Kapan Nikah dan Kapan Hamil?

Pernah ditanya “Kapan nikah?”

*mendengar suara riuh-rendah dari kejauhan*

Untuk yang seumuran saya, pasti setidaknya pernah beberapa kali ditanya kapan nikah. Entah dari orang tua, saudara, teman-teman, dan bahkan dari orang yang nggak dikenal sekalipun. Perasaan ditanya begini dari biasa-biasa aja sampai bosen dan sampai stres juga ada. Tergantung seberapa sering ditanya, sih. Semakin tinggi usia, semakin sering ditanya. Tiap pertemuan malah.

Dulu saya jarang dapat pertanyaan kapan nikah dari orang tua. Justru yang ribut adalah orang-orang gereja (yang mana karena saya pacaran dengan cowok 1 gereja juga), saudara-saudara, dan handai taulan lainnya lah (yang bahkan saya suka nggak kenal). Kalau ditanya seperti itu jawaban saya cuma senyum cengengesan. Nggak mau menjawab iya dan juga nggak mau menolak. Well, itu sebenarnya reaksi dari sikap, “Suka-suka gue dong kapan. Entar kalau gue mau kawin, gue kasih tahu lo, deh”. Untungnya orang tua saya selalu mem-back-up saya. Tiap ada yang tanyain, mereka akan bilang, “Naomi kan masih lanjut kuliah lagi. Naomi kan baru lulus, santai aja dulu”. Dan segudang jawaban lainnya.

Saya tahu sih orang tua, terutama Mama, pasti pengen saya menikah juga. Kadang-kadang si Mama suka cerita kalau dia menikah di umur 24 tahun dan menurut dia saya udah kelewatan, tuh. Tapi dia sama sekali nggak pernah maksa. Santai kayak di pantai. *berjemur*πŸ˜„

Baru tahun ini, si Mama nanya dengan serius kapan saya berencana nikah. Katanya kalau hubungan yang sekarang nggak serius, ya jangan ngabisin waktu di situ. Pada saat itu (untungnya) saya dan pacar juga lagi membicarakan rencana menikah dan dia berniat untuk bicara ke orang tua saya. Itu bikin saya lebih mudah ngomong ke orang tua.

Buat saya, pertanyaan kapan nikah yang diajukan orang lain, kecuali orang tua, adalah pertanyaan basa-basi yang nggak terlalu penting ditindak lanjuti. Mungkin mereka cuma kepo aja. Itulah kenapa saya selalu membalas cuma dengan senyuman karena nggak penting juga dijawab. Cuma pertanyaan dari orang tua yang akan saya jawab dengan serius karena mereka pasti beneran peduli sama saya. Kalau misalnya saat itu saya belum berencana menikah pun, saya akan jawab sebenarnya. Bukan dengan kata-kata untuk menyenangkan orang tua.

Sama seperti pertanyaan kapan hamil. Bok, itu pertanyaan konyol, deh. Untuk pasangan yang sudah berusaha keras dan merencanakan untuk punya anak tapi belum dikasih, pertanyaan itu menyakitkan. Well hey, tanya aja sama Tuhan kapan Dia mau kasih. Ya kan?

Ada hal-hal yang tampaknya belum dimengerti (atau nggak mau tahu) kalau pasangan yang menikah belum tentu langsung mau punya anak. Ada hal-hal yang mereka rencanakan yang mungkin kita nggak tahu. Tentu saja itu di luar kapasitas kita untuk menghakimi mereka. Tapi kadang-kadang reaksi yang timbul dari orang-orang adalah:

“Lho, kenapa ditunda?”

“Nggak baik ditunda. Nanti malah susah dapatnya”. –> Lah, malah didoain susah dapat. -____-‘

“Apa lagi sih yang ditunggu?”

“Nanti keburu tua susah hamil, lho”

Untuk orang Indonesia, menunda kehamilan itu kayaknya bisa bikin bumi gonjang-ganjing kayaknya. Hal yang aneh dan nggak seharusnya dilakukan. Kalau buat saya keputusan seseorang untuk punya anak itu keputusan orang tuanya. Lah, nanti kan mereka yang bakal ngurus dan bakal membiayai juga. Kalau mereka belum siap secara finansial, apalagi secara mental yang kasihan kan anaknya.

Itu masih mending kalau memang pengen menunda. Yang lebih menyakitkan adalah kalau emang kepengen banget hamil tapi belum hamil, lalu dibombardir sama pertanyaan kapan hamil mulu. Nggak udah ditanya kapan hamil pun mereka udah cukup stres dengan usaha mereka sendiri. Apalagi ditanya kapan hamil. Mereka pasti tertekan banget. We’re not helping them at all.

Saya sering merasa, budaya basa-basi di masyarakat kita malah membuat kita jadi orang yang pengen tahu urusan orang lain dan bikin kita jadi orang yang nggak berempati. Niatnya mungkin baik, supaya perhatian makanya nanya. Tapi hasilnya adalah kita menambah tekanan untuk orang lain.

Kadang-kadang kita memaksakan prinsip dan sifat kita ke orang lain, tanpa mau menempatkan diri kita di posisi orang itu. Mungkin kita adalah orang yang lebih kuat dan tangguh, tapi mungkin orang lain nggak bisa sekuat kita dan menerima masalahnya dengan cara yang berbeda. Lalu kita memaksa mereka menyelesaikan masalah dengan cara kita. Ya tentu saja nggak bisa. Yang ada mereka malah makin stres.

So, what I’m trying to say is put your feet on other’s shoes. Ada banyak pertanyaan basa-basi yang bisa ditanyakan. Bukan pertanyaan yang makin menyudutkan. Percaya deh, mereka juga pasti mau membagi berita bahagia tentang kapan mereka menikah dan hamil ke kita. Jadi, kita cuma perlu membantu dengan cara yang tepat.

As simple as that.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s