Bali With Orenz (3)

SAMPAILAH DI HARI KETIGA DI BALI! *tiup terompet*

Di hari ketiga ini kami bangun pagi lagi. Asiik, agenda hari ini adalah keluar dari Singaraja dan jalan-jalan ke pantai. Karena excited, jam 7.30 kami udah siap semua. Langsung menuju restoran untuk sarapan dulu karena akan melewati jalanan berkelok lagi.

Di restoran hotel masih sempat gosip-gosip lucu sama si Made yang rambutnya acak-acak (hayooooo, habis ngapain, tuh? :p). Thanks to Made, hari ini dikasih sewa mobil gratis seharian. HOREEE! Bye bye Singaraja!

Begitu masuk mobil, saya udah kasih jadwal ke Pak Juane, supir kami. Saya bilang jadwal hari ini adalah ke Pantai Padang-Padang dan Ubud. Lalu karena minum antimo lagi, kami semua tertidur selama perjalanan. Yang pertama terbangun adalah Bayu. Dia nanya ke Pak Juane, “Pak, ini lewat jalur alternatif, ya?” karena dilihat jalannya kecil dan berbatu. Dijawab Pak Juane dengan iya. Oh aman. Kembali tidur.

Eh, tiba-tiba mobil berhenti dan Pak Juane bilang udah sampai. Pintu dibukakan lalu disambut dengan beberapa orang bilang, “Good afternoon” dan ucapan selamat siang dalam bahasa Jepang dan Korea. YA KAGET DONG! Baru bangun dan disambut begituan. Pas ditanya ke Pak Juane, dia bilang di tempat ini bisa main sepeda. Oh baiklah.

Saya dan teman-teman ke WC dulu mau pipis. Di WC kita semua heran, harusnya kan di jadwal kita ke pantai dulu, ya. Kenapa ini dibawa ke Ubud dan ke tempat entah apa itu. Ya udah, kita memutuskan untuk stick ke jadwal.

Di lobi depan, saya basa basi nanya di situ ada penyewaan sepeda nggak.

“Ada sewa sepeda nggak?”

“Ada, Mbak.”

“Berapa sewanya?”

“Untuk 2,5 jam harganya 67.”

“67 ribu?”

“67 dollar, Mbak.”

#kemudianhening #kemudianmengkeret

Ini sewa sepeda apa sampe harganya bisa 600 ribuan? Pake ban emas? Lalu saya ambil brosurnya dan JENG JENG JENG… semua dihargai dengan dollar. Salah tempat banget deh ini.

Harganya dollar semua! *pingsan*

Akhirnya kita menegaskan ke si supir bahwa bukan itu yang kita mau. Karena udah terlanjur di Ubud, ya udah berarti ganti rencana dikit. Ubud-lah yang akan kita kunjungi pertama kali. Langsung kita minta ke Pak Juane untuk bawa kita ke Bebek Bengil. Ini request-nya Prytha yang ngidam ke sana udah dari kapan tau.

Bebek Bengil

Si bebek yang beken itu. Nyamm!

Setelah kenyang makan di Bebek Bengil, lanjut jalan kaki di seputaran Ubud. Biasaaa cuci mata. Eh, nemu penyewaan sepeda. Tau nggak harganya berapa? Hanya 20 ribu rupiah saja dengan waktu yang jauuuh lebih lama. Tapi kita nggak jadi main sepeda karena hari udah semakin sore dan kita mau ke Pantai Padang-Padang. Yuk ah, kita ciao!

Perjalanan ke Padang-Padang memakan waktu kurang lebih 1 jam lebih. Dannnnn pantainya emang bagus banget, yak! *histeris* Laut biru, pasir putih. Ini baru namanya pantai! *kesenangan* Di situ kayaknya lebih banyak bule, ya. Mana berbikini semua dan berjemur. ISSSH, nyesel nggak pake baju renang.

Jalan masuk ke Pantai Padang Padang

I loveee the sea!

Main-main di pantai, kayak nggak pernah lihat air :p

Oh pokoknya aku suka di pantai ini. Baguuus! Airnya jernih, tenang, dan pasirnya putih. Seharian juga betah, deh.

Setelah puas main air, kita balik ke hotel. Oh anywaaay, Pak Juane ini agak merusak hari kita dikit. Jadi ceritanya dia sering banget ngecilin AC mobil sampai yang keluar cuma angin doang. Akhirnya kita kepanasan dan pengap, terutama yang duduk di bagian paling belakang. Udah diminta berkali-kali untuk bikin AC-nya dingin. Dilakukan, sih. Tapi diulang lagi, lho!

Belum lagi waktu nyari Hotel Aroma’s di Legian. Kita udah kasih tau alamatnya dan kita cari pelan-pelan di sepanjang Legian. Pas udah keliatan tulisannya The Aroma’s kita langsung bilang ke Pak Juane, hotel itu tampaknya ada di dalam gang. Pak Juane ngeyel dan malah ngelewatin hotel itu begitu aja. Dia malah tetap nyari nomor hotel. Tau sendiri kan kalau Jalan Legian sekarang macet total dan satu arah doang. Jadi kita harus muter lagi. Pas udah muter, kita bilang lagi ke bapaknya hotelnya udah dapet. Dia masih keukeuh kalau mobil nggak boleh masuk ke gang itu dan di pinggir jalan pun nggak bisa berhenti. Jadi kita disuruh turun aja di pinggir jalan dengan bawa koper banyak segambreng? GILA! Akhirnya kita sedikit memaksa Pak Juane untuk tetap masuk. Ternyata mobil boleh masuk dan bahkan bisa parkir di situ, loh! *melotot ke si bapak*

Begitu sampai di hotel, OMAIGAT hotelnya bagus banget! Secara 2 hari kemarin nginep di hotel tua di daerah pedalaman. Begitu dapat hotel yang baru, bersih, dan kolam renangnya bagus ya kita riang bukan main. Kita sewa living room-nya. Jadi di ruangan yang besar itu kayak apartemen 2 kamar. Ada air panas, tempat tidurnya empuk, selimutnya tebal, ada kompor, dan bersih banget. AAAAA, aku senang!

Saking senangnya karena akhirnya dapat tempat yang bagus juga, kita langsung nyebur ke kolam renang. Oh beginikah hidup sebenarnya. *lebay*

Setelah puas berenang, kita langsung bilas dan siap-siap untuk misi besar malam itu: Clubbing! Harap diketahui kami nggak pernah clubbing bareng. Tiga di antara kami bahkan nggak pernah clubbing seumur hidup. Jadi ini seperti misi besar di mana kami akhirnya akan clubbing bareng, di Bali pulak! WOHOOOO! *nari hula-hula*

Secara amatiran, kita semua dandan yang cantik. Sebelum clubbing, kita makan malam dulu di Ultimo Italian Restaurant di daerah Seminyak. Ya ampun, itu restoran penuh banget! Penuh bule semua macam di luar negeri aja. Bahkan kita harus jadi waiting list untuk makan di situ. Tapiiii… nggak nyesel deh makan di situ. Makanannya enyaaak dengan porsi banyak banget dan harga yang terjangkau. Dijamin puas! Udah gitu kita makan outdoor dengan lampu-lampu cantik. Oh, aku suka sekali.

Porsi banyak dan enak! Sllrrp!

Pizza berukuran besar

Setelah puas makan, kita langsung melaksanakan misi besar: clubbing! Mobil sudah menunggu di depan. Begitu kita bilang, “Pak, ke Hu’u Bar di Seminyak, ya”.

Eh si supir (yang berbeda dari supir kemarin) malah bilang, “Saya cuma dibilangin buat nganterin makan  malam doang”.

-_____________-”

Males marah, ya udah kita minta dianterin ke Hu’u Bar, nanti pulangnya kita naik taksi aja. Misi tetap harus dilaksanakan, dong.

Begitu diturunin di Hu’u Bar…. *liat kiri-kanan* kenapa KOSONG? Mana musik berdentumnya? Mana orang-orangnya? Ini berasa kuburan sepi begini. Tapi karena udah terlanjur masuk ya sudah duduklah kita di spot paling enak yang bisa tiduran.

“Mbak, hari ini club-nya tutup, ya?”

“Club cuma ada Jumat dan Sabtu aja, Mbak. Ini kan hari Senin.”

-___________________-”

Siapa juga yang mau dugem di tengah hari kerja. Pantesan sepi. Jadi misi besar kita: GAGAL TOTAL! *nyemplung ke laut* Ya sudahlah, karena terlanjur ke sana kita pesan minum aja dengan tampang kecewa-anak-desa-mau-masuk-kota-sok-gaul.

Nah, sebelumnya saya nggak pernah minum alkohol, tuh. Yah paling seteguk dua teguk aja dan biasanya berakhir saya sakit perut dan pencernaan jadi lancar. Tapiii karena dikomporin yang lainnya, malam itu saya mau minum campuran vodka gitu. Nama minumannya: Sex and The City.

Sex and The City

Pertama kali minum segelas voda! *norak* :p

Kenapa sex and the city itu diperlihatkan terus? Tunggu ceritanya.

*dadah-dadah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s