Kejutan Manis

Terima kasih pada PMS yang membuat hari-hari belakangan ini serasa lagi main rollercoaster. Dibawa naik-turun, bolak-balik. Ditambah dengan rutinitas pekerjaan kantor dan segudang rutinitas membosankan lainnya. Duh, bosen.

Kemarin, seperti hari Senin lainnya, saya yang harusnya pulang jam 8 malam bisa pulang lebih cepat karena pasien terakhir membatalkan pertemuan. Langsung aja saya BBM si pacar untuk menjemput lebih cepat. Jam 6 dia udah menjemput saya. Rencana di benak saya waktu itu sederhana, pulang ke rumah untuk tidur.

Tapi kemudian si pacar mengajak nonton Fast Five di FX (tuh, semua serba F, kan). Oh, baiklah. Lumayan buat refresing. Komentar dari teman-teman sih Fast Five ini bagus. Tapiii… sebagus apa sih film yang cuma soal ngebut-ngebutan itu. #underestimate

Waktu jalan ke atas tempat bioskop berada, tiba-tiba si pacar menggandeng tangan saya. FYI, pacar saya ini kurang romantis. Gandeng tangan saya itu super jarang. Dia lebih suka merangkul pundak saya (yang sering saya bilang, kita pacaran kayak orang tua aja, deh). Frekuensi merangkul pundak saya pun agak jarang sih sebenarnya. Jadi begitu dia menggandeng tangan saya sepanjang perjalanan ke bioskop, duh itu langsung deg-deg-ser kayak pertama kali pacaran.

Waktu mau pulangnya (sehabis kami menonton Fast Five yang ternyata emang bagus banget sampai kami rela menahan pipis supaya nggak kelewatan adegan-adegannya), dia bilang ke saya, “Kamu kedinginan, nggak?”

“Nggak, kok”

“Tanganku dingin banget, deh”. Lalu dia menempelkan tangannya ke lengan saya. Eh iya, dingin. Dia ngomong lagi, “Dingin banget kan, ya” dan dia menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan saya. Lalu dia menggandeng saya sepanjang perjalanan.

Sungguh ini adegan malu-malu kucing gimana gitu. Mau gandeng tangan saya aja pake alasan tangannya dingin (yah, emang beneran dingin, sih). Tapi, karena jarang-jarang ngalamin yang kayak gini, berasa kembali ABG lagi, deh. Mungkin di atas kepala kami muncul percikan kembang api dan di tangan kami langsung ada aliran listrik yang lagi menyetrum. Hihihihi. #lebay

Rutinitas yang membosankan emang bikin kita jadi kayak robot. Dijemput pacar yang dulu rasanya bahagia minta ampun, sekarang berasa kayak itu emang udah kewajiban dia. Dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol ringan menceritakan kejadian sepanjang hari, lalu pulang. Sampai rumah bablas tidur sampai pagi.

Semembosankan itu hari-hari saya belakangan ini.

Saking membosankannya, Sabtu kemarin yang biasanya disambut dengan hati senang gembira, saya dan pacar malah clueless mau ngapain lagi. Jadilah kami cuma menghabiskan malam minggu di rumah sambil nonton berita Nazaruddin. Pacar pun pulang jam 9 malam, dan jam 10 malam saya udah terlelap tidur. Iya, semembosankan itu.

Hal-hal kecil (yah, mungkin buat orang lain) seperti digandeng tangannya, dielus rambutnya, dan menonton film bagus di tengah minggu itu rasanya sudah cukup membuat energi saya kembali.

Terima kasih untuk kejutan manisnya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s