Satu Jam Saja

Udah hampir sebulan saya punya SIM. Apa itu bikin saya jadi nyetir mobil ke mana-mana? Oh, tentu tidak. Kendaraan umum dan dianterin orang tetap jadi kegiatan sehari-hari. Nyetir mobil kalau weekend aja. Itu juga kalau misalnya nggak ada teman yang bawa mobil. Barulah saya nyetir dengan kecepatan yang hampir menyamai siput. Untungnya tinggal di Jakarta adalah jalanan itu rame dan macet, jadi kecepatan 20 – 40 km dianggap normal, deh. *iya, ini rasionalisasi abis-abisan* 😛

Letak kantor saya itu JAUH. Kalau nggak jauh, ya MACET. Pertama, kantor saya itu ada 2: kadang-kadang saya stay di Kelapa Gading, kadang-kadang di Senopati. Dokter membiarkan saya memilih karena setelah mencoba beberapa minggu di Gading, tampaknya dia tahu saya stres dengan jaraknya yang super jauh itu. Bisa, lho, saya memakan waktu 2,5-3 jam kalau pulang kantor, apalagi hari Jumat.

Nah, akhirnya beliau memperbolehkan saya stay di cabang Senopati yang sebenarnya lebih dekat dengan rumah saya, tapi macetnya ampun-ampunan sampai dari rumah ke Senopati memakan waktu yang lebih lama daripada dari rumah ke Gading. *pingsan* Tapi untungnya kalau pulang dari Senopati nggak senyebelin dari Gading. Kendaraan lebih banyak dan nggak perlu ngantri busway di Harmoni yang itu sendiri bisa memakan waktu 30 menit lebih sendiri.

Dengan jarak yang jauh dan macet, tentu saja saya lebih baik minta dianterin tiap hari. Baru pulangnya naik kendaraan umum dan biasanya selalu duduk. Jadi saya nggak makin stres mikirin kemacetan Jakarta, tinggal duduk tenang, dan kadang-kadang tertidur.

Masalahnya adalah kalau begini terus kapan skill nyetir mobil saya bisa yahud? Masa mau balapan sama siput mulu, sih. Dengan berbekal tekad yang kuat *mengepalkan tangan*, Sabtu pagi ini saya berinisiatif untuk nyetir dari rumah ke kantor di Senopati. Masuk jam 9 pagi, tapi baru berangkat dari rumah jam 8 pagi. Oh yeah, perhitungan waktu yang kurang tepat apalagi dengan kemampuan nyetir yang lelet ini.

Sepanjang perjalanan itu aman-aman saja, kecuali kalau saya harus berhadapan dengan segudang motor yang bikin gila. Mungkin ini juga permasalahan seluruh pengendara mobil di Jakarta, ya. Motor ini nyelip sana-sini, nggak pake sen lagi. Tampaknya nyawa mereka ada 9 *geleng-geleng kepala*. Udah salah, mereka nggak mau ngalah lagi. Jadilah saya yang super deg-degan dan hampir jantungan kalau tiba-tiba mereka seenaknya. Paling saya akan tiba-tiba nyeletuk:

“Lho, mereka datang dari mana? Tadi nggak ada.”

Tapi seperti bokap bilang,  pengendara motor itu nggak pernah salah. Pengendara mobil yang selalu salah. Kita dianggap lebih besar dan mereka yang paling mungkin diserempet. *nangis darah*

Dengan adanya pengendara motor yang super menyebalkan, pagi ini saya berhasil nyetir mobil dari rumah ke kantor dengan waktu 1 JAM SAJA. Cuma telat 5 menit masuk kantor. HOREEE! Mungkin kalau pengendara yang udah jago, dengan keadaan jalan yang lumayan lancar kalau Sabtu pagi, mereka bisa sampai dalam waktu kurang dari 1 jam kali, ya. Tapiii, not bad, kan ya? Ya, kan? *maksa* 😛

Karena itulah, saya sungguh bangga dengan diri sendiri hari ini. Walau pas turun dari mobil jantung udah kayak olahraga lari marathon.

*kasih medali*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s