Tragedi Di Hari Sabtu Siang

Sabtu kemarin (23 Juli 2011) saya lagi di kantor. Sedang senang-senangnya karena bakal jalan-jalan ke Bogor sama pacar untuk merayakan ulang tahun saya yang tertunda. Sekitar jam 14.30, bokap nelepon. Saya nggak bisa dengar jelas suaranya karena sinyal jelek banget. Sesaat kemudian, bokap BBM:

Cepat pulang. Rumah kita kemalingan.

DEG! Jantung saya rasanya mencelos. Saya langsung menelepon bokap yang kebetulan hari itu lagi pergi ke Bandung. Kata bokap malingnya ngambil semua perhiasan di kamar utama dan 2 laptop: laptop saya dan bokap.

Duh, lemas banget rasanya. Saya langsung duduk bengong di pantry. Nggak tahu mau bereaksi apa. Saya langsung berusaha nelepon Mama di rumah. Teleponnya nggak diangkat-angkat. Saya coba telepon lagi, untungnya diangkat. Mama cuma menjawab sepatah-patah dengan volume suara kecil, “Iya kemalingan. Mama nggak bisa jawab. Lemas.”

Ini hati udah kayak diiris-iris. Nggak tenang rasanya. Saya langsung menelepon pacar yang sudah ada di jalan untuk menjemput saya. Dia pun ikut panik. Sialnya, jalanan macet karena demo. Iyak, demo di hari Sabtu!

Selama menunggu si pacar datang, saya cuma diam aja di pantry. Saya sengaja nggak balik ke ruangan saya karena saya udah nggak bisa konsentrasi lagi kalau disuruh ngurusin pasien. Teman-teman bolak-balik keluar masuk pantry. Saya cuma diam, berusaha senyum dan biasa-biasa aja. Ah, mereka nggak perlu tahu.

Saya nggak peduli dengan laptop saya yang hilang. Sejuta kenangan emang ada di laptop itu, tapi harganya nggak seberapa. Sementara semua perhiasan itu adalah perhiasan yang baru aja diambil dari deposit box di bank. Saya udah bisa membayangkan gimana panik, stres, dan nangisnya mama. Yang lebih ngenes adalah baru minggu lalu mama menunjukkan perhiasan mana yang akan dipake untuk saya menikah dan martumpol. Semuanya hilang sekarang.😦

Waktu di jemput, saya cuma diam aja. Pikiran saya kosong. Nggak sempat mikir kesal sama malingnya, nggak sempat marah, nggak sempat sedih. Kosong. Saya cuma khawatir sama mama karena dia yang menemukan kejadian itu pertama kali. Bokap lagi di Bandung (yang sedang otw ke Jakarta), adik bungsu saya lagi di Bandung juga, dan adik perempuan saya lagi ke Singapur.

Sampai di rumah, ada beberapa tetangga yang menghibur Mama. Muka mama pucat dan sembab. Dia masih terbata-bata. Saya langsung melihat isi rumah. Kamar saya didobrak dan seluruh isinya diobrak-abrik. Laptop di dalam kamar diambil. Kamar mama pun juga diobrak-abrik. Semua kota perhiasannya dikeluarkan.

Saya bengong. Saya stres. Tapi saya nggak bisa nunjukin kalau saya sama stresnya. Mama pasti tambah sedih. Jadi saya berusaha tenang.

Tetangga dan orang-orang gereja datang silih berganti untuk menghibur. Malamnya para saudara-saudara juga datang. Kedatangan mereka cukup menghibur kami. Ternyata masih banyak yang perhatian pada kami dan merelakan waktu mereka untuk memberi dukungan.

Si pacar membantu dengan mengantarkan Bapak dan Mama ke kantor polisi. Siangnya polisi udah datang tapi mereka cuma mencatat sebentar dan pergi lagi. Kerjanya apa? Saya pun nggak ngerti. Malamnya setelah membuat BAP, polisi datang lagi ke rumah. Mereka membawa anjing pelacak. Sayangnya karena udah terlalu banyak orang di rumah, anjingnya susah menciumi bau si penjahat. Tapi polisi berjanji untuk mencari.

Setelah semua tamu pulang, sekitar jam 2 pagi, saya, bapak, dan mama tidur di satu kamar yang belum dibongkar. Sepanjang malam kami bertiga susah tidur. Cuma menutup mata saja. Saya bahkan masih terbayang-bayang bagaimana seandainya penjahat itu masih ada di rumah dan malam itu kami semua dibunuh. Duh!

Menurut polisi, perampok rumah kami kemungkinan adalah Geng Palembang. Sindikat perampok yang cukup terkenal di kalangan polisi. Beberapa kali di daerah perumahan saya juga terjadi perampokan dengan modus yang sama. Biasanya mereka sudah mengintai rumah yang diincar, mengenal kebiasaan pemiliknya, dan mencari hari baik untuk merampok. Ciri khas mereka adalah setelah merampok semua perhiasan, pasti ada 1 perhiasan yang ditinggalkan. Katanya sih untuk syarat supaya perampokan berikutnya berjalan lancar. Ketika merampok biasanya mereka berempat sampai berenam: 2 orang berjaga di luar rumah, 2 orang masuk ke dalam, dan 2 orang lagi berjaga di ujung jalan untuk mengabari jika pemilik rumah datang. Menurut teman adik saya yang polisi, Geng Palembang ini cukup sadis. Dalam keadaan kepepet mereka bisa saja membunuh orang rumah itu. Duh, puji Tuhan banget waktu Mama mendapati rumah terbuka, dia nggak langsung masuk ke dalam rumah tapi lari keluar dan teriak minta tolong.

Hari Minggu, masih banyak tetangga, orang gereja, dan saudara yang datang menghibur. Mulut rasanya capek sekali menceritakan kronologis itu berulang-ulang. Badan berasa capek tapi mata nggak ngantuk sama sekali. Rasanya untuk tidur itu takut. Nafsu makan pun menurun drastis. Sepanjang hari saya cuma makan sekali dan itu pun sedikit. Saya tahu saya stres. Bisa-bisanya saat saya merencanakan pernikahan, kejadian seperti ini terjadi. Lemas banget.

Saya udah ikhlas banget barang-barang itu hilang, tapi yang bikin trauma adalah ada orang di luar sana yang bisa masuk ke rumah dan mungkin akan bertindak kejam sama kami. Hari kedua, tidur saya udah bisa lebih lama tapi masih bangun setiap 2 jam sekali.

Saya nggak mempertanyakan kenapa Tuhan membiarkan kejadian ini menimpa keluarga kami. Nggak sama sekali. Entah kenapa, saya yang biasanya suka ngeluh dan mempertanyakan ini-itu pada Tuhan kali ini cuma bisa pasrah. Kayak ada kalimat yang selalu terngiang di kepala saya, “Kalau kejadian ini boleh terjadi, Tuhan akan menggantikan berkali-kali lipat”. Saya nggak mengeluh sama sekali. Saya cuma sedih lihat Mama yang masih kelihatan stres. Duh, saya mana sanggup lihat Mama nangis terus-terusan gitu.😦

Dear Tuhan, nggak papa barang-barangnya nggak balik, tapi boleh kan senyum Mama dibalikin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s