Gue Ini Kenapa, Sih?

Saya pernah cerita kan kalau hubungan saya dengan Mama itu dekat banget, tapi sebenarnya sedikit bermasalah. Dari kecil, Mama itu jadi pengambi keputusan yang penting dalam hidup saya. Dimulai dari hal-hal paling sepele sekalipun. Misalnya, memilih baju ke gereja, membeli sepatu, dan memotong rambut.

Waktu kecil, Mama selalu memilih dan menyiapkan baju untuk saya setiap mau pergi ke Gereja. Dia yang mendandani saya dan menjadikan saya terlihat cantik. Begitu juga dengan pakaian sekolah, Mama yang memutuskan kalau rok saya itu nggak boleh di bawah lutut karena menurut dia kelihatan kampungan. Katanya kalau rok saya di atas lutut, saya kelihatan lebih tinggi. Bayangkan, kalau akhirnya rok saya jadi lebih pendek dibandingkan teman-teman lainnya.

Masalahnya adalah saya terbiasa Mama yang mengambil keputusan. Jadi ketika semakin besar, misalnya kelas 6 SD, waktu Mama membiarkan saya memilih baju gereja saya sendiri. Awalnya saya senang karena udah boleh milih baju sendiri dan mix and match dengan baju lainnya. Dengan riang gembira, saya pakai baju itu dan keluar kamar.

Tanggapan Mama adalah, “Bajunya nggak cocok. Kan masih banyak baju lain yang lebih bagus.”

Tamparan pertama pada ketidakpercayaan diri saya. Itu sering terjadi ketika Mama mengkritik apa yang saya pilih, tapi jarang memuji kalau saya memilih dengan bagus. Dia hanya diam.

Saya besar dengan penuh keragu-raguan, ketidakpercayadirian, dan penakut. Buat saya approval dari Mama adalah hal yang sangat penting. Saya bisa gelisah kalau apa yang saya inginkan nggak di-approve Mama. Untuk hal-hal tertentu, seperti memilih baju, sepatu, atau penampilan lainnya, saya mulai bisa berdiri sendiri dan tampil seperti apa yang saya mau. Tapi untuk hal-hal besar, seperti tempat kerja, pilihan pacar, pasangan hidup, saya benar-benar nggak pede kalau nggak disetujui Mama. Misalnya, waktu saya milih tempat kerja, awalnya nggak disetujui Mama. Padahal saya pengen banget kerja di situ. Itu bikin saya ragu dan maju-mundur, walaupun di depan Mama saya tetap keukeuh sama pilihan saya. Begitu disetujui sama Mama, itu rasanya beban sebesar 1 ton keangkat dari pundak.

Kalau berdebat atau ngomongin hal penting sama Mama, saya juga nggak bisa kalau nggak pake nangis. Itu terjadi otomatis. Langsung aja suara saya tercekat dan nangis. Mama bilang saya sensitif dan cengeng. Saya nggak mau dibilang begitu, tapi saya benar-benar nggak bisa menahan.

Bertahun-tahun, saya merasa kayaknya ada yang salah nih sama saya. Masa ngomong sama orang tua aja saya pake nangis, sih. Sampai saya kuliah psikologi dan mulai membicarakan hal ini sama Mama. Tentu dengan nangis.

Mama bilang, “Mama kan pengen yang terbaik buat kamu. Makanya Mama pilihin semuanya buat kamu.”

Waktu itu cukup lega sih bisa cerita ke Mama dan menjelaskan apa akibat sikap itu ke saya. Tapiii… lagi-lagi itu nggak mengubah saya yang suka nangis kalau ngomong penting sama Mama. Buat saya, ini jadi beban banget. Karena udah waktunya saya mandiri dan mengambil keputusan sendiri. Pendapat Mama tetap penting, tapi saya nggak pengen selalu bergantung dengan approval Mama. Saya pengen bergantung sama diri sendiri. Pengen bisa bicara tanpa nangis.

Dan lagi-lagi saya bertanya, “Gue ini kenapa, sih?”

I think I need a psychologist here.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s