Akhirnya Vaksin Juga!

Masih ingat niat saya untuk vaksin kanker serviks sebelum menikah? Selain rajin baca artikel tentang kanker serviks yang merupakan kanker pembunuh nomor 1 bagi perempuan di Indonesia, saya juga nanya pendapat orang-orang di sekitar saya. Saya pengen tahu seberapa pentingnya vaksin itu harus saya ambil.

Pertama-tama tentu saja yang saya tanya adalah Mama. Begitu saya bilang saya mau vaksin, dia langsung semangat dan 100% mendukung keinginan saya. Menurut Mama itu penting untuk kesehatan saya nanti.

Lalu, saya tanya ke Pacar. Agak ragu-ragu kalau dia bakal kurang mengerti kegunaannya. Tapi ternyata dia pun mendukung. Dia bilang kalau itu penting buat kesehatan saya, maka harus dilakukan. Yippy!

Kemudian, saya tanya ke beberapa teman saya yang akan menikah atau baru menikah. Jawabannya beraneka ragam banget. Beberapa teman saya menganggap vaksin itu kurang penting di tengah ribetnya urusan persiapan pernikahan, beberapa menganggap bahwa serahkanlah semua kesehatan pada Tuhan, dan pasrah aja.

Di kubu seberangnya mereka mendukung sekali. Menurut mereka resiko kanker serviks itu meningkat jika udah berhubungan seksual. Kalau kata teman saya yang dokter, yang bikin resikonya tinggi adalah berhubungan seksual saat usia remaja, berganti-ganti pasangan, dan pasangan kita belum disunat (mungkin ada banyak lagi penyebabnya, silahkan di-google :P). Menurut dia, resiko saya kecil, tapi siapa yang tahu ke depannya nanti, kan?

Akhirnya berbekal niat yang udah bulat, saya telepon ke beberapa rumah sakit. Ternyata harganya bervariasi banget. Dari sekali suntik Rp 620.000-Rp 800.000. Ealaaah, kalau 3 kali bisa sampai 2 jutaan, dong. Belum lagi, ternyata pake embel-embel harus konsultasi ke dokter per suntik. Tambah mahal lagi kan biayanya. Nggak semua harus konsultasi, sih. Kalau kita suntiknya di bagian medical check up, biasanya nggak pake konsul ke dokter dulu.

Otak makin keriting aja mikirin mau vaksin di mana. Kalau harganya bervariasi, saya pun berpikir kalau sebenarnya harga vaksin pasti nggak semahal itu. Cuma pas masuk rumah sakit jadi mahal banget. Secara saya kerja di klinik dan perawat-perawat suka ngasih tahu harga sebenarnya obat berapa. Sayangnya, klinik saya kan bukan klinik kebidanan, jadi ya nggak beli obat macam vaksin serviks.

Yang bikin makin gelisah adalah saya harus suntik vaksin bulan ini supaya pas suntik kali ketiganya sebelum saya menikah. Kalau ditunda bulan depannya lagi, bisa-bisa bulan di mana saya menikah, saya masih harus suntik-suntikan.

Di tengah-tengah dilema pengen dapat murah tapi harus secepatnya, tiba-tiba teman saya memberi tahu ada sebuah seminar di Senayan City di mana salah satu laboratorium mendirikan stand vaksin kanker serviks dengan harga per suntik Rp 550.ooo,-. Cuma 2 hari saja: tanggal 9-10 September dari jam 10.00-17.00.

Hari itu itu tanggal 9 September dan saya pulang malam. DANG! Mana besoknya saya kerja sampai jam 3 sore pula. Keesokan harinya, sebelum jam 3 sore saya langsung ngibrit pake taksi ke Senayan City. Begitu sampe saya telepon laboratoriumnya dan dia bilang acaranya udah selesai. Mati ga tuh! Langsung saya telepon orang yang in charge sama stand itu. Dia bilang, masih bisa tapi sejam lagi stand-nya tutup. Udah agak lega, eh dia bilang nggak bisa bayar pake Debit karena mesinnya rusak. Jadi harus bayar cash Rp 1.650.000,-. Duh, ribet, deh. Langsung secepat kilat saya turun ke ATM, ambil cash, dan kembali ke stand tersebut. Tepat waktu banget!

Setelah proses bayar-membayar selesai dan bertanya tentang prosedurnya, hari itu akhirnya saya jadi di-vaksin juga. Lega banget! *cium lantai Senayan City*

Suntikannya nggak sakit. Disuntik di bagian lengan dan nggak berasa sama sekali. Efek sampingnya untuk setiap orang berbeda-beda. Kalau teman saya dia merasa badannya pegal dan nggak bisa tidur semalaman. Tapi untuk teman yang lain, dia nggak merasa apa-apa. Untungnya waktu saya vaksin itu hari Sabtu jadi saya pikir kalau nggak bisa tidur semalaman, toh besoknya Minggu ini.

Di saya, efek sampingnya nggak sedasyat itu. Bagian yang disuntik itu lengan kiri. Agak pegal dikit di lengan kiri, tepatnya ya di bagian yang disuntik. Di bagian badan yang lain aman, damai, sentosa. Nggak pake kepala pusing juga. Pas tidur, malah nyenyaknya minta ampun (mungkin ini karena saya capek juga karena habis kerja. Hehehe). Pegalnya juga cuma berlangsung sehari aja, kok. Besoknya kembali normal.

Sekarang kekhawatiran saya untuk penyakit yang satu ini agak berkurang. Well, kalau buat saya sih kesehatan itu penting. Jadi kalau memang bisa dicegah, ya kenapa nggak, toh? Saya mikirnya kalau kena kanker serviks biaya yang harus dikeluarkan bisa beratus-ratus juta dibandingkan ngeluarin biaya 1,6 juta untuk vaksin. Ya kan?

Supaya nggak buta-buta banget dan percaya sama mitos yang beredar, saya rajin baca artikel tentang kesehatan dan konsultasi sama teman-teman saya yang dokter. Teman saya pernah nanya, “Lo nggak takut baca artikel begituan? Isinya kan seram.” Takut sih pasti, ya. Apalagi saya seringnya suka berlebihan kalau soal penyakit, tapi lebih menakutkan lagi kalau saya nggak tahu informasi apapun tentang penyakit itu dan bikin saya nggak jaga kesehatan. Tiba-tiab sakit berbahaya gimana? *pusing*

So, I can smile happily now knowing that I’ve done this step.πŸ˜€

2 thoughts on “Akhirnya Vaksin Juga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s