Will You Marry Me?

Saya udah pernah cerita belum sih gimana cara pacar melamar? *lupa ingataan* Oh well, kayaknya secara garis besar udah, ya. Jadi, sebenarnya dia nggak pernah melamar secara romantis kayak di film-film itu, sih. Yang mana padahal saya kan hopelessly romantic dan seumur hidup udah membayangkan gimana rasanya dilamar.

Dari awal-awal pacaran, si pacar udah sering nyebut-nyebut “Ngapain sih pacaran lama-lama. Lebih cepat lebih baik” yang tentu saja saya cuekin dan pura-pura nggak denger aja. #pacarkurangajarπŸ˜›

Waktu itu pas baru jadian banget, saya tinggal di Bogor sebulan untuk praktek di RSJ. Secara masih hangat, telepon dilakukan tiap malam dan berjam-jam. Tiba-tiba si pacar nanya, “Kalau tahun depan (2010) kamu siap nikah nggak?” Ya tentu saja nggak! Soalnya saya waktu itu masih ragu bisa lulus tepat waktu nggak, ya. Masa nikah pas masih kuliah S2 yang mana beratnya minta ampun. Terus dia nanya lagi, “Kalau tahun depannya lagi?”. Hmm, ya bolehlah. Tapi masih dengan ragu-ragu pastinya.

Nah Maret 2010 itu waktu pacar habis pulang dari Phuket, kita lagi ngobrol-ngobrol santai. Inget banget waktu itu tampangnya udah lemas karena kecapekan siang harinya baru pulang dari Phuket. Tiba-tiba dia nanya,

“Kamu kapan lulus kuliah?”

“Hm, kayaknya sih tahun ini.”

“Ooh… Habis kuliah mau ngapain?”

Mulai merasakan ke mana arah pembicaraan ini, “Mau kerja dulu dong. Eh, apa lanjut S3 aja, ya. Gimana?” dengan senyum licik.

“Yah, jangan dong. Jangan lanjut S3 dulu. Nanti aja. Kerja dulu aja.”

“Emang kenapa?”

“Ya.. nggak papa, sih..” dengan muka agak gugup.

“Oooh..”

…… hening. Saya udah mau ketawa karena udah bisa nebak dia mau ngomong apa. Sementara dia ragu-ragu mau ngomongnya. Takut ditolak atau gimana, ya? Hehehe.

“Kenapa sih? Mau ngelamar aku, yaa? Ya, kan?” langsung saya tembak gitu.

“Iya, nih. Kapan bisa ngomong ke orang tua kamu?”

DEG! Bok, sekarang giliran saya yang deg-degan. Secara dikira becanda doang. Trus akhirnya jadi saya yang gugup dan merasa belum siap. Yang keluar adalah, “Nanti, ya. Tunggu aku lulus kuliah dulu dan kerja. Habis itu baru kamu ngomong. Sekarang deketin aja keluargaku dulu”.

Efek pembicaraan itu adalah seminggu penuh saya nggak bisa berhenti senyum. Senyum di bis, senyum di kelas, senyum di jalan. Untung aja nggak disangka orang gila. Mau cara melamarnya nggak ada romantisnya sama sekali, tapi tetap loh bikin senang dan terharu. Eh, dia serius sama saya ternyata! *joged-joged*

Nah, tahun itu akhirnya saya punya energi yang lebih untuk menyelesaikan kuliah saya tepat waktu. Pokoknya merasa harus lulus, trus kerja, trus kawin! AHEY! Mau cuma tidur 3-4 jam doang demi ngerjain thesis dan ngejar-ngejar dosen, mau jungkir balik seharian di depan laptop, mau disuruh nganterin thesis ke tempat yang jauh, semua dijabanin. Targetnya, 7 bab thesis harus diselesaikan dalam waktu 3 bulan! Ajaib, saya lulus tepat waktu dan dengan nilai memuaskan! Well, mungkin ini namanya the power of love kali, ya. *ciyeeh!*πŸ˜›

Setelah lulus dan beban terangkat, itu rasanya kayak bebas dari penjara. Lepas dan senang! Sempat ingin menikmati hidup dengan bersenang-senang dulu, tapi agak iri juga liat teman-teman yang udah menikah. Jadi emang berbulan-bulan dilema. Sampai akhirnya, saya kerja juga.

Nggak beberapa lama, di awal tahun 2011, tanpa banyak basa-basi dan tentu nggak romantis, dia bertanya lagi, “Kapan aku bisa ngomong ke orang tua kamu?”

Hiyaaah! Dia ternyata beneran, lho. Kalau dipikir-pikir tiap tahun dia tanya hal yang sama dan tetap konsisten. Kali ini, sesuai janji waktu itu habis lulus dan kerja, dia boleh ngomong ke orang tua saya, maka waktu itu saya langsung menyusun waktu buat dia ngomong ke orang tua saya.

Nggak romantis? Banget! Tapi apa saya pengen adegan lamaran yang romantis sekarang? Nggak juga. Buat saya lihat dia serius sama saya dan berani ngomong ke orang tua saya (yang mana orang tua saya agak ribet) itu udah lebih dari romantis. Percayalah, dia menghabiskan waktu 5 jam untuk ngomong ke orang tua saya tentang niatnya menikahi saya. That was beyond romantic!

Jadi begitulah kisah bagaimana cara saya dilamar. Apa pun caranya dan gimana pun caranya, tetap membuat saya senyum-senyum terus dan kayaknya saya udah melayang-layang ke awan, deh.

So, I’m gonna say I do for that question.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s