Disiksa Di Operasi Gigi

Saya udah operasi gigi! *salto* *jungkir balik*

Well, it was a very scary moment! *elap keringet pake kain pel*. Sebenarnya karena udah pernah operasi gigi sebelumnya dan tahu kalau selama operasi nggak sakit, saya nggak terlalu khawatir banget. Bangun tidur pagi masih santai, ngemil sana-sini, nonton TV.

Jam 10 pagi, pacar menjemput (oh, dia baik sekali karena sengaja mengganti hari lemburnya ke hari sabtu, supaya hari kamis bisa nemenin saya operasi gigi). Kami mau ke penjahit QZM di Pasar Sunan Giri untuk menjahit kemeja dan dress marhusip, serta jas untuk martumpol. Masih sempat juga makan soto ayam di depan Pasar Sunan Giri.

Di perjalanan dari Pasar Sunan Giri sampai klinik gigi di Sudirman, saya bablas tidur. Soalnya kan harus istirahat yang cukup kata dokter. Sementara si pacar menyetir di kemacetan. Hihihi.

Sampai di dokter, saya telat 1 jam karena kemacetan di daerah Tanah Abang benar-benar nggak manusiawi banget. Setelah sampai, Dokter Rara (yang biasanya saya konsul dengan dia) dan Dokter Hendra Hidayat (dokter utama dan pemilik klinik gigi tersebut) udah menunggu. Baru di sini saya mulai deg-degan.

Saya dipersilahkan masuk ke ruangannya. Di sana udah ada 2 perawat pria. Mereka ramah-ramah, sih. Dokter Rara dan Dokter Hendra masih berdiskusi. Ini bikin saya khawatir jadinya karena kok dokter utamanya pake datang sekali. Jangan-jangan gigi saya sebegitu parahnya sampai butuh dokter yang paling hebat.

Nggak beberapa lama kemudian masuklah Dokter Rara. Ia mengoleskan jelly manis di gigi saya. Kemudian, dia mulai menyuntik obat bius. Nggak terlalu sakit, kok. Nggak beberapa lama kemudian, gusi dan gigi saya mulai mati rasa.

Bagian paling menyeramkannya adalah… hari itu saya dipegang sama 4 orang sekaligus! Satu megang mulut, satu megang penyedot, 2 dokter yang mengoperasi saya. Jadi si Dokter Hendra ini tampaknya sambil mengajari dokter yang lebih muda, Dokter Rara. Jadi, pas dioperasi berasa kayak ikut kuliah kedokteran gigi: “Ayo pindahin alatnya ke mahkota dan ke no 8.. bla bla bla!” Mak, sini mau pingsan!

Saya jadi serem kan, ya. Mana operasi itu memakan waktu sampe 3 jam! Begitu gigi dikeluarkan, rasanya pengen disimpan gigi itu dan dipajang saking susahnya (euuuh!). Selesai operasi, saya langsung ngaca dan benar aja pipi udah bengkak banget.

Malamnya waktu makan, perih banget rasanya sampai mata saya berkaca-kaca. Nggak peduli deh makanan yang baru masuk cuma sedikit, yang penting nggak perih lagi. Besok paginya, saya demam. Duh, nggak enak banget. Karena harus minum obat, akhirnya saya paksa buat makan dan langsung minum obat. Nggak sampai beberapa lama, saya tidur. Pas bangun, badan udah segar banget dan demam udah hilang. Tapi masih susah makan. T_T

Dasar saya bandel, baru hari ketiga saya udah langsung makan bakso. Sukeses nyelip di antara jahitan saya. DUH! Mau makan aja pake gregetan banget. Eh, tapi saya tetap bandel sih. Jadi malamnya saya makan pancake. Itu nggak keras-keras amat, sih. Oh, makan kerupuk juga di rumah, walaupun sampai mengaduh-aduh.

Kalau merasa sakit banget habis operasi gigi, saya bakal inget kalau itu adalah gigi bungsu terakhir yang dioperasi. Semuanya udah dicabut dan nggak bakal ada lagi operasi gigi. WOHOOOOOOOO! *lempar kolor ke laut Ancol*

2 thoughts on “Disiksa Di Operasi Gigi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s