They Call Me Stupid

Pernah menjalani hubungan di mana orang pas baru ketemu bilang, “Kamu kok mau, sih, sama dia? Kamu kan cantik, pinter, keren, bla bla bla (semua kalimat pujian). Dia kan biasa-biasa aja.”

Nah, kalau ketemu orang kayak gitu kamu harus gimana? Cengengesan, mesem, tinggalin aja, atau siram pake air *lebay*? Well, pertanyaan itu sering banget ditanya ke saya. Untungnya, belum ada yang nanya ke saya langsung, tapi biasanya lewat Mama atau orang dekat saya lainnya. Reaksi saya, senyum-senyum mesem (dalam hati sih, gondok banget). Tapiiii biasanya saya diam aja.

Kalau lihat pasangan yang dari luar kelihatan jomplang, sebenarnya saya juga punya pertanyaan yang sama seperti itu, sih. Tapi untuk menanyakan ke orangnya langsung, kayaknya mendingan saya tutup mulut, deh. Have you ever thought that it would hurt their feeling? Pertanyaan itu nggak sopan menurut saya. Kalau kamu tanya itu ke mereka, mungkin mereka punya seribu alasan kenapa mereka saling mencintai dan memutuskan pacaran (atau malah menikah). Dan kalaupun mereka menjelaskan ke kamu apa sebabnya, mungkin kamu nggak akan mengerti (atau nggak mau mengerti juga) karena di mata kamu mereka berbeda dan tidak seharusnya bersama?

Teman-teman dekat saya biasanya nggak akan menanyakan pertanyaan seperti ini, karena mereka akan tahu sendirinya dari cerita-cerita saya. Tentunya mereka kan lebih sering ketemu saya jadi ya pasti nggak tanya-tanya lagi. Nah, kalau yang jarang ketemu ini yang agak susah dijelaskan.

Jadiii, untuk membungkam mulut yang bertanya-tanya, ini alasan kenapa saya mau sama dia (oh, tentu saja ini sedikit di antara yang banyak):

  • Dia super sabar. Saya ini orangnya emosian kalau udah PMS. Bisa karena telat, saya marah dan pasang muka jutek seharian. Iya beneran seharian. Yang dia lakukan biasanya membujuk saya, tiba-tiba datang ke rumah, becandain saya, dan ngajak saya pergi jalan-jalan. Udah reda marahnya sampai di situ aja? Oh, tentu tidak. Jadi saya bisa pas diajak makan kelihatan senyum, nih (maklum, saya ini murahan sama makanan. Perut kenyang, hati senang), tapi jangan harap saya udah nggak marah lagi. Itu hanya sementara, sayang *senyum licik*. Karena saya orangnya gengsian, marah sebentar itu haram hukumnya. Jadi sengajalah saya tetap pasang muka jutek sepanjang perjalanan pulang. Dengan harapan: ayooo, kamu bujuk-bujuk akyuu lagi, ya. *nagih dibujuk*. Sampai rumah pun masih tetap jutek. Mungkin dia juga kesal karena anak yang satu ini ribet banget baiknya. Kerennya dia adalah dia mau sabar sama kegengsian dan kejutekan saya dan akhirnya bikin luluh karena dia berhasil melewati seharian dengan kejutekan tuan putri *kasih medali*. Dan siapa sih yang bisa marah kalau tiba-tiba dibelai rambutnya sambil dibujuk gitu? *uhuy*
  • He supports all of my dreams. Tuan putri satu ini maunya banyak. Udah gitu idealis pula. Duluuu waktu baru lulus, saya ini pemilih banget sama kerjaan. Udah butuh uang, tapi milih-milih pula. *belagu* Saya ceritain semua mimpi saya: jadi psikolog, kerja di rumah sakit, punya praktek sendiri, sekolah lagi (kalau otak ini udah nggak mengeras lagi yang entah kapanlah itu). Dia mendukung semuanya. Dia bilang, saya harus melakukan apa yang saya suka. Dia sabar dengerin semua keluh kesah mengenai tuntutan hidup dan pacarnya kere. Ada waktunya, kita pacaran tuh ngirit banget. Malah malam mingguan cuma ngabisin 25 ribu rupiah aja. Ngobrol di rumah, makan di rumah, berangkat kencan nonton di Planet Hollywood, muter-muter keliling Jakarta, dan pulang. Duluuu dengan gaya pacaran kayak gini saya bisa bete seharian. Apaan tuh nggak romatis banget. Sekarang, saya merasa tetap happy. Yah, sering juga sih dia yang bayarin kalau pacarnya yang pengangguran ini lagi kere berat akibat uang jajan menipis. Hihihi. Intinya, dia nggak pernah membatasi mimpi saya. He’s happy for anything I am.
  • Dia nggak pernah mengatur-atur saya. Oh, saya paling benci diatur. Semakin saya diatur, semakin saya memberontak. Saya mau pake baju apa pun (asal pantas), saya mau potong rambut pendek, mau ngecat rambut, mau nggak bisa malam mingguan karena urusan keluarga, mau main sama teman-teman dibanding ketemu dia; dia nggak marah. Tapi karena dia nggak marah itu, saya jadi nggak pernah berani macam-macam dan berusaha berlaku yang sepantasnya. Wong udah dikasih kepercayaan pastinya harus dijaga, dong.
  • Dia berusaha dekat dengan teman-teman saya. Dia nggak pernah bete kalau ketemu teman saya. Dia bahkan berusaha ngobrol dengan mereka. Itu bikin saya senang karena dia berusaha untuk mengenal dunia saya melalui teman-teman saya.
  • Dia membuat saya lebih berusaha lagi. Siapa yang maksa saya buat nyetir mobil? Dia. Siapa yang berusaha saya untuk keluar dari comfort zone? Dia. Siapa yang bikin saya lebih pede lagi? Dia. Gara-gara ajaran dia, saya jadi cewek yang nggak gampang nangis lagi. Kalau berantem sama dia pun, saya jarang nangis. Ini bikin saya jadi lebih tough.
  • He makes me happy. Above of all reasons. This is the ultimate one. He makes me happy. Berada di samping dia membuat saya senang. Mau cuma makan di pinggir jalan, mau cuma naik motor, mau nonton di tempat mahal, mau kehujanan, mau nonton TV di rumah, dia selalu membuat saya senang. Seperti yang udah saya bilang sebelumnya, saya ini penuntut. Sama pacar yang lama, kami jarang makan di emperan. Saya dia, semua tempat makan dari yang busuk sampe yang bagus banget udah dicoba. Saya nggak mengeluh.

Masih ada banyak lagi, tapi kalau semuanya ditulis mendingan saya bikin buku aja kali, ya *ehm*. Nah, mungkin pertanyaan yang harusnya kalian tanyakan kalau bertemu saya dan dia adalah:

“Are you happy?”

Kalau saya bilang iya, seharusnya kalian langsung tutup mulut. Karena kalau kalian tanya alasannya: there are many many many of them. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s