Ibu Jeanette

Saya nggak suka kematian (tentu saja, siapa juga yang bakal suka). Sebisa mungkin saya nggak menulis hal-hal tentang kematian di blog ini supaya nggak merasa sedih. Tapi untuk kali ini saya akan mengesampingkan aturan saya sendiri. Berikut ini mungkin cerita tentang kematian, tapi anggaplah ini berita yang menyenangkan karena saya yakin seperti itulah perasaannya sekarang.

Hari Jumat, 23 September kemarin, ketika saya baru bangun tidur dan (seperti biasa) mengecek HP saya. Berita pertama yang saya dengar pagi itu adalah salah satu dosen saya, Ibu Jeanette Murad, meninggal dunia.

DEG!

Ibu Jeanette adalah salah satu dosen favorit saya. Udah pernah saya ceritakan belum kalau kuliah S2 saya sunggu menyiksa jiwa dan raga, ditambah dosen-dosen yang ‘unik’ (kalau nggak mau dibilang rese, sih). Bu Jeanette bukan salah satu yang seperti itu. Dia adalah dosen yang baik, ramah, dan selalu tepat waktu.

Saya pernah mendapatkan bimbingan satu kasus dengan beliau. Waktu itu untuk kasus di RSMM, sebuah rumah sakit jiwa di daerah Bogor. Karena agak ribet bolak-balik Bogor-Depok (ya, saya aja kali yang males waktu itu. Hihihi), beliau menerima pertanyaan lewat sms.

Setelah selesai masa praktek di RSMM, mulailah saya bimbingan dengan beliau, disertai Mas Iman sebagai pembimbing kedua. Hal yang paling saya ingat adalah beliau selalu tepat waktu. Bahkan kalau bisa bimbingan sepagi mungkin (teman saya pernah bimbingan jam 06.30 pagi). Untungnya waktu bimbingan dengan saya nggak pernah sepagi itu. Paling pagi jam 09.00 *lega*. Waktu bimbingan mana berani saya telat. Bukan karena beliau bakal ngomel sih, tapi karena saya merasa malu kalau sampai membiarkan beliau menunggu.

Sebagai psikolog senior bergelar profesor, dia bisa aja sombong dan belagu, serta merasa ilmunya paling jago sedunia. Tapi Ibu Jeanette nggak begitu. Beliau mempercayai kemampuan saya dan nggak banyak mengutak-atik treatment saya. Beliau bilang, “Kamu yang menangani klien dan kasus ini selama satu bulan penuh. Pasti kamu yang paling tahu seperti apa dia. Percaya sama kemampuan kamu, deh.” Mendengar itu saya langsung senang banget. Dia bikin tingkat kepercayaan diri saya naik beberapa tingkat.๐Ÿ™‚

Ketika mendengar berita beliau meninggal. Saya dan neng Melvi langsung pengen melayat. Neng Melvi mungkin punya pengalaman emosional yang lebih besar dengan beliau dibandingkan saya karena Ibu Jeanette adalah pembimbing thesis Melvi sampai 1 tahun. Bahkan Melvi sampai pernah ke rumahnya segala untuk mengantarkan thesis.

Hari itu karena kesibukan di tempat kerja, kami nggak bisa melayat. Seharian itu saya gelisah, nggak tahu kenapa. Besoknya, saya belum punya pikiran untuk melayat beliau karena hari Sabtu itu saya masuk kantor dan harus berhubungan dengan banyak pasien. Anehnya, pagi itu saya pakai baju hitam-hitam. Kalau kata teman kantor saya, kayak orang mau melayat.

Sorenya ketika saya pulang kantor, ternyata neng Melvi ada di salon dekat kantor. Akhirnya saya menemui dia. Sehabis dari salon dia punya rencana untuk melayat. Saya pikir, oh saya pun ingin melayat. Maka jadilah kami pergi berdua ke rumah duka.

Ketika sampai di sana, kami langsung menuju peti di mana Ibu Jeanette berada. Ibu Jeanette terlihat tenang. Tidak seperti setahun lalu ketika beliau sedang diet keras karena terkena diabetes sehingga badannya menjadi kurus, kemarin beliau terlihat segar dan gemuk. Beliau terlihat sedang tersenyum. Biasanya saya nggak pernah berani melihat jenazah, tapi kali ini nggak ada rasa takut ketika melihat beliau.

Di sana saya dan neng Melvi pun sempat bertemu dengan Pak Murad, suami Ibu Jeanette. Pak Murad berkata dengan mata berkaca-kaca, “Nggak papa. Bu Jeanette pasti sedang bahagia sekarang. Dulu kami berdua suka ngobrol, dia bilangย  ‘jangan-jangan nanti kalau kita meninggal nggak ada yang bakal datang karena kita kan orangnya tertutup dan nggak punya banyak teman’. Tapi lihat sekarang banyak yang datang untuk Ibu. Dia pasti senang sekarang.”

Perkataan Pak Murad menyadarkan saya bahwa kematiannya bukan sesuatu yang harus dibuat sedih. Bu Jeanette sekarang pasti bahagia karena banyak yang mencintai beliau. Beliau nggak perlu takut karena banyak yang mengganggap beliau teman dan kepergian beliau membuat kami semua kehilangan.

Bu Jeanette dan Pak Murad tidak mempunyai anak selama perkawinan mereka. Kerabat mereka kebanyakan ada di Kanada sehingga di Jakarta mereka hanya berdua. Setahun belakangan ini Pak Murad terkena kanker dan harus menjalani kemoterapi. Ibu Jeanette setiap mendampingi Pak Murad dalam setiap kemo-nya. Bu Jeanette sering bilang kepada Pak Murad, “Aku nggak mau ya ditinggalin kamu mati duluan. Lebih baik aku yang mati duluan aja, deh. Hehehehe” dengan cengengesan khas Bu Jeanette. Dan ternyata setelah Pak Murad baikan, keinginan Bu Jeanette untuk tidak ditinggalkan Pak Murad pun terkabul.

Kalau melihat Bu Jeanette dan Pak Murad, saya selalu menggumam, saya ingin seperti mereka ketika tua nanti. Setia sampai mati.

Malamnya ketika saya tertidur. Saya memimpikan Bu Jeanette. Di mimpi saya, beliau mendatangi saya dan Melvi. Memeluk kami berdua dan berkata terima kasih karena sudah menemuinya untuk terakhir kali. Kemudian beliau pergi. Di mimpi pun Neng Melvi menangis sesenggukan.

Ketika saya terbangun, itu membuat saya terkejut. Saya percaya itu bukan sekedar mimpi. Saya percaya Bu Jeanette memang sedang mengucapkan salam perpisahan pada saya dan Neng Melvi. Kalau kata Neng Melvi, sense saya kuat (di mana saya nggak pengen punya sense yang kuat). Melihat Bu Jeanette di mimpi lagi kelihatan bahagia, saya pun merasa tenang. Benar kata Pak Murad, dia pasti bahagia sekarang.

Selamat jalan, Ibu Jeanette. Ibu pasti akan selalu diingat. Terima kasih untuk keyakinannya ya, Bu. :’)

2 thoughts on “Ibu Jeanette

  1. Naomi, saya Murad, suami Jeanette. Kebetulan 3 hari yl saya baca tulisan anda mengenai Jeanette. Saya kemudian ingin menghubungi anda untuk memberikan 2 (dua) buku memoir Jeanette yang saya susun, tapi saya tidak dapat menemukan alamat email anda maupun no hp anda di Bag.Klinis Fak.Psikologi UI. Juga saya tidak dapat menemukan Melvi’s. Bila anda berkenan memberikan alamat anda dan Melvi (tentu alamat email juga) kepada saya, saya ngin mengirim 2 buku memoir Jeanette tsb ke anda dan Melvi. Semoga ini dapat mencapai anda. Salam. Murad (jmlesmana@gmail.com)

    • Pak Murad, saya sungguh terharu Bapak mau membaca tulisan ini. Saya akan mengirimkan alamat ke e-mail Bapak. Terima kasih, Pak.๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s