Makan Apa?

Suatu hari saya diajak si dokter meeting di sebuah cafe untuk bertemu dengan seorang ilustrator yang akan membuat ilustrasi buku si dokter. Secara tiap hari kerjaannya makan di kantor, senanglah hati ini. Kesempatan makan enak! GRAUK!!

Seharusnya sih begitu. Karena saya yang datang pertama kali, saya langsung lihat menu. WOW, banyak makanan dan minuman enak. *mata berbinar-binar*. Tentu saja saya langsung memesan minuman kesukaan saya, strawberry milkshake. Yummy!

Nggak lama kemudian, si dokter dan ilustrator datang. Tebak apa yang dipesan mereka. Pepermint tea dan orange juice. Kok, minuman mereka jauh lebih sehat daripada saya. Ya iyalah, si dokter ini kan kliniknya mengenai obesitas dan mengatur pola makan, serta hapal kalori dalam setiap makanan dan minuman. Jadilah cuma saya yang kelihatannya minumannya nggak sehat.

Lalu si dokter memesan risol dan berbagai cake yang secara visual aja udah enak. Ketika dia cuma makan 2 biji, saya udah ngabisin banyak banget. Saya sungguh nggak mempresentasikan image klinik banget, ya.

–________________–”

Kali kedua saya diajak dokter meeting di luar lagi pada waktu jam makan siang. Saya udah ngerti dong strateginya. Saya harus mesen minuman dan makanan yang sehat. Uhuuuy!

Jadilah saya memesan orange ice tea. Tampak sehat bukaaan? Tapi lagi-lagi saya kalah sehat sama si dokter. Dia cuma pesan air mineral aja, dong! *nyemplung ke selat sunda*

Lalu dia memesankan risol untuk kami bertiga: saya, dokter, dan ilustrator. Si waitress tanya, “Risolnya mau isi beef atau chicken”. Dengan segera saya jawab: beef. Si dokter memesan isi chicken. Seperti dipentung kepalanya, saya baru ingat kalau yang lebih rendah kalorinya itu ayam dibandingkan daging sapi. Do’oh! Niat memberi citra bahwa saya makan makanan sehat lagi-lagi sirna. *gali kuburan*

Si dokter lihat kalau ini udah jam makan siang dan tentunya harus pesan main course. Dengan semangat saya langsung lihat-lihat menu, dong. Wohoooo! Saya udah tahu mau makan apa saja.

Eh, tiba-tiba si dokter nyeletuk, “Wah, makanannya semua digoreng, ya”. Menurut ahli gizi salah satu penyebab naiknya berat badan itu kalau makan makanan yang ada minyaknya. Digoreng pake minyak, dong. Hilanglah hasrat makan tersebut. Bye-bye makanan enak. Padahal sih perut meronta pengen dikasih makan. Tapi kan malu ya kalau saya kelihatan banyak makan dan makan makanan nggak sehat. *nangis seember*

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, tampaknya si dokter lapar. Dia lalu mengajak kami untuk makan. Saya pesan chicken katsu. Tentu saja makanan dia lebih sehat. Apalagi si ilustrator makannya cuma salad aja.

Waktu makan pun, saya nggak kalah deg-degan: ini harus dihabisin nggak, ya? Soalnya itu porsi gede banget! Harus makan nasi nggak, ya? Tapi bodo amatlah, udah lapar banget, jadi saya makan nasi juga, tapi cuma setengah. Bukan karena takut dimarahin dokter, tapi udah kenyang.

Kerja di klinik di mana mengatur pola makan sehat menjadi salah satu kajian utamanya, berat banget rasanya makan bareng si dokter. Padahal dia selalu ngajak makan ke tempat yang enak.

Bener deh, dok, saya pengen makan tanpa peduli berapa kalorinya. Puding, es krim, keju, french fries. *dikeplak dokter*

Jadiii, kalau selama kerja berat badan saya turun 2 kg, itu bukan karena pola makan saya makin sehat, tapi karena saya nggak pernah berani ngemil di kantor. Menjaga image klinik.

*pingsan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s