Balada Si Calon Pengantin

Mengurus pernikahan itu membuatku agak kurang waras tampaknya. Dari kecil saya memimpikan pernikahan ala dongeng-dongeng. Gaun putih besar, pangeran tampan, bunga-bunga, tamu yang hanya kerabat dan sahabat dekat. Seiring bertambahnya umur dan tampaknya pernikahan negeri dongeng itu… hanya ada di negeri dongeng dan bukan di pernikahan Batak. Oh well, saya mulai menyesuaikan diri sana-sini.

Bye-bye tamu yang hanya sedikit. Welcome tamu sebanyak-banyaknya yang entah siapa. Tapi menurut keluarga sih sodara…. yang mukanya pun belum pernah dilihat.

Dadah-dadah sama gedung pernikahan layaknya di Bali atau di pinggir pantai. Mau dipotong leher eike sama mami dan camer apa, ya. Selamat datang gedung pernikahan Batak. Yang saklek dan tamu-tamu nasionalku akan ditempatkan di lantai 2.

Oh, jangan harap ada lagu-lagu romantis di resepsi nanti. Nikmatilah lagu-lagu Batak. Mari kita berasa layaknya ada di tano toba sana.

Dan seabrek mimpi-mimpi yang harus dibuang.

Tapi bukan Naomi namanya kalau membiarkan pernikahannya jadi just another Batak wedding. NOPE! *mengepalkan tangan* *muka menegadah ke langit*. Sebagai orang yang ingin pernikahannya punya ciri khas sendiri dan nggak mau jadi pernikahan Batak yang standar, maka dari awal saya bilang ke mama bahwa pernikahan saya nggak akan batak-batak bangetlah.

Akhirnya saya sibuk memikirkan konsep sendiri, browsing vendor-vendor yang sesuai dengan kemauan, dan deal dengan mereka. Oh, jangan lupa tetap harus stick sama budget. Lama-lama pusing sendiri, lama-lama jadi stres. Saya ini tipe yang perfeksionis. Bilangnya sih mikirinnya entar-entar, bilangnya mau diserahin ke mama, eh tapi tetap aja tangan saya gatel browsing dan nanya sana-sini. Tetap aja otak ini nggak mau berhenti mikir dan baca-baca majalah wedding.

Yang sial sih si pacar, ya. Dia harus ngadepin mood naik turun saya. Jadi tempat sampah dan keluh kesah si gadis yang harusnya belajar mendelegasikan tugas ke orang lain ini.

Sampe akhirnya si pacar bilang,

“Ya udah, besok aku yang ke situ, deh. Kamu tenang aja di rumah. Aku yang urus.”

“Huwaaa… nggak mau. Aku juga mau lihat vendornya. Nanti kalau kenapa-kenapa gimana?”

“Lho, katanya kamu stres dan capek? Katanya aku disuruh ngurusin juga?”

“Iya, sih. Tapi nggak ah, aku juga mau ngikut.”

“……………..”

Yah begitulah sodara-sodara. Mau dibantuin dan diurusin tapi sayanya nggak mau. Yang bikin otak mau pecah ya diri sendiri. *melipir malu*

Oh well, sebenarnya mau ceritain tentang ke mana kami pergi untuk melihat vendor satu ini. Tapi nanti aja deh kalau udah di-DP biar pasti. Ini salah satu hal yang saya pengen banget ada di pernikahan saya. Hihihihi. *excited*

Semoga lain kali, saya jadi lebih waras dan si pacar makin diterima amal ibadahnya karena udah super sabar jadi bahan omelan saya.πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s