. Kata-kata itu sepaket sama istilah bersyukur. Ujian matematika masih lebih gampang deh daripada bersyukur. Dan itu yang saya terapkan ketika memasuki tahun 2011. Bahwa semua ada waktunya buat saya, bahwa ketika sudah berserah dan bersyukur, saya akan mendapatkan lebih dari apa yang saya minta.

Dan voillaaaaa… tercapai!

Dapat kerjaan, hubungan dengan pacar meningkat ke jenjang yang lebih baik, dan saya akan menikah! Wohooo!

Ada saatnya ketika lagi di puncak kesenangan, Tuhan menguji lagi. Masih inget dengan peristiwa rumah saya kemalingan dan segala perhiasaan habis diambil, di saat saya sedang mempersiapkan pernikahan dan Bapa sudah pensiun. Serius, bikin stres!

Mungkin kelihatannya baik-baik aja, tapi berhari-hari saya nggak bisa tidur karena ketakutan pencuri akan datang lagi. Melihat Mama lemas dan pucat mukanya, tamparan paling keras buat saya. Beberapa hari setelahnya saya malah sakit sampai muntah-muntah. Kata dokter karena saya lagi stres dan harus bedrest. Well, itu masa paling down. Anehnya, saat itu saya nggak menyalahkan Tuhan. Mungkin saya terlalu terpukul, bahkan udah nggak punya waktu untuk menyalahkan siapa-siapa.

Tapi kemudian, Tuhan itu baik. Jadi sebelum kami kerampokan, Tuhan memberikan Bapa pekerjaan yang baik. Jadi yah, Tuhan menyediakan sebelum kita meminta.

Buat saya, tahun ini merupakan tahun pembelajaran. Kalau tahun 2010 kemarin Tuhan ngajarin saya untuk ngalamin masa-masa paling rendah di hidup, tahun ini Tuhan kasih banyak banget berkat tapi juga sekaligus membentuk kepribadian saya jadi lebih baik lagi. Saya rasa, Dia sedang mempersiapakan saya untuk menjadi istri kelak. Oh, tentu saja istri yang baik (mariii, bilang amin!).

Yang paling saya rasakan adalah saya banyak belajar untuk bersyukur di saat rasanya nggak ada yang perlu disyukuri. Pelajaran syukur ini tampaknya ada levelnya dan saya masih harus ikut tes beberapa kali lagi supaya lulus. Mengucap syukur di saat keadaan susah itu ternyata emang bikin hati adem kayak dikasih minum es jeruk.

Jadi begitulah. Tahun 2011 itu tahun penuh berkat, tahun pencapaian, dan tahun pelajaran. 🙂

Nah, untuk tahun depan apa resolusi saya?

Cukup menjadi istri yang baik (dan mungkin calon ibu yang baik pula), anak yang baik untuk orang tua, saudara yang baik juga. Lebih baik dalam segala hal.

Doakan ya, kawan!

Selamat menyambut tahun 2012. Gonna be a very promising year. Yihaaa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s