Selamat, Ya. Aku (Ga) Bahagia, kok!

30 Hari Menulis Surat Cinta

18 Januari 2011

Dear kamu,

Hei, gimana kabar kamu? Pasti kamu bilang kamu lagi sangat bahagia. Oh, tentu saja. Dengan segala hal yang kamu hadapi dan punya sekarang, kamu pasti bahagia.

Aku bilang aku senang lihat kamu bahagia. Aku ucapin selamat bertubi-tubi ke kamu, lalu cipika-cipiki. Kamu tahu, untuk sampai ke tahap aku bisa bilang selamat dan senyum di depan kamu itu nggak gampang.

Awalnya, susah sekali untuk bahagia untuk kamu. Egois mungkin. Tapi kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain, jadi jangan bilang kamu tahu rasanya. Aku ingat malam itu kamu memberitahukan kabar bahagia di telepon. Kamu mungkin terlalu bahagia sampai kamu nggak tahu kalau saat itu suaraku bergetar dan hanya mengucap sepatah dua patah kata. Aku mencari padanan kata yang tepat untuk perasaan ini. Iya, aku iri sama aku.

Malam itu aku menangis. Benci rasanya harus iri sama kamu dan nggak bisa bahagia bersamamu. I wasn’t a good friend, was I? Aku menghindar dari segala macam pembicaraan tentangmu. Tentu saja kamu mungkin nggak tahu. Butuh waktu sebulan cuma untuk merasa bahagia bersamamu.

Saat aku merasa sudah bisa berbahagia untuk kamu, lalu kamu mulai mengeluh ini-itu. Kamu tahu rasanya aku pengen kasih cabe ke mulut kamu biar kamu diam. Kamu udah dapat banyak tahu, nggak. Kamu punya yang nggak aku punya jadi berhenti mengeluh.

Ada saat-saatnya aku mau unfollow kamu di twitter. Update-mu itu sungguh menyiksa, tahu! Rasanya setiap kamu tulis sesuatu aku mau skip aja. Jahat? Mungkin.

Untuk merasa lebih baik, aku harus berkali-kali bilang bahwa aku baik-baik saja dan bahagia. Kadang-kadang berhasil, tapi lebih banyak nggak, sih. I had to deal with myself and it was so hard. Aku selalu membayangkan bahwa ketika orang-orang melihat kita, mereka akan lebih fokus ke kamu. Mereka cuma akan lihat ke aku dan memandang dengan wajah kasihan. Iya, kasihan, ya aku. Cuma jadi bayang-bayangmu saja.

Jadi setelah kamu baca surat ini, aku pengen kamu nggak banyak mengeluh lagi. Dan tolong, dong, kalau ada yang punya Doraemon, percepat waktu saja supaya aku nggak tersiksa seperti ini.

Maaf, ya. Ini sebenarnya bukan salah kamu. Aku yang salah karena aku nggak bahagia buat kamu. Aku sayang kamu. Tapi aku lagi nggak sayang diriku sendiri. Tenang saja, aku lagi berusaha memperbaikinya, kok. Dan kalaupun tidak, aku pasti akan tetap tersenyum buatmu nanti. Aku nggak akan merusak kebahagianmu dengan rengutanku.

Sampai ketemu di hari bahagiamu, ya.

Sahabatmu.

Aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s