Balada Si Gigi Bungsu

Kemarin saya (akhirnya) ke dokter gigi juga. Setelah hampir sebulan nahan sakit gigi karena si bungsu sebelah kanan numbuh, akhirnya saya menyerah juga. Sakit-sakit banget sih nggak, cuma mengganggu kalau makan.

Dari awal saya udah tahu pasti si dokter bakal bilang operasi gigi. Kalau sakit numbuhnya berarti dia posisinya nggak normal, toh. Dua tahun lalu saya pernah operasi gigi bungsu sebelah kiri. Kasusnya sama kayak si gigi bungsu kanan ini. Si gigi bungsu tumbuhnya tiduran jadi dia mendesak gigi depannya dan bikin gusi bengkak.

Posisi abnormal gigi saya antara si horisontal

Kalau ada orang yang bilang operasi gigi rasanya sakit banget. Saya pasti bilang nggak. Wong, saya dibius lokal. Jadi pas dibelek-belek, dirobek itu gusi, dan diangkat paksa giginya, ya mana kerasa. Tapi pas disuruh kumur-kumur, busettt… darahnya kental banget. *merinding*

Lihat pisau dimasukin ke mulut saya, menggesek-gesek gusi, dan tang yang menarik keras gigi itu nggak menyenangkan banget. Sakitnya sih sama sekali nggak berasa, tapi pemandangannya itu horor banget. Walaupun operasi ini nggak butuh waktu yang lama, cuma kira-kira 15 menit.

Selesai operasi si dokter menghadiahkan si gigi bungsu menyebalkan itu ke saya. Ih, beneran gede banget kayak di gambar ini. Itu gigi segede itu kok bisa nancep di gusi yang keliatannya kecil, ya?

Hadiah si dokter

Sehabis selesai operasi ada banyak aturannya: nggak boleh kumur-kumur 24 jam, nggak boleh meludah, nggak boleh merokok, kumur-kumur hanya dengan air garam, cuma boleh makan yang lembut dan dingin, dan kompres dengan air hangat dan dingin bergantian kalau terjadi bengkak. Jahitan dibuka seminggu kemudian.*pusing*

Pulang ke rumah, saya langsung tidur. Bangun-bangun baru kerasa giginya nyut-nyutan setelah obat biusnya hilang. Sakitkah? Lagi-lagi saya bilang nggak. Rasanya mengawang-awang. Nggak terlalu sakit. Oh ya, obat biusnya hilang setelah 3-4 jam. Cuma agak sakit aja.

Tapiii.. yang paling menderita dari operasi gigi adalah soal makanan. Saya ini orangnya suka banget ngemil. Selama sekitar 3-4 hari itu saya makannya cuma bubur dan es krim. Bayangkan betapa menderitanya. Perut berasa lapar mulu. Ini yang paling nggak bisa saya tahan: kelaparan dan makanan yang hambar.

Mana karena pipi bengkak jadi yah harus diam di rumah aja. Malu kan pipinya gede sebelah. Nah, dasar bandel, di hari ketiga di saat pipi udah mulai menyusut, saya langsung pergi keluar dan makan pizza yang keras. Rasanya: SURGA! Akhirnya makan makanan yang ada bumbunya juga. *goler-goler di restoran*. Setelah hari itu saya langsung bilang: bye-bye bubur. Bye bye es krim.

Nah, 2 hari yang lalu saya menguatkan diri untuk ke dokter gigi. Langsung memilih dokter gigi favorit saya (karena dia baik dan selalu berdoa sebelum melakukan tindakan). Ternyata praktek keesokan harinya. Saya langsung daftar di tempat pertama. Para perawat udah bilang kalau dia akan melayani yang datang duluan, sih. Tapi saya ngotot daftar karena saya pasti datang tepat waktu.

Wah, di hari H, saya udah deg-degan dari pagi hari. Menjelang sore makin stres aja. Saya nggak suka ke dokter gigi. Baru mau masuk ke kliniknya aja saya udah kesandung 2 kali karena stres. Begitu daftar di meja resepsionis, saya langsung disuruh naik ke atas.

Saya naik ke atas, duduk manis, dan menunggu si dokter datang. Dokternya telat baru datang 30 menit kemudian. Saya masih menunggu dengan tenang. Setelah nama-nama dipanggil, kok nama saya nggak dipanggil. Saya akhirnya turun ke bawah dan menanyakan kenapa saya belum dipanggil, ternyata si perawat nggak mendaftar ulang saya, dong! Berakhir saya jadi urutan terakhir. Saya harus nunggu 3 jam penuh perasaan cemas dan deg-degan sampai akhirnya masuk ke ruang dokter. Itu jam 10 malam!

Dokternya masih ingat saya. Dia tersenyum melihat saya datang dengan masalah yang sama. Dia menyuruh saya duduk di kursi pesakitan. Memeriksa gigi saya dan dengan dramatisnya bilang, “Wah, gusinya udah bengkak ini. Giginya numbuh nggak normal.” Oh well, that I already knew, Doc.

Saya masih santai aja pas dia bilang dirontgen dulu giginya. Pas dicek hasilnya, ya ya ya, masih sama seperti 2 tahun lalu. Tumbuhnya tiduran. Waktu dia bilang kalau saya harus dioperasi pun, udah nggak terlalu kaget. Tapi karena ini mendekati libur lebaran dan klinik pun libur, jadi dia harus melakukan tindakan mengurangi rasa sakit gigi saya dengan mencabut gigi bungsu atas agar tidak menekan si gigi bungsu bawah yang nggak normal.

Dokter: “Untuk mengurangi rasa sakit, gigi atasnya dicabut, ya. Biar nggak menekan gigi yang bawah.”

Me: “Oke, dok.” *santai kayak di pantai*

Dokter mengeluarkan alat-alat ajaibany.

Me: “Sekarang, Dok, dicabutnya?” *panik*

Dokter: “Iya, dong. Biar mengurangi rasa sakit. Nanti setelah lebaran, baru dioperasi ya giginya.”

Me: “Sakit nggak, dok?” *suara melemah* *takut*

Dokter: “Nggak, kok”

Dia langsung mengeluarkan suntik untuk membius gusi saya, yang rasanya emang nggak sakit, sih. Cuma kayak digigit nyamuk. Setelah gusi mati rasa, dia mengeluarkan alat semacam tang. Ini mengerikan! Dia mau mencabut gigi saya secara paksa! Pengalaman masa kecil dengan cabut-mencabut gigi kurang baik. Dulu gigi saya dicabut tanpa dibius jadi rasanya sakit ke ubun-ubun. Di pikiran saya, sekarang pun akan begitu.

Untunglah tidak. Setelah dia menarik-narik gigi saya dengan tang dan kelihatan susah payah. Akhirnya tercabutlah gigi bungsu bagian atas. Besar banget, mak!

Saya disuruh kumur-kumur dan terlihatlah darah. Cuma nggak terlalu kental aja, sih. Jadi mengurangi efek menakutkannya. Setelah si dokter memberi saran macam-macam dan obat macam-macam pula. Duh, saya mah udah nggak terlalu dengar. Udah terlalu sibuk sama si gigi dan perasaan takut mau dioperasi.

Tiga gigi bungsu udah dicabut. Tinggal satu lagi! Wooosaaaah! Doakan ya teman-teman. Biarkan saya mengamati dulu di mana letak kebijaksaan gigi ini sehingga dipanggil wisdom teeth. Apakah setelah itu saya akan lebih bijaksana menjaga gigi? Apakah saya akan jadi seperti Tom Sam Cong (guru Kera Sakti)? Atau saya sebijaksana Bunda Teresa?

Hmm.. *berpikir keras*

Kayaknya nggak, deh. Ini aja udah bikin gemetaran. Dadah, gigi. Sebentar lagi kalian menghilang dari peredaran gigi-gigi saya!

5 thoughts on “Balada Si Gigi Bungsu

  1. Ha gila lo berani bgt dioperasi gigi mi, gw pernah tu dulu kayak elo, nyut2an gara2 gigi bungsu mau numbuh, ama dokter gigi langganan udh disuruh operasi, eh tp dia minta gw rontgen gigi dulu. Jadilah gw rontgen,kan tu. Abis itu gak lama nyut2annya ilang, jadi gw males dong dtg ke dokter gigi lagi *pura2 pikun* alhamdulilah ampe skrg blm sakit2 lg. Tapi gw sih mending ke dokter lain deh drpd ke dokter gigi. Horor aja gitu hehe

    • nah itu dia in. Gue kan kemarin dicabut gigi atasnya supaya ga nekan gigi bungsu bawah yang baru numbuh. Sekarang udah ga sakit lagi dong gigi bungsu bawah. Hmm, gue jadi males operasi gigi skrg. Hehehe.

  2. operasi gigi itu sakit ga sih??? dibiusnya sakit juga gaa?? takut nih, soalnya aku punya gigi seri yang ga keluar jadi cara ngeluarinnya harus dioperasi kata dokternyaa πŸ˜₯

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s