Suatu Hari Yang Macet

Udah hampir seminggu saya batuk-batuk. Bukannya makin membaik, hari Senin saya kehilangan suara. Untungnya hari Selasa saya libur. Seharian benar-benar di rumah untuk istirahat. Kerjaannya cuma bangun-nonton TV-tidur-nonton DVD-tidur. Oh, tidak lupa minum obat tentunya.

Berhasilkah?

Nggak sama sekali. Besoknya, suara udah mulai kembali sih. Tapi tetap aja kayak meleot-leot gitu suaranya. Mana seharian itu kebetulan saya ada di jalanan pindah-pindah tempat, telat makan, dan malamnya malah hang out sama teman-teman. Hang out di tempat outdoor, banyak angin, dan makan gorengan.

-_________________-

Besoknya, penyakit saya makin parah. Batuk-batuk, hidung meler, mata berair. 7 jam di kantor itu berasa penderitaan banget. Belum lagi hari itu saya praktek di Gading. Matilah jauhnya dari rumah saya.

Sekitar jam 16.30 saya buru-buru pulang. Niatnya supaya cepat sampai rumah dan istirahat. Eh, Trans Jakarta tercinta malah lama datangnya. 30 menit mengantri di halte dan belum juga datang. Sekalinya datang, butuh kurang lebih 3 jam untuk sampai ke rumah.

Selama perjalanan kepala makin pusing, hidung dan mata berair. Sambil megang tissue, orang-orang kira saya lagi nangis karena patah hati. Mana muka saya berubah jadi merah karena menahan kesal dan panas.

Sampai di rumah kesalnya udah ke ubun-ubun. Muka berlipat dan diam seribu bahasa. Mama langsung menanyakan ada apa, dan saya cuma bilang macet 3 jam.

Mama langsung menyiapkan air panas dan makan untuk saya. Dia menawarkan untuk mengantarkan saya ke dokter. Tapi saya bahkan udah terlalu males liat jalanan Jakarta. Akhirnya Mama memberi saya obat dan menyuruh saya langsung tidur. Aaaah, terharunya sama Mamaku. :’) Emang dia paling tahu harus ngapain kalau anaknya lagi bete, sakit, dan stres.

Sebelum tidur saya sempat BBMan sama si pacar, setelah akhirnya tertidur. Tiba-tiba si pacar menelepon bilang dia udah di depan rumah saya. Langsung deh dengan setengah sadar saya ke depan. Dia membawakan saya makanan kesukaan: sate padang dan coklat. HOREEE! Dia tahu kalau saya lagi bete biasanya dikasih coklat langsung adem lagi.

Oh well, terlepas dari betapa kesalnya saya hari ini, selalu ada orang-orang tersayang yang membuat saya tersenyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s