Love In The Eyes of 13 Year-Old Kid

Minggu lalu saya outbound bersama pasien-pasien cilik ke Mekarsari. Setelah mereka harus ikut program kelas selama berminggu-minggu, kita adakanlah outbound yang lebih menyenangkan.

Apakah yang terjadi?

Mereka pada males, dong. -_________________-

Outbound diadakan Sabtu pagi, di mana biasanya mereka masih tidur, dan harus pergi jauh pula ke Cibubur. Jadilah kami yang harus menaikkan mood mereka.

Salah satu pasien saya, sebut saja Afghan (karena saya lagi dengerin gosip tentang Afghan. Hihihi), bertanya ke saya, “Kak, kita nanti pulang jam berapa? jam 12 udah pulang ya, Kak.”

Saya, “Loh kenapa, Gan?” (berasa kayak di Kaskus jadinya)

Afghan, “Aku mau kencan, Kak.” mukanya memerah malu. FYI, umurnya baru 13 tahun, masih SMP.

Saya, pura-pura nggak kaget, “Emang kamu kenca jam berapa?”

Afghan, “Jam 4, Kak. Tapi kan aku harus pulang ke rumah dulu mandi, pake baju yang rapi. Trus aku harus jemput dia ke rumahnya.”

Lalu dengan semangat dia menceritakan kencannya ini. Pacarnya adalah teman satu kelasnya di sekolah. Dia sebenarnya belum boleh pacaran sama orang tuanya. Makanya dia ngumpet-ngumpet dan bilang ke Mamanya kalau hari itu dia ada ekskul astronomi di PIM, yang mana dia malah jalan sama pacarnya ke PIM.

Karena dia harus jemput pacarnya pakai supir, maka dia menyogok supirnya untuk nggak bilang ke Mamanya dengan semangkuk bakso. -______________- (kalo saya maunya disogok dengan sebongkah berlian aja. :D) Segala strategi udah dia atur supaya orang-orang terdekatnya menutup mulut dan acara kencan dengan pujaan hatinya berjalan lancar. Bahkan dia udah menyiapkan baju yang akan dipakai kencan hari itu, berhari-hari sebelumnya.

Waktu outbound dan menaiki tali di ketinggian kurang lebih 5 meter, Afghan ketakutan. Kami semua di bawah menyemangatinya. Lalu dia berteriak, “Ini semua demi Lily (sebut saja itu pacarnya)!” lalu dia melangkah maju dengan berani. Kami – semua orang dewasa- di bawah tertawa dan tersenyum simpul. Ah, anak-anak.

Di mobil, dia menceritakan lagi gimana dia menyatakan cinta terhadap pacarnya. Dia bilang, dia berlatih mati-matian untuk belajar main gitar. Dia menyatakan cinta dengan menyanyikan lagu More Than Words di depan pacarnya. Oh, how sweet was that!πŸ˜€

Lagi-lagi sebagai remaja yang baru mengenal cinta, si Afghan mengatakan bahwa Lily adalah satu-satunya perempuan yang dia mau dan dia nggak akan suka perempuan lainnya sampai kapanpun. Katanya Lily adalah cewek paling keren sedunia. Saya tanya ke dia, “Gimana kalau di SMA atau kuliah ada yang lebih keren daripada Lily?” Afghan menggeleng. Dia bilang, cuma Lily yang paling keren.πŸ˜€

Don’t we miss the feeling like that? When our love is simple. Coba kita bayangkan sekarang, di usia pertengahan 20an, bisa nggak cinta kita sesederhana itu? Nggak bisa cuma karena jatuh cinta langsung geret pasangan dan bilang, “Pacaran, yuk.” PRET!

Sekarang ada banyak yang dipikirin. Latar belakang, status ekonomi, keluarga, suku, masa depan, dan banyak tetek bengek lainnya. Love becomes so difficult and has so many burdens. Untuk jadian sama orang, kita punya hitung-hitungan sendiri. A+B+CxD:E. Ribet.

Tapiii.. seribet-ribetnya, we surprisingly love the idea of being in love. The feeling is just tremendous!

But of course, I hope life was simpler, like we used to have back then.πŸ™‚

One thought on “Love In The Eyes of 13 Year-Old Kid

  1. Aaaahhh.. I miss this feeling!

    Malu-malu nggak jelas gitu, deg-degan, nggak usah mikirin yang lain kecuali gebetan (atau pacar)..

    You wrote it nicely, mi!πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s