Belajar Dari Pasien

Sejak in charge dengan neurotherapy di klinik, saya jadi banyak berhubungan sama pasien lagi. Biasanya saya nggak terlalu mengulik-ulik pasien, karena biasanya masalah mereka lebih ke motivasi dan rasa malas (yeah, pengen kurus tapi nggak mau diet. -__-).

Kali ini saya dapat pasien yang beda. Dia seorang perempuan berusia 20 tahunan. Rumahnya di sekitar klinik dan besarnya kayak istana. Tapi pertama kali dia datang, nggak terpancar hawa kekayaannya. Penampilannya benar-benar sederhana. Dia memakai t-shirt tanpa merk dan celana jeans belel, serta sepatu teplek yang entah merk apa. Wajahnya tanpa make-up sama sekali. Rambutnya cuma diikat kuda biasa. Waktu nunggu gilirannya, dia nunduk terus.

Sewaktu masuk ke ruangan dan diajak ngobrol untuk anamnesa, dia sering mengeluarkan emosi yang tidak seharusnya, misalnya banyak tertawa walaupun tidak ada yang lucu. Nah, dari situ saya tahu pasti ada sesuatu dengan dia. Setelah ngobrol panjang lebar mengenai keluarga dan masa lalunya, DANG… baru ketahuanlah kejadian yang membuat trauma. Dia mendapatkan pelecehan seksual dari seorang anak SMP yang merupakan tetangga yang dia kenal. Dia disuruh buka celana dan memegang alat kelamin si cowok. Tentu saja anak TK nggak ngerti maksudnya disuruh begitu. Dia baru ngerti itu pelecehan seksual waktu SD. Sejak itu dia merasa malu dan marah pada dirinya sendiri. Bertahun-tahun dia simpan perasaan itu sendiri. Sampai suatu hari dia cerita ke tantenya dan reaksi tantenya cuma, “Oh.. begitu”.

Masalah hidupnya kompleks banget. Dia menjadi sociophobia. Begitu ke luar rumah dan ketemu orang banyak, dia merasa ketakutan, gemetar, keluar keringat dingin, sesak napas, dan pusing. Hampir setiap hari dihabiskan di dalam rumah. Mengurung diri. Dia bahkan nggak punya rencana masa depan. Buat dia, hidup itu cuma harus dilalui hari per hari.

Duh, dengernya bikin saya ngenes. Keluarganya tidak terlalu peduli dan dia pusing dengan pikiran dan kemarahan pada dirinya sendiri. Lagi-lagi, saya belajar banyak dari pasien saya. Mereka ngajarin saya buat lebih banyak bersyukur. Punya keluarga yang suportif, teman-teman yang baik, dan pacar yang selalu ada itu nggak ternilai. Pasien saya nggak punya itu. Dia cuma punya dirinya sendiri. Ngobrol sama dia bikin perasaan saya campur aduk. Lebih banyak marahnya mungkin. Marah ke si pelaku, marah ke keluarga yang nggak suportif, marah ke lingkungan yang nggak perhatian dengan perubahan perilaku dia.

Talking with the patients make me even more thankful for my life. Thank you universe for the lesson.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s