Ujiannya Sulit Sekali, Mister!

Kalau ada yang bilang mau menikah itu ujiannya banyak banget. Benar banget! Rasanya nggak mau pake ujian, langsung lulus, dan dapet gelar Nyonya aja bisa nggak, ya? *maunya*

Dulu waktu jaman-jaman keemasan, alias jaman pacaran tanpa embel-embel mau menikah, dunia serasa warna pink, kupu-kupu terbang di mana-mana, bunga-bunga cantik bermekaran, dan matahari bersinar cerah. *lebay*

Sekarang, kebalikannya banget.

Ngurus printilan pernikahan, berhubungan dengan banyak vendor, dan mengeluarkan biaya ini-itu aja udah cukup bikin stres. Stres bikin perasaan jadi lebih sensitif. Akibatnya, nggak perlu disinggung pun udah cepat marah. Kayak ada awan mendung di atas kepala saya. Disentil dikit langsung merembes deh air mata.

Pekerjaan setiap hari adalah mengeluh, berantem, panik, kangen, baikan, dan begitu terus-menerus. Nggak usah ditanya seberapa sering saya (dan mungkin dia pun begitu) mempertanyakan ini diterusin atau distop aja pernikahannya. Tentu saja kami nggak pernah mengungkapkannya, tapi di tengah tingkat stres yang meningkat, kadang-kadang terlintas pikiran seperti itu. Nggak perlu nunggu seharian untuk menyadari bahwa oh, I love this man and I want to spend my lifetime with him. Itu bikin saya fokus ke tujuan utamanya: pernikahan.

Kalau lagi bete banget, saya suka membayangkan: would my life be nicer without him? Hmm, no. I think it would suck. Kalau dipikir-pikir, siapa sih yang bisa tahan sama cewek mood swing kayak saya yang maunya segudang, control freak, perfeksionis, nggak mau mendelegasikan tugas ke orang lain karena nggak percayaan, dan plin-plan. *sigh* Cuma dia saya rasa.

Ada waktunya kepala saya mau pecah karena memikirkan banyak hal: dari A-Z. Seharusnya nggak perlu begitu sih karena saya kan bisa minta tolong orang lain untuk membantu saya. Tapi, nggak tahu kenapa, saya agak ragu-ragu kalau dikerjakan orang lain nanti hasilnya jadi nggak sesuai dengan yang saya mau. Akhirnya, saya pusing sendiri, kesal, dan marah-marah. Menganggap dia nggak mau bantu saya dan nggak punya inisiatif. Dan dia yang tiba-tiba kena marah, akhirnya cuma bengong lihat kelakuan ababil saya.

Percayalah, persiapan pernikahan itu melelahkan secara fisik dan emosional.

Bisa dalam satu kali pertemuan berdurasi 2 jam, saya dan dia berantem, saya nangis, dia bete, baikan, sayang-sayangan lagi, dan langsung ketawa-ketiwi. Oh, dan itu berulang beberapa kali dalam 2 jam itu, lho. *pingsan*

Kadang-kadang saya berharap untuk kencan manis yang normal tanpa perlu ngomongin pernikahan sama sekali. Tapi kalau ada yang keinget dan penting, mau nggak mau diomongin. Nggak selalu mengganggu sih omongan tentang pernikahan itu. Cuma mengganggu kalau lagi capek habis pulang kantor, kepala mumet, dan masih harus mikirin pernikahan. PYAR! *suara kaca pecah*

Di tengah kepusingan dan mood yang naik turun, ajaibnya saya masih kangen dia setiap hari. Kalau habis berantem, saya diam di kamar dan mengulang apa yang bikin berantem dan baikan lagi, saya baru sadar… duh, saya itu emosian banget, ya. Nah, di saat-saat seperti itulah, saya kangen dia. Untungnya selama proses adu kepala ini, nggak pernah sampai diam-diaman lama dan berhari-hari. Kalau berantem cuma sebentar (tapi sering. Hehehe). We promise ourselves that whatever happens we solve them right away. Never let a single day passes away with anger. Cihuuuy banget, yak. *bangga*😛

Begitulah saudara-saudara. Seperti layaknya penuh perjuangan jatuh bangun untuk mengambil gelar Master dan Psikolog dulu, untuk mengambil gelar Nyonya pun ujiannya nggak kalah sulitnya. Jatuh, bangun, tengkurap, nyungsep… you name it-lah.

In the end of the day, it’s not the wedding that matters, it’s the marriage that matters.🙂

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s