3 Tahun Yang Lalu Dan Sekarang

Hampir 3 tahun yang lalu, saya pasti akan melonjak kegirangan melihat nickname-nya muncul di Yahoo Messenger. Dengan jantung yang berdebar semakin cepat, saya menunggu dia menyapa saya duluan. Kenapa bukan saya duluan? Ya, karena gengsi, dong.πŸ˜›

Ada kalanya dia segera menyapa saya dan kami bisa ngobrol sampai pagi buta. Dari duduk, tiduran, nungging di depan laptop, sampai mengganti YM dari laptop ke eBuddy di HP. Mata mau merem melek karena ngantuk ya dihajar aja terus demi ngobrol.

Hampir 3 tahun yang lalu, memutuskan siapa yang akan mengakhiri pembicaraan itu sulit banget. Kami bisa ngalor-ngidul ngobrol lagi. Butuh 1 jam untuk akhirnya benar-benar bilang, “Oke, bye. Sampe besok”. Itupun karena mata udah nggak kuat untuk melek lagi. Setelah itu, tidur dengan senyum paling lebar.

Hampir 3 tahun yang lalu, melihat namanya ada di layar HP saya membuat jantung hampir jatuh ke lantai dan kesenangan setengah mati. Tapi begitu mengangkat telepon, suara diubah jadi sok cool dan sok nggak nungguin teleponnya. Padahal sih udah ngarep banget.πŸ˜› Semua pembicaraan nggak penting yang selalu diwarnai dengan ketawa sampai keluar air mata.

Hampir 3 tahun yang lalu, jalan bareng dia adalah sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu. Bilangnya sih baru aja mau mandi, padahal udah dari beberapa jam lalu mandi, siap-siap, ngaca mulu, berusaha secantik mungkin. Tentu saja dia akan selalu bilang cantik, walaupun pake baju sekumal apapun. Oh, how girls love to hear those words.

Setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan, saya pasti udah duduk manis menunggu dia datang. Lalu dia terlambat, membuat saya kesal. Pengennya marah dan ngamuk. Tapi begitu dia membunyikan bel rumah, rasa marahnya menguap nggak tahu ke mana. Ah, yang tertinggal cuma senyum malu-malu.

Setelah berlalu hampir 3 tahun, anehnya.. (ini pasti aneh), saya masih menantikan setiap BBM dari dia, masih senyum malu-malu dengan semua gombalannya, masih kangen banget sesaat setelah dia pulang dari rumah saya, masih senang melihat namanya di layar HP saya, masih deg-degan ketika dia menggandeng tangan saya, dan masih berjuta rasanya kalau dia mengelus rambut saya.

Saya masih dandan secantik-cantiknya kalau mau bertemu dia. Oh tentu saja kalau sekarang ada waktunya saya bebas memakai piyama dengan tampang paling kucel kalau ketemu dia dan tetap dibilang cantik (ihiiiy). Saya masih menantikan saat-saat ketemu dia kayak anak kecil menantikan ayahnya pulang. Selalu excited mau ketemu.

Tiga tahun yang lalu kamu ngangenin banget. Sekarang, kamu tambah bikin kangen. Nggak ada bedanya. Oh, mungkin dosisnya saja yang bertambah.

Sampai ketemu pulang kantor nanti, ya.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s